
Amplop coklat yang di berikan oleh Jerry, Divine letakkan di meja Gara.
Divine belum melihat apa isi amplop itu, begitupun Gara yang melihat Divine membawa sebuah amplop juga tidak tertarik untuk membukanya.
Gara berdiri dari tempat duduknya menghampiri Divine yang kini berjalan ke arah meja rias di sudut ruang Presdir itu.
Gara memeluk Divine dari belakang, mereka berdiri tepat di depan cermin dari meja rias Divine.
"Sayang, apa pun yang terjadi tetaplah bersama ku." ucap Gara.
"Ya." Divine hanya menjawab ya pada Gara.
Sebelumnya Gara sudah pernah meminta Divine berjanji karena ia takut Divine meninggalkannya karena merasa Vely lebih baik untuk Gara.
Kali ini Gara meminta Divine berjanji untuk semua hal, baik itu karena kesalahan Divine atau kesalahannya.
"Jika kita sedang bertengkar, dirimu tetaplah di rumah, biar aku yang pergi." ucap Gara yang masih memeluk Divine melihat wajah Divine di dalam cermin.
Karena terakhir kali, Divine tampak baik di rumah, namun ia berakhir mabuk di kamar hotel.
Rumah adalah tempat yang sangat aman menurut Gara untuk istrinya itu.
"Suamiku, bagaimana jika kita tidak memiliki anak?" Divine berbalik ke arah Gara, suara lembut dari suaminya itu memberanikan Divine mempertanyakan hal yang selama ini ia takutkan jauh sebelum ia mengalami keguguran.
Drrrttt...
Ponsel Gara bergetar di dalam saku jasnya.
"Halo ibu." Gara berbicara di dalam telpon, ia menerima panggilan dari ibunya yang beberapa hari belum menelponnya.
"Kau ini, jika bukan ibu yang telpon, ibu tidak akan berbicara pada anak ibu sendiri." suara ibu Gara di balik telpon.
"Maaf Bu, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk." jawab Gara.
"Bagaimana kabar menantu ku, apa Divine masih mengalami mual muntah?"
Ibu Gara belum mengetahui semua hal yang terjadi.
Gara sedikit menjauh dari Divine, ia berjalan kembali ke meja kerjanya lalu membuka laci agar terlihat Gara tidak sengaja menjauhi Divine, seolah ia sedang ingin mengambil sesuatu di dalam laci.
"Sudah tidak Bu, aku sudah membawanya ke dokter, ia hanya masuk angin." jawab Gara dengan sangat pelan tak ingin Divine mendengarnya.
"Ah begitu, ibu pikir ia sedang hamil, kalian sudah hampir setahun menikah, cobalah konsultasi pada dokter." ucap ibu Gara yang sangat kecewa mendengar ucapan Gara.
"Ya Bu, bagaimana kabar mu Bu?" tanya Gara.
"Ibu baik, namun sangat kecewa mendengar kabar dari mu."
__ADS_1
"Sabar lah Bu, hari itu akan tiba." jawab Gara.
Divine memperhatikan Gara yang sedang menerima telpon dari ibunya, ia kembali duduk di depan meja Gara.
Pertanyaan yang sangat penting buat Divine pun tidak sempat terjawab.
"Sayang." panggil Gara melihat istrinya itu termenung.
"Ah, kau sudah selesai." jawab Divine terkejut dengan suara Gara.
Gara hanya mengangguk, ia berpikir Divine pasti memikirkan mertuanya yang selalu bertanya tentang kehamilan.
"Sayang, ini hidup kita, kau tidak perlu merisaukan orang lain." ucap Gara menggenggam tangan Divine di atas meja.
"Ingatlah, apa pun yang terjadi tetap lah bersama ku." sambung Gara.
Divine pun tersenyum.
"Aku mencintai mu Divine."
Divine tersenyum sangat senang mendengar ucapan Gara.
"Juga." Jawab Divine.
"Hei, apa itu?" Gara memprotes ucapan Divine yang hanya bilang juga seraya menyentil dahi Divine.
Ben pun muncul dari balik pintu.
"Apa aku mengganggu kalian?" ucap Ben.
Tidak mungkin aku mengganggu, keberadaan ku saja sering kali seolah tak ada. Ben bergumam dalam hatinya dan berjalan ke depan Gara.
"Ada apa?" tanya Gara langsung pada intinya.
Heh dasar manusia robot satu ini, dia benar-benar sudah tidak membutuhkan ku.
