Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 82


__ADS_3

Namun Divine menggelengkan kepalanya dengan manja. membuat Gara tidak bisa mengelak lagi.


“Ben kemari kau?” ucap Gara sambil melihat ke belakang dan Gara terkejut melihat Ben sudah tidak ada di sana.


“Pak Ann,” Gara berteriak tidak begitu keras.


Dengan cepat Pak Ann tiba dari arah luar.


“Di mana Ben? apa Pak Ann melihatnya.” ucap Gara.


“Oh Tuan Ben, sudah menunggu di mobil Tuan.”


“Baik Pak, terima kasih saya akan menemuinya.”


Gara pun mengajak Divine untuk duduk terlebih dahulu di sofa yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.


“Tolong temani istriku Pak Ann, terima kasih.” ucap Gara sebelum pergi menghampiri Ben.


“Nona, jika ada yang Nona inginkan, jangan ragu untuk mengatakannya, menurut orang tua dulu, nanti anaknya bisa berliur kalau saat di kandung ada keinginan yang tidak kesampaian.” ucap Pak Ann karena mendengar ucapan Gara saat di meja makan.


“Iya Pak, saya akan mengatakannya,” jawab Divine seadanya, karena ia belum merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Bahkan ia tak yakin dirinya tengah hamil.


Tak lama kemudian tampak Gara dan Ben berjalan menghampiri Divine.


“Ada apa dengan mu Ben?” tanya Divine melihat Ben berjalan dengan terpincang-pincang.


“Dia tak mungkin menggendong mu sayang, membawa tubuhnya sendiri kakinya tak mampu.” ucap Gara.


“Ha ya sayang, dan aku juga hanya bercanda pada mu, aku tidak menginginkan apa pun,” ucap Divine terpaksa menyudahi ini lebih cepat.


“Kau sungguh bercanda,”


“Ya, karena kamu terlalu berlebihan,”


Ben hanya mengumpat di dalam hatinya saat mendengar ucapan Divine.


Kaki ku pun jadi korban karena candaan mu nona ku yang cantik, aku lebih memilih ini daripada terancam tidak mendapatkan gaji ku hingga Junior Gara lahir.


Divine, Gara dan Ben berjalan keluar menuju mobil yang akan mereka gunakan ke Rumah sakit untuk pemeriksaan Divine.


Mungkinkah Ben juga bercanda. gumam Gara dalam hatinya.


Flashback beberapa menit lalu.


Saat Gara menghampiri Ben. Ben berkata pada Gara bahwa kakinya kesemutan, dan meminta Gara untuk menendang kaki Ben agar kesemutannya hilang, Gara pun mengikuti permintaan Ben dan menendang kaki Ben dengan cukup kuat, Ben pun kesakitan tidak dapat berjalan dengan benar. Melihat Ben seperti itu Gara tidak jadi mengatakan tujuannya menghampiri Ben, ia langsung mengajak Ben masuk untuk memperlihatkan kondisi Ben yang tidak mungkin menggendong Divine.

__ADS_1


Di perjalanan Gara memastikan Divine duduk dengan nyaman, ia selalu memperhatikan istrinya itu yang santai seperti biasa.


“Ben..,” ucap Gara.


“Hmm..” sahut Ben.


“Apa kau bercanda soal kaki mu yang kesemutan?”


“Menurutmu?” Ben mengembalikan pertanyaan Gara.


“Dan tidak mungkin kamu akan membiarkan aku menggendong Divine begitu saja, tanpa ada hal buruk yang akan menimpa ku nanti,” tambah Ben.


“Siapa bilang, saat menghampiri mu aku sudah memikirkannya, akan membiarkan kamu menggendong Divine selama 1 detik.” ucap Gara.


“Apa 1 detik?” Ben dan Divine berbicara bersamaan.


“Hmm..” Gara memastikan yang ia ucapkan itu benar.


Ben dan Divine hanya terdiam hingga mereka sampai di rumah sakit. Akhirnya kemenangan tetap milik Tuan Gara si posesif.


“Kenapa rumah sakit ini terlihat lebih sepi?” tanya Divine saat turun dari mobil yang mereka gunakan.


“Hehe aku menutup, semua layanan, kecuali IGD sampai urusan kita selesai disini.” jawab Ben sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Apa ini mau mu sayang?” Divine beralih pada suaminya.


