
Disaat bersamaan Divine sedang melayani Gara. Memanjakan
suami.
“Sayang apa kau ingin lagi?” Divine sudah hendak mengambil
selapis roti.
“Tidak sayang, kau sudah memberiku empat roti.” Jawab Gara
yang baru saja menelan roti terakhirnya.
Divine beralih mengambil segelas susu dan ia sodorkan kedepan Gara.
“Siang nanti aku akan menjemput ayah dan ibu bersama supir.
Ben akan menemani mu nanti.” Tutur Gara setelah menegak segelas susunya hingga
tandas.
“Ben lagi Ben lagi, apa kau tidak takut jika aku dan Ben
saling jatuh cinta karena terlalu sering bersama. Celoteh Divine samar tidak
terdengar.
Gara melirik kearah Divine sambil membersihkan bibirnya
dengan tisu.
“Kamu bilang apa barusan?” Gara mendekatkan wajahnya
menatap ke dalam mata Divine.
Divine bukannya menjawab ia malah mengecup bibir Gara yang
berjarak hanya 5cm dari bibirnya. Saat Divine ingin berdiri meninggalkan Gara.
Gara dengan cepat menarik Divine duduk dan menghujamkan bibirnya di bibir Divine
hingga tidak bisa terlepas.
Divine meronta ingin melepaskan diri namun Gara menyudutkan
dirinya pada sandaran kursi hingga tidak dapat terbebas.
“Gara nanti ada yang lihat.” Divine berbicara dengan bibir
yang masih melekat pada bibir Gara.
Gara pun melepaskan ciumannya. Ia berdiri dan menggondol
Divine ke kamar utama di lantai bawah.
“Sayang kau mau apa?” ujar Divine.
“Mengganti sprei.” Jawab Gara yang baru saja menjatuhkan
Divine di ranjang.
Entah apa maksud Gara dari kata-katanya itu. Author sih
ngerti. Reader juga ngerti kan.
Sementara Ben sedang mencoba mengakrabkan diri pada Indana
putri pak Ann. Ia telah mencoba mendapatkan nomor telpon Indana secara langsung
dengan memberikan ponselnya pada Indana.
“Bisa kamu tulis nomor telpon mu disini.” Ben menyodorkan
ponselnya ke depan Indana.
Sementara Indana melirik kearah ayahnya seolah sedang
meminta ijin pada sang ayah. Ia cukup sadar diri. Ia hanyalah anak kepala pelayan. Pak Ann yang mengenal Ben adalah pria baik tentu saja mengangguk mengijinkan anak semata wayangnya itu berteman dengan Ben.
Indana mengambil ponsel Ben dengan tangan kanannya.
“Ini.” Indana mengembalikan ponsel Ben. Ia belum sempat mengetikkan nomornya.
__ADS_1
Raut wajah Ben berubah. Ia tahu bahwa indana belummengetikkan nomornya.
Dengah berat hati Ben meraih kembali ponselnya. Baru saja ingin memulai hubungan langsung bertemu kejadian seperti ini. Gumam Ben dalam hatinya. Sakit.
Setelah memegang ponselnya dengan mata yang masih tertuju pada wajah indana ia terkejut karena getaran yang berasal dari ponsel di tangannya.
Syasa Calling….
Baby Gio anteng bermain telinga Ben. Tanpa sadar ia kembali, meninggalkan Pak Ann dan Indana saat menerima telpon.
Gara dan Divine berhambur. Baru saja hendak memulai agar
bisa mengganti sprei tiba-tiba Ben mengetuk pintu bersamaan dengan suara tangis
Baby Gio. Divine hanya bisa menggulung dirinya dengan selimut karena Gara sudah
menanggalkan pakaian atasnya.
“Cepat sayang Gio menangis.” ucap Divine mendorong Gara dari hadapannya.
Dengan wajah depresi Gara bangun beranjak membuka pintu.
“Oh, apa aku mengganggu mu?” tutur Ben melihat deru nafas
Gara yang tidak stabil.
“ Menurut mu? ” jawab Gara. Jelas sekali ia merasa tak senang.
“Kalau begitu akan ku bawa kembali, kau lanjutkan saja.”
Gara mengambil baby Gio yang wajahnya sudah tampak
mengantuk.
“Ini sudah kali keberapa kau terus mengganggu ku?” Gemes
Gara pada baby Gio. Menggigit pelan hidung baby Gio. “Liat saja aku akan
membuatmu tidur di kamar mu. Sekarang kau sudah cukup besar.”