"Ada rapat," Ben belum menyelesaikan kalimatnya namun Gara sudah memutus ucapannya.
"Apa harus aku, kau dan Jerry saja." ucap Gara yang terus ingin berduaan saja dengan istrinya itu.
"Baiklah." Ben berbalik untuk meninggalkan Gara.
"Tunggu Ben, apa aku boleh ikut." tanya Divine.
"Oh tentu saja Div." jawab Ben seraya mempersilahkan Divine berjalan terlebih dahulu.
Ben dan Divine pun meninggalkan Gara sendiri.
__ADS_1
Gara memukul udara karena kesal, ia menolak ikut rapat hanya karena ingin bersama Divine, tapi Divine malah ikut rapat dan meninggalkannya.
Gara mondar-mandir di dalam ruangannya menunggu Divine selesai mengikuti rapat sembari berpikir apa yang harus ia lakukan agar rapat cepat berakhir, ia tak suka karena akan ada banyak mata yang melihat ke arah Divine karena cantiknya, Gara tidak ingin kecantikan istrinya itu di nikmati oleh orang lain.
Gara memandangi tombol alarm kebakaran yang berada di dinding. Ia menimbang-nimbang haruskah ia melakukan itu, membuat semua orang yang berada di gedung ini berlarian ketakutan, akankah Divine marah padanya.
Akhirnya Gara memilih tidak melakukannya, dan membuka laptop untuk kembali membuka CCTV untuk melihat Divine.
Terlihat rapat berjalan dengan baik Divine duduk dengan tenang mendengarkan semua yang di sampaikan.
Divine berniat hanya untuk ikut saja tanpa ikut campur keputusan yang akan di ambil namun saat mendengar beberapa ide yang masuk ia mengerti apa yang sedang di inginkan oleh Andava, saat semua diam menunggu Jerry berbicara, Divine mengacungkan tangannya, hingga semua mata tertuju padanya termasuk orang yang sedang melihatnya di CCTV.
Divine meminta ijin untuk berbicara terlebih dahulu sebelum ia menyampaikan pendapatnya terhadap ide-ide yang sudah di sampaikan sebelumnya.
Divine pun memberikan tanggapan atas ide-ide yang telah di sampaikan dan menambah beberapa ide serta bagaimana cari menjalankannya hingga hasil yang mungkin sangat pasti akan di dapatkan.
Semua peserta rapat terperangah termasuk Ben yang baru pertama kali melihat Divine berbicara perihal pekerjaan, tidak terkecuali Gara yang sedang melihat Divine lewat kamera CCTV yang juga takjub melihat istrinya itu.
Jantung Gara berdebar sangat kencang seolah sedang jatuh cinta, ia sungguh tidak mengira Divine memiliki kemampuan yang sangat tidak bisa di remehkan.
"Ternyata istriku bukan hanya pewaris, bahkan dia akan mampu mendapatkan apa pun yang ia inginkan walau tidak terlahir sebagai putri pemilik Andava Grup." ucap Gara.
Gara tersenyum, ia merasa sangat beruntung menjadi pria yang di pilih untuk menjadi suami Divine.
Sombong sekali diriku, waktu itu menolak Divine. bahkan aku lah yang lebih pantas di tolak.
Tidak, tidak, aku seorang pria pekerja keras aku pantas berdiri di sampingnya.
Gara berbicara sendiri dengan dirinya.
"Suamiku." ucap Divine.
Gara tidak menyadari bahwa Divine dan Ben sudah berada di ruangannya, ia terlalu asik dengan pikirannya sendiri.
"Harusnya kau melihat Divine di ruang rapat." ucap Ben.
"Ada apa, apa dia membuat kau dan Jerry malu." ucap Gara, ia ingin mendengar jawaban dari Divine.
"Ya, kau juga harus menutup wajahmu jika keluar nanti." jawab Divine.
Jawaban Divine tidak di sangka oleh Gara, sungguh Divine tidak ingin terlihat hebat.
Gara berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Divine yang masih berdiri, Gara memeluk Divine dengan sangat erat lalu mengecup bibir Divine dan memandangi wajah Divine penuh cinta dan kekaguman yang luar biasa.
Yah lagi. gumam Ben dalam hatinya.
Lagi-lagi Ben seolah tak terlihat. Ben pun mengendap untuk segera keluar dari ruangan bernuansa pastel pink itu.
__ADS_1