“Kalau begitu, ayo cepat selesaikan urusan kita dan segera pulang, dan aku tidak akan mau datang lagi ke rumah sakit.” ucap Divine sambil berjalan cepat ke dalam koridor rumah sakit.


Ben dan Gara pun bertatapan saling menyalahkan lewat mata mereka.


“Sayang hati-hati,” ucap Gara.


“Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi,” tambah Gara.


Mereka pun sampai di depan ruangan dokter spesialis kandungan.


Seorang suster menghampiri mereka.


“Selamat datang Nona, silahkan masuk,” ucap suster itu seraya membuka pintu ruang dokter kandungan.


Gara dan Divine pun masuk ke dalam ruangan dan di ikuti suster itu lalu menutup kembali pintu ruangan.


Gara pun memaparkan kepada Dokter wanita yang ada di depannya, apa saja yang Divine alami dengan detail, dari mual muntah hingga porsi makan Divine yang jadi lebih banyak.


Dokter itu pun menanyakan, kapan terakhir kali Divine menstruasi.

__ADS_1


Divine menjawab bahwa ia tidak mengingatnya, karena ia tidak mendapatkan mens dengan teratur.


Dokter itu pun langsung mengerti, dan mengajak Divine melakukan USG.


Ben duduk di luar dan baru saja menerima panggilan masuk di ponselnya.


“Hei, dimana saja kau? lama tidak terlihat?”


“Aku sedang menghindari dari kalian.”


“Wah, apa salah kami?”


“Hah bukan salah kalian, tapi sepertinya aku yang salah,”


“Baiklah ceritakan itu nanti, apa kau tau? mungkin sebentar lagi kita akan memiliki ponakan yang lucu.”


“Apa Divi sedang hamil?” tanyanya dengan sangat antusias.


“Hmm, sepertinya begitu.”


“Aku akan menemui kalian nanti.”


Panggilan pun berakhir bertepatan dengan keluarnya Gara dan Divine dari ruang Dokter. Wajah mereka tak nampak bahagia. Ben jadi ragu untuk bertanya.


Mereka berjalan keluar tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Divine dan Gara.


Ben yang celamitan pun ikut dalam suasana yang tidak beraura kebahagiaan itu, dirinya ikut terdiam melihat dua orang kesayangannya itu sedang dalam kondisi tidak baik.


Sesampainya di mobil, Gara membukakan pintu untuk istrinya masuk terlebih dahulu.


Kini Gara,Divine dan Ben pun kembali, Ben menjalankan mobil dengan sangat lambat, waktu dan suasana seperti turut ikut dalam keheningan mereka.


“Sayang,” ucap Divine kepada Gara yang menempelkan kepalanya di kepala Divine.


“Ya sayang,” Gara mencium kepala Divine.


“Apa kau kecewa?” tanya Divine.


“Ya aku kecewa dengan hasilnya, tapi aku yakin kau sedang hamil sayang.” ucap Gara menatap mata Divine ia sangat yakin atas perasaannya.


Hasil USG, kantong rahim Divine kosong, dan itu terlihat sangat jelas. Di tambah menstruasi Divine yang tidak teratur. Divine juga melakukan tespack, namun hasilnya pun negatif. Dokter wanita itu mengatakan dengan bijak, bahwa Divine belum hamil, Gara dan Divine bisa kembali memeriksakan kandungan setelah 2 Minggu dari sekarang untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan juga menawarkan untuk melakukan program kehamilan jika Divine dan Gara sudah sangat menginginkan kehadiran seorang anak di tengah mereka.


“Bagaimana bisa kamu yakin, test dan USG itu sudah menjawabnya?” suara Divine lembut dan pelan.


Gara hanya diam sambil memeluk istrinya itu.

__ADS_1


Walau Divine menunjukkan sikap santai dan tampak mengabaikan nasehat-nasehat yang datang padanya di depan semua orang terutama suaminya itu saat menebak ia sedang hamil.


Divine merasa sangat kecewa dengan hasil yang ia dapat, di balik sikap cueknya, sebenarnya dari lubuk hati yang terdalam, ia pun berharap dirinya benar-benar sedang mengandung, membayangkan bayi mungil sedang bersembunyi di balik perutnya.


__ADS_2