
Divine sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Gara. Ben pun melajukan mobil yang mereka tumpangi, mereka akan menempuh jarak selama 2 jam.
" Divi kupikir Gara tidak mengajak mu?" ucap Ben.
namun Divi hanya diam dan menyugingkan senyum manis di bibirnya. begitu pun juga dengan Gara.
tidak ada suara selama perjalanan hanya ada suara mesin mobil itu saja.
" aku jadi merasa bosan dan sekarang Aku mengantuk."
tanpa menunggu waktu lama Divi sudah tertidur dan bersandar di bahu Gara. Gara yang merasakan sandaran Divi saat Divi tertidur langsung memegangi kepala Divi agar tetap bersandar di bahunya.
"perhatikan jalan mu Ben, Aku tidak mau Divi sampai terbangun biarkan dia tertidur sampai nanti kita sudah sampai di tujuan !" ucap Gara.
tak terasa waktu pun berlalu Mereka pun sampai di tujuan dengan Divi yang masih bersandar di bahu Gara.
Gara mencium kening Divi untuk membangunkannya.
sontak Divi pun terbangun dan langsung duduk tegak seraya menyentuh kening dimana Gara menciumnya. " apa kita sudah sampai maaf aku tertidur ?”
lagi-lagi di Gara hanya diam dan keluar dari mobilnya, Divi pun mengikuti Gara untuk turun dari mobil, Divi mengelilingi daerah sekitar dengan pandangannya ini sangat berbeda dengan tempat di mana dia tinggal banyak pepohonan yang tinggi, rimbun dan di depan mereka ada gunung beserta ribuan anak tangga menuju ke atas.
__ADS_1
" Wow indah sekali tempat ini, kita sedang ada di mana dan apa itu ada banyak tangga menuju ke atas ?" tanya Divi.
" Diam saja, kamu akan tau nanti !"
" Setidaknya beritahu aku nama tempat ini." Bawel Divi mulai muncul karena keingintahuannya.
Gara tidak menjawab pertanyaan Divi dan melangkah menghampiri Ben.
" Ayo! tetap berada di sampingku jangan jauh-jauh dari pandanganku! " ucap Gara.
"Terakhir kali kita ke sini itu sepertinya tahun lalu Gara, Oh iya apa kamu ingat adat di desa ini ? " ucap Ben.
" Adat apa? Aku tidak pernah dengar ada adat di desa ini."
"Aku hanya sebentar di sini menghabiskan 5 tahun bersama Nenek Yan, dan itu aku hanya belajar cara bertahan hidup."
"Benar saja kalau kamu tidak tahu, Ayo kita ke sana dan lihat apa yang mereka katakan."
Ben mengajak Gara untuk segera berjalan masuk ke Desa yg mereka tuju di atas puncak gunung ini.
mereka pun berjalan hendak menaiki Tangga dengan Divi di samping Gara.
__ADS_1
Terlihat ada beberapa orang dewasa menghampiri mereka saat mereka baru ingin menaiki tangga.
"Maaf tuan boleh saya bertanya sebentar, Tuan Siapakah gadis yang bersama tuan ini?" ucap salah satu pria dewasa yang menghampiri mereka.
"Ini istri saya Pak." ucap Gara.
"Maaf Tuan, jika Tuan membawa istri Tuan ke sini untuk memasuki Desa hanya bisa melewati tangga ini dan tangga ini sangat suci bagi kami, kami tidak mengizinkan wanita menginjak tangga ini setiap pria yang mau membawa istri atau kekasihnya harus menggendong wanita itu," belum selesai pak penjaga itu berbicara Divine langsung memutusnya.
" Apa ! tapi itu tidak mungkin pak, ada banyak sekali anak tangga ini dan ini sangat terjal."
"selain karena tempat ini Suci mereka yang menaiki tangga ini bersama juga akan dikaruniai kebahagiaan yang tiada akhir." sambung pak penjaga itu.
" Ya nona, kamu bisa tinggal di sini saja jika tidak mau mengikuti adat Desa, kami harap Anda dapat mengerti dan mengahargai apa yang kami yakini." ucap Pria penjaga tangga yang lain.
Ben hanya diam memperhatikan Gara yang baru saja tahu peraturan ini, karena Ben sudah tahu adat yang belaku di desa ini, setiap kali datang kesini ia banyak berbicara dengan warga sekitar.
"Tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini, apa aku harus menggendongmu naik ke atas?"
Gara melihat anak tangga itu saja sudah lelah di tambah harus menggendong Divi.
"Tidak perlu suamiku, Aku akan menunggumu saja di sini, aku sudah cukup senang dengan pemandangan di sini, kau pergi saja temui nenek Yan!" ucap Divi dengan senyum manis nya.
__ADS_1
"padahal aku ingin sekali naik ke atas sana, tapi tidak mungkin aku memaksa Gara untuk menggendong ku."