Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Calon Pacar


__ADS_3

Disaat bersamaan Divine sedang melayani Gara. Memanjakan


suami.


“Sayang apa kau ingin lagi?” Divine sudah hendak mengambil


selapis roti.


“Tidak sayang, kau sudah memberiku empat roti.” Jawab Gara


yang baru saja menelan roti terakhirnya.


Divine beralih mengambil segelas susu dan ia sodorkan kedepan Gara.


“Siang nanti aku akan menjemput ayah dan ibu bersama supir.


Ben akan menemani mu nanti.” Tutur Gara setelah menegak segelas susunya hingga


tandas.


“Ben lagi Ben lagi, apa kau tidak takut jika aku dan Ben


saling jatuh cinta karena terlalu sering bersama. Celoteh Divine samar tidak


terdengar.


 


Gara melirik kearah Divine sambil membersihkan bibirnya


dengan tisu.


“Kamu bilang apa barusan?” Gara mendekatkan wajahnya


menatap ke dalam mata Divine.


Divine bukannya menjawab ia malah mengecup bibir Gara yang


berjarak hanya 5cm dari bibirnya. Saat Divine ingin berdiri meninggalkan Gara.


Gara dengan cepat menarik Divine duduk dan menghujamkan bibirnya di bibir Divine


hingga tidak bisa terlepas.


Divine meronta ingin melepaskan diri namun Gara menyudutkan


dirinya pada sandaran kursi hingga tidak dapat terbebas.


“Gara nanti ada yang lihat.” Divine berbicara dengan bibir


yang masih melekat pada bibir Gara.


Gara pun melepaskan ciumannya. Ia berdiri dan menggondol


Divine ke kamar utama di lantai bawah.


“Sayang kau mau apa?” ujar Divine.


“Mengganti sprei.” Jawab Gara yang baru saja menjatuhkan


Divine di ranjang.


Entah apa maksud Gara dari kata-katanya itu. Author sih


ngerti. Reader juga ngerti kan.


Sementara Ben sedang mencoba mengakrabkan diri pada Indana


putri pak Ann. Ia telah mencoba mendapatkan nomor telpon Indana secara langsung


dengan memberikan ponselnya pada Indana.


“Bisa kamu tulis nomor telpon mu disini.” Ben menyodorkan


ponselnya ke depan Indana.


Sementara Indana melirik kearah ayahnya seolah sedang


meminta ijin pada sang ayah. Ia cukup sadar diri. Ia hanyalah anak kepala pelayan. Pak Ann yang mengenal Ben adalah pria baik tentu saja mengangguk mengijinkan anak semata wayangnya itu berteman dengan Ben.


Indana mengambil ponsel Ben dengan tangan kanannya.


“Ini.” Indana mengembalikan ponsel Ben. Ia belum sempat mengetikkan nomornya.


 

__ADS_1


Raut wajah Ben berubah. Ia tahu bahwa indana belummengetikkan nomornya.


Dengah berat hati Ben meraih kembali ponselnya. Baru saja ingin memulai hubungan langsung bertemu kejadian seperti ini. Gumam  Ben dalam hatinya. Sakit.


Setelah memegang ponselnya dengan mata yang masih tertuju pada wajah indana ia terkejut karena getaran yang berasal dari ponsel di tangannya.


Syasa Calling….


Baby Gio anteng bermain telinga Ben. Tanpa sadar ia kembali, meninggalkan Pak Ann dan Indana saat menerima telpon.


 


Gara dan Divine berhambur. Baru saja hendak memulai agar


bisa mengganti sprei tiba-tiba Ben mengetuk pintu bersamaan dengan suara tangis


Baby Gio. Divine hanya bisa menggulung dirinya dengan selimut karena Gara sudah


menanggalkan pakaian atasnya.


“Cepat sayang Gio menangis.” ucap Divine mendorong Gara dari hadapannya.


Dengan wajah depresi Gara bangun beranjak membuka pintu.


“Oh, apa aku mengganggu mu?” tutur Ben melihat deru nafas


Gara yang tidak stabil.


“ Menurut mu? ” jawab Gara. Jelas  sekali ia merasa tak senang.


“Kalau begitu akan ku bawa kembali, kau lanjutkan saja.”


Gara mengambil baby Gio yang wajahnya sudah tampak


mengantuk.


“Ini sudah kali keberapa kau terus mengganggu ku?” Gemes


Gara pada baby Gio. Menggigit pelan hidung baby Gio. “Liat saja aku akan


membuatmu tidur di kamar mu. Sekarang kau sudah cukup besar.”