Wajah baby Gio terlihat mewek. Menahan tangis.
baru saja selesai memakai pakaiannya kembali.
“Ututu sayang anak ibu, kamu mengantuk ya nak?” ucap divine mendaratkan ciumannya di bibir
Baby Gio.
Gara terbelalak. Mulutnya terbuka sedikit.
“Kenapa masih saja menciumnya seperti itu, dia itu seorang
lelaki!” ketus Gara.
Divine memutar kedua bola matanya keatas lalu berjalan meninggalkan Gara.
Haruskah ibu mencium mu diam-diam sayang. Divine
menghela napas.
Gara mengikuti Divine dari belakang.
“Kenapa mengikuti kami?” tanya divine saat hendak menutup pintu kamar.
“Aku akan menunggu, ini sudah terlanjur bangun sayang. Rasanya sangat tidak enak.” Jujur Gara yang sudah sangat ingin melusuhkan tempat tidur.
Divine tersenyum. Ia tau Gara tak akan berhasil menunggu.
Baby Gio yang sejak kecil kuat menyu*u semakin besar ia semakin lama menyu*u
hingga dapat tertidur.
Divine pun menyu*ui baby Gio dengan posisi berbaring dan
Gara menunggunya di samping Divine.
Tiktok…tiktok…. Waktu terus berlalu namun baby Gio belum
juga tertidur hingga Ben memanggil sudah waktunya menjemput kakek dan nenek
__ADS_1
baby Gio.
“Tuh Ben sudah manggil. Cepat jemput mertua ku.” Sudah lama
sekali tak bertemu ibu.” Cakap Divine.
Gara menghela napas. Ia kalah. Ia tidak berhasil bersaing
dengan baby Gio. Gara pun bangun dan meraih bukit divine terlebih dulu sebelum
beranjak.
Pintu tertutup.
Masih sempat saja remas-remas Tuan Gara ini.
“Ehh.” Divine terkejut baru saja Gara menutup pintu. Gio
melepas akar kehidupannya. Ia bangun dan membuka pintu namun Gara sudah tidak
terlihat.
Ibu Divine pasti juga pengen nih. Tapi malu kalau ngaku.
Biasalah cewe bakal jaim kalau di bagian ini. Maunya seolah diinginkan. Padahal
juga menginginkan.
Di sisi lain. Di belahan bumi yang lain.
Jerry sedang berjuang merawat putri kecilnya dengan susu
formula. Membawa anaknya itu kemana pun ia pergi. Termasuk menjalankan
perusahaan yang berhasil menjadi miliknya.
“Dia menjadi sangat mirip dengan ibunya.” ucap Jandi
melihat bayi kecil di dalam box di samping meja kerja Jerry.
“Ya kau benar sekali Jandi. Lihatlah matanya yg berwarna
coklat, sungguh mengingatkan ku pada ibunya.” Jawab Jerry tanpa menunjukkan
raut wajah apapun.
Jandi hanya tersenyum tak membalas kalimat Jerry lagi.
Matanya menujukkan kesedihan.
Sampai kapan, aku harus menunggu diriku hadir
di hatimu. Gumamnya dalam hati. Menatap lekat pria tampan
nan imut yang tidak melihat kearahnya.
“Baiklah pak, aku pergi dulu. Jaga dirimu.” Ucap jandi
sebelum meninggalkan ruangan.
Lamunannya terhenti ketika mendengar suara bel pintu rumahnya. Jandi sedang terbayang hal yang baru saja terjadi kemarin.
Jandi beringsut membuka pintu rumahnya.
Jerry tesenyum melihat kearah jandi saat jandi muncul dari balik pintu.
“Bapak pasti ada maunya?” ucap Jandi yang sudah sangat hapal melihat wajah Jerry dengan
senyum yang langsung di pamirkan ke depannya.
“Aku titip anakku sebentar ya.” Ucap jerry yang langsung pada intinya dengan memamirkan
hampir seluruh gigi rapinya.
Jandi mengangguk. “Siap pak.”
Putri kecil yang baru berumur 1 bulan itu pun dibawa masuk oleh Jandi kedalam rumahnya.
“Entah dari siapa pak Jerry menyembunyikan keberadaan anak ini.” ucap Jandi sambil
mendorong stroller.
“Ahh tidak, apa dia sudah memiliki gadis lain.” Tambah Jandi. “Tidak akan ku biarkan.”
__ADS_1
Jandi melihat baby kecil yang sedang tertidur.
“Haruskah aku meracuni mu sayang?” Jandi tesenyum dengan sejuta makna.