
Gara dan Ben pun mulai menaiki tangga, meninggalkan Divine sendiri di sana. mereka sudah menaiki 10 anak tangga. tangga ini berkelok-kelok dikelilingi pepohonan yang rimbun, dan semak belukar yang berbunga warna warni, sangat indah dan sangat tinggi.
keindahan jalan ini mampu mengalihkan rasa jenuh dan lelah hingga orang-orang tak sadar sudah menaiki tangga yang sangat banyak dan sampai di Desa Murni.
Sambil berjalan Ben memikirkan Divine.
"Gara apakah aman, Divine sendiri disana?" ucap Ben lalu melihat ke arah Gara.
Namun Gara sudah tidak ada di tempatnya, Ben melihat sekitar juga tidak menemukan Gara.
Ben pun kembali menuruni anak tangga, setelah melewati pohon rimbun ia melihat Gara berada di tangga pertama berjalan menuju ke arah Divine yang sedang duduk di kap mobil mereka.
"puffttt, sudah tidak bisa jauh-jauh rupanya." Ben menahan tawanya, ia hanya memperhatikan Gara dan Divine dari kejauhan.
"kenapa kembali, ada yang tertinggal?" tanya Divine saat Gara menghampirinya.
"Ya, dirimu!” jawab Gara.
__ADS_1
tanpa menunggu lama, Gara memasang punggung nya di depan Divine.
"Kenapa duduk di depan ku?"
"hey ini bukan duduk, ayo naik, aku akan menggendong mu."
Perdebatan kecil terjadi diantara mereka, Divine meminta Gara pergi, dirinya akan menunggu disini dan akan baik-baik saja dan Gara tetap pada keinginannya untuk menggendong Divine dan ikut bersamanya.
"Sudah! kalau aku bilang naik ya naik!"
Divine pun tak bisa berkata lagi, dia selalu kalah jika Gara mengeluarkan nada perintah khas nya.
"akkhh." Divine terkejut karena tangan Gara yang di letakkannya di sana.
Gara meletakkan tangan nya di bokong Divine untuk membantu menahan berat Divine.
"Hei memang seperti ini, kau tidak perlu berteriak."
__ADS_1
Divine pun diam dan mulai terbiasa dengan tangan Gara yang berada di sana.
Gara menegapkan tubuh dengan Divine yang ada di punggungnya, kini mulai berjalan menuju tangga, menaiki anak tangga satu per satu.
Ben yang melihat Gara menggendong Divine terkejut, "dia benar-benar menggendong Divine padahal dia tahu sejauh apa tangga ini dan itu wanita yang dia katakan cewek manja yang tidak akan dia cintai."
"Huh, kau harus tarik kata-kata mu Gara." ucap Ben saat Gara sudah sampai di depannya.
"ayo jalan, hentikan ocehan mu!" jawab Gara sambil terus berjalan.
"Biar aku membantumu Gara, jika kamu tidak kuat." Ben nyengir meledek Gara.
”Jauhkan tangan mu!" Gara meminta Ben menjauhkan tangan nya dari pundak Divine.
Mereka terus berjalan, Namun di pertengahan jalan Gara mulai kelelahan, keringat bermunculan di wajahnya. Divine merasa iba saat melihatnya, ia mengusap keringat yang ada di wajah Gara menggunakan tangan nya dengan lembut lalu menempelkan pipinya di di pipi Gara dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Gara.
Jantung Gara berdebar kencang, bersamaan dengan tenaga yang tiba-tiba datang entah darimana, ia merasa kekuatan kembali ke sedia kala, senyum manis tersungging dari wajah tampannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Ben mengambil banyak foto mereka berdua, Bagi Ben adegan tadi terlihat sangat manis dan itu adalah momen langka yang bisa ia lihat.
"akan ku perlihatkan nanti pada Gara, pasti dia akan sangat senang." ucap Ben dalam hati.