
Pintu terbuka. Gara dan dua orang yang sudah tidak muda lagi berdiri di samping mobil yang baru saja terparkir di halaman luas rumah besar berwarna putih. Gara tersenyum kearah ibu dan ayahnya yang baru pertama kali ke rumahnya.
“Apa kau hanya ingin tersenyum disitu, kami sudah tidak sabar ingin melihat cucu!” tutur ibu Gara kesal karena Gara bukannya dengan cepat membawanya masuk ke dalam rumah. Malah memamerkan senyumnya terus menerus. Padahal gara hanya tersenyum sebentar.
Gara pun langsung mengajak orangtuanya masuk. Semua pelayan sudah berbaris rapi menyambut kedatangan ayah dan ibu mertua Nona mereka.
“Ibu,bagaimana kabar mu dan juga ayah?” lafal Divine setelah memeluk ibu dan ayah mertuanya. Mencium kedua tangan orang tua dari suaminya.
“Kami baik, dimana cucu ku?” jawab Ibu Gara yang berpenampilan sosial tinggi.
Deg…
Jantung Divine seakan tersentak. Mertuanya sama sekali tidak menunjukkan perhatiannya kepada Divine. Sangat jauh berbeda dari sifat Ibu mertuanya selama ini.
“Ibu apa kau tidak menanyakan keadaan menantu mu terlebih dahulu?” potong Gara.
“Oh. Maaf Divine, Ibu terlalu tidak sabar ingin melihat cucu Ibu.” Ibu Gara menunjukkan senyum di bibirnya. Memegang tangan Divine lalu melepasnya dan terus masuk ke dalam mencari keberadaaan baby Gio.
“Gara dimana cucu Ibu?” tanya Ibu sambil terus melangkahkan kakinya.
Sementara Gara memberikan genggaman tangan di tangan Divine ia tahu istrinya tidak baik-baik saja menemukan perlakuan Ibu Gara yang seperti ini.
“Ayah, kenapa diam saja. Ayo masuk.” ajak Divine pada pria tinggi sedikit gemuk dan dengan dahi yang kecil. Divine melepaskan tangannya dari tangan Gara. Menenggelamkan perasaanya.
Ayah mertua Divine merapikan rambutnya yang pendek bergemlombang sebelum melebarkan bibirnya kearah Divine. Ia berjalan masuk bersama menantunya.
Sementara Gara memberi tahu pak Ann, untuk membawa koper ayah dan ibunya ke kamar utama di lantai bawah.
Divine melihat ibu mertuanya yang sudah memandangi baby Gio. Berdiri di depan box ayun dengan rambut pendek yang di blow berwarna coklat.
“Ayah bisa beristirahat sejenak, Divi akan menyiapkan makan siang.” ucap Divine pamit untuk meninggalkan ayah mertuanya.
Makan siang pun berlalu tanpa kehadiran Ben yang beberapa saat sebelum ayah ibu Gara tiba ia terlebih dulu meninggalkan rumah.
“Benar kan pa, rumah istri Gara sangat besar. Dia sangat kaya.” tutur ibu mertua yang bernama Soraya itu. Sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa di kamar mereka.
“Iya kau benar, bukankah hidup ini sudah tercapai melihat Gara bahagia?” sahut pria berkulit sawo matang yang memiliki nama lengkap Bravijna.
Soraya yang merupakan nenek dari Gio diam saja, dia hanya memperlihatkan setengah senyum di bibirnya.
“Sudahlah, hentikan apa yang kau pikirkan.” tambah ayah Brav. Berdiri memegang pundak istrinya.
Namun Ibu Soraya tidak bergeming. Ia tidak menanggapi perkataan suaminya itu. Diam.
__ADS_1
Di kamar Divine, Gara baru saja kembali dari menerima telpon di balkon.
“Dimana Ben?” tanya Gara.
Divine yang sedang menyusui baby Gio menjawab sesuai yang ia tahu.
“Oh apa tentang pekerjaan?” selidik Gara mendengar nama sekertarisnya dari Divine.
Divine hanya menaikkan bahunya. Ia tak tahu dan tidak tertarik untuk membahasnya.
Gara yang melihat Divine tak bersemangat berhenti menanyakan hal itu lagi.
“Apa kau memikirkan sikap ibu?” tanya Gara duduk di tepi ranjang dekat kaki Divine.
“Tidak, aku hanya lelah?” jawab Divine menyembunyikan sesuatu yang sedang ia rasakan. Mungkin ia hanya sedang terlalu sensitif. Begitu pikirnya.
“Tidak perlu di pikirkan, mungkin ia benar sungguh tidak sabar untuk melihat Gio. Kau pun seperti itu. Selalu mengutamakan baby Gio daripada diriku.”
Gara mulai lagi. Padahal ini sesuatu yang berbeda.
Ibu sangat baik sebelumnya bahkan datang menjenguk ku saat itu walau tanpa di temani oleh ayah. Batin Divine. Tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkan perubahan sikap ibu mertuanya.
“Gio tangan mu!” selentik Gara melihat tangan baby Gio meraba akar kehidupannya. Sumber makanan. Yang merupakan buah kesukaan Gara.
Tuan Gara semua bayi seperti itu. Senang bermain apa yang bisa ia sentuh. Bahkan ketika ia tumbuh lebih besar tidak menutup kemungkinan ia akan memainkan tangan kecilnya di bibir sang ibu. Menyus** adalah sesuatu yang sulit namun sangat mampu mengikat dan mempererat hubungan antara mereka.