Wajah baby Gio terlihat mewek. Menahan tangis.


 


baru saja selesai memakai pakaiannya kembali.


“Ututu sayang anak ibu, kamu mengantuk ya nak?”  ucap divine mendaratkan ciumannya di bibir


Baby Gio.


Gara terbelalak. Mulutnya terbuka sedikit.


“Kenapa masih saja menciumnya seperti itu, dia itu seorang


lelaki!” ketus Gara.


Divine memutar kedua bola matanya keatas lalu berjalan meninggalkan Gara.


Haruskah ibu mencium mu diam-diam sayang. Divine


menghela napas.


Gara mengikuti Divine dari belakang.


“Kenapa mengikuti kami?” tanya divine saat hendak menutup pintu kamar.


 


“Aku akan menunggu, ini sudah terlanjur bangun sayang. Rasanya sangat tidak enak.” Jujur Gara yang sudah sangat ingin melusuhkan tempat tidur.


Divine tersenyum. Ia tau Gara tak akan berhasil menunggu.


Baby Gio yang sejak kecil kuat menyu*u semakin besar ia semakin lama menyu*u


hingga dapat tertidur.


Divine pun menyu*ui baby Gio dengan posisi berbaring dan


Gara menunggunya di samping Divine.


Tiktok…tiktok…. Waktu terus berlalu namun baby Gio belum


juga tertidur hingga Ben memanggil sudah waktunya menjemput kakek dan nenek

__ADS_1


baby Gio.


“Tuh Ben sudah manggil. Cepat jemput mertua ku.” Sudah lama


sekali tak bertemu ibu.” Cakap Divine.


Gara menghela napas. Ia kalah. Ia tidak berhasil bersaing


dengan baby Gio. Gara pun bangun dan meraih bukit divine terlebih dulu sebelum


beranjak.


Pintu tertutup.


Masih sempat saja remas-remas Tuan Gara ini.


“Ehh.” Divine terkejut baru saja Gara menutup pintu. Gio


melepas akar kehidupannya. Ia bangun dan membuka pintu namun Gara sudah tidak


terlihat.


Ibu Divine pasti juga pengen nih. Tapi malu kalau ngaku.


Biasalah cewe bakal jaim kalau di bagian ini. Maunya seolah diinginkan. Padahal


juga menginginkan.


Di sisi lain. Di belahan bumi yang lain.


Jerry sedang berjuang merawat putri kecilnya dengan susu


formula. Membawa anaknya itu kemana pun ia pergi. Termasuk menjalankan


perusahaan yang berhasil menjadi miliknya.


“Dia menjadi sangat mirip dengan ibunya.” ucap Jandi


melihat bayi kecil di dalam box di samping meja kerja Jerry.


“Ya kau benar sekali Jandi. Lihatlah matanya yg berwarna


coklat, sungguh mengingatkan ku pada ibunya.” Jawab Jerry tanpa menunjukkan


raut wajah apapun.


Jandi hanya tersenyum tak membalas kalimat Jerry lagi.


Matanya menujukkan kesedihan.


Sampai kapan, aku harus menunggu diriku hadir


di hatimu. Gumamnya dalam hati. Menatap lekat pria tampan


nan imut yang tidak melihat kearahnya.


“Baiklah pak, aku pergi dulu. Jaga dirimu.” Ucap jandi


sebelum meninggalkan ruangan.


Lamunannya terhenti ketika mendengar suara bel pintu rumahnya. Jandi  sedang terbayang hal yang baru saja terjadi kemarin.


Jandi beringsut membuka pintu rumahnya.


Jerry tesenyum melihat kearah jandi saat jandi muncul dari balik pintu.


“Bapak pasti ada maunya?” ucap Jandi yang sudah sangat hapal melihat wajah Jerry dengan


senyum yang langsung di pamirkan ke depannya.


 


“Aku titip anakku sebentar ya.” Ucap jerry yang langsung pada intinya dengan memamirkan


hampir seluruh gigi rapinya.


Jandi mengangguk. “Siap pak.”


Putri kecil yang baru berumur 1 bulan itu pun dibawa masuk oleh Jandi kedalam rumahnya.


“Entah dari siapa pak Jerry menyembunyikan keberadaan anak ini.” ucap Jandi sambil


mendorong stroller.


“Ahh tidak, apa dia sudah memiliki gadis lain.” Tambah Jandi. “Tidak akan ku biarkan.”

__ADS_1


Jandi melihat baby kecil yang sedang tertidur.


“Haruskah aku meracuni mu sayang?” Jandi tesenyum dengan sejuta makna.


__ADS_2