Divine yang pikirannya sedang melayang pun terkejut karena teguran ayah pada anaknya. “Gara !” hardik Divine.
Mata Gara membesar melihat kearah Divine mendengar bentakan dari istrinya.
“Dia itu masih kecil, dia tidak mengerti apapun!” jelas Divine sembari membelai rambut hitam baby Gio.
Gara membuka mulutnya hendak menjawab.
“Bisa kau tanyakan pada ibu mu, apa dulu dirimu saat bayi apa tidak seperti ini?” Tambah Divine tidak memberi kesempatan pada Gara untuk menjawab.
Gara menganga. Namun belum lagi suara keluar dari mulutnya. Divine kembali mencercanya.
“Jika kau tidak pernah melakukannya. Kau boleh menegur semua yang di lakukan oleh baby Gio.” ucap Divine lagi yang tiba-tiba tersulut emosi.
Gara pun terhenti. Stop membuka mulut. Ia tidak ingin menjawab lagi. Menimbang-nimbang. Jika terlihat mulutnya sedikit saja terbuka. Divine pasti kembali lebih dulu mengeluarkan alunan indah miliknya.
Akhirnya Gara pun keluar dari kamar. Meninggalkan Divine sendiri.
__ADS_1
“Inilah arti diam itu emas yang sesungguhnya”. Gumam Gara.
Jangan kan kamu bersuara Gara, kamu napas aja bisa salah kalau suasana hati wanita sedang tidak baik.
“Maafin ayah ya sayang, kamu harus sudah terbiasa dengan sikap ayah mu yang sedikit aneh, oh bukan sedikit tapi aneh banget.” bisik Divine pada putranya.
Baby Gio tersenyum dan melepas sumber asupannya. Ia memiringkan tubuhnya lagi. Sudah beberapa hari ini baby Gio terus bergerak memiringkan badannya namun terus terhenti dengan kendala pada kepalanya terakhir kali.
Divine memegangi tubuh baby Gio. Menghentikan pergerakan Gio. Seketika Gio marah dan menangis.
“Kamu sedang apa sayang, sudah beberapa hari kamu seperti ini, dan menangis saat ibu menghentikan mu.” Divine berhenti memegang baby Gio. Sontak baby Gio pun berhenti menangis. Selalu seperti itu. Baby Gio akan diam ketika ia dibiarkan.
“Apa kamu sudah belajar untuk tengkurap Gio?” bingung Divine menatap lekat kepada Gio. Ia hanya tahu bayi biasanya akan dapat tengkurap di usia 4 bulan. Tapi Divine tidak tahu seperti apa prosesnya.
“Tungu-tunggu.” Divine bangun hendak mengambil ponselnya di atas nakas. Hendak mencari tau lewat internet.
Baby Gio berbalik lalu mengangkat kepalanya dan berhasil tengkurap tepat saat Divine sedang melihat kearahnya dan menyaksikan moment yang membahagiakan itu. Baby Gio berhasil tengkurap untuk pertama kalinya.
Bulir air mata tak sengaja jatuh dari telaganya. Tanpa seucap kata keluar dari mulut Divine. Namun air matanya sudah menjelaskan segalanya.
Gio kelelahan ia membaringkan kepalanya menyamping menghadap wanita yang telah berjuang membuat Gio ada di dunia ini yang sedang berdiri terkesima menatapnya.
Karena melihat tingkah imut baby Gio yang seakan menggodanya lewat pandangan mata dan posisi yang seakan berkata “ Ibu aku disini menunggu pelukan mu, aku sudah bekerja keras.” Divine berlari menerkam baby Gio mengangkatnya ke udara melewati tinggi dirinya.
“Ahh Gio sayang ku.” Divine memeluk erat baby Gio dan menciumnya terus menerus.
“Dimana ayah mu, dia harus lihat ini.” ucap Divine pada baby Gio, hilang sudah rasa kesalnya pada Gara.
Divine meraih ponselnya menekan angka 1 untuk panggilan cepat ke nomor Gara.
“Sayang cepat kesini.” cakap Divine setelah terdengar suara Gara di balik telpon.
Pintu terbuka. Gara muncul dari balik pintu yang ternyata saat Divine menelponnya ia sudah berada di tangga setelah membeli pembalut dan coklat.
Entah apa hubungan 2 barang yang berada di tangan Gara.
“Sayang lihat ini.” Divine telah mengembalikan Gio kembali ke tempat tidur. Agar Gara dapat melihat apa yang baru saja Gio perlihatkan padanya.
Baby Gio hanya diam. Tidak senyum sedikitpun. “Gio…Gio…?” panggil Divine beberapa kali. “Ayo sayang perlihatkan pada ayah mu.”
Namun baby Gio tidak bergeming. Ia diam saja menatap langit-langit. Bola matanya bergerak kesana-kemari.
Gara yang melihat ekspresi Gio seakan ingin mencubitnya. Bisa-bisanya bertingkah seperti itu pada Gara.
__ADS_1
Divine mendekat kearah Gio dan menatap wajah putranya itu. Seketika Baby Gio langsung tersenyum dan meraba wajah Divine.
Melihat itu. Gara juga mendekat di sisi Gio yang lain. Tapi seketika baby Gio kembali diam menunjukkan wajah datarnya. Ia tidak tertarik pada Gara. Membuang wajahnya masuk ke dalam dada Divine.