
Sampai di rumah sakit. Gara langsung di bawa ke IGD dan mendapatkan pertolongan pertama lalu melakukan beragam pemeriksaan. Berdasarkan informasi riwayat sakit yang pernah di derita oleh Gara. Divine pun mendapat pertanyaan seperti apa gaya hidup Gara selama ini, karena ia pun baru saja bertemu Gara lagi membuatnya tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menunjukkan bibir bergetar di depan suster dan dokter yang menangani suaminya.
“Tuan Gara memiliki tiga ginjal dalam tubuhnya, namun semuanya sudah mengalami penurunan fungsi termasuk ginjal terbarunya.” Kalimat yang keluar dari dokter di depan wajah Divine. Setelah beberapa jam pemeriksaan.
Sontak mata Divine tak dapat berkedip. Tertegun mendengar hal yang dulu hanya mendengar sebuah cerita kini terjadi di depan matanya. Menggenggam tangan Gio erat. Tak tahan menahan dirinya yang sudah hampir jatuh.
“Apa dia mengkonsumsi banyak air, bagaimana urinenya, apa dia sering merasakan sakit perut atau daerah pinggangnya, apa dia sering tidak sadarkan diri seperti ini?” semua pertanyaan dokter lontarkan kepada Divine yang tidak tahu menahu bagaimana hidup Gara selama ini.
Divine roboh di lantai. Merasa ia telah gagal menjadi seseorang istri. Andai saja ia lebih kuat, tidak perduli bagaimana pun situasinya. Suami yang merupakan ayah dari anaknya tidak mungkin harus mengalami hal seperti ini lagi.
Divine memeluk Gio. Satu-satunya orang yang bisa ia peluk saat ini. Tumpuannya berdiri tengah melawan sakit di dalam sana.
“Nyonya, mari pasien akan di bawa ke ruangan.” seorang suster memanggil Divine. Gara di bawa ke ruang perawatan. Divine dan Gio berjalan di samping kiri dan kanan ranjang yang terbaring Gara di atasnya.
Sampai di ruang VVIP. Beberapa saat kemudian mata Gara terbuka. Wajah Divine tepat di hadapannya. Gara membuka mulutnya. “Apa kau benar ingin berpi…” berbicara lirih. Ia tak sadar sedang berada dimana, ia hanya teringat ucapan Divine pada Gio terakhir kali.
“Berhenti, jangan ucapkan.” memeluk pria yang sedang merasa lelah dan lemah di depannya.
Kini aku rela membagi mu dengan wanita lain daripada harus melihat mu seperti ini. Bahkan ini sudah terlambat. Harusnya aku rela sejak dulu. Tidak. harusnya aku tetap diam di rumah. Merawat mu, berpura-pura bodoh tentang semua yang aku dengar. Mengerti dirimu. Lagi-lagi semua karena kesalahan ku. Kenapa harus aku yang hidup selama ini. Divine merutuki dirinya.
“Apa kau sungguh ingin berpisah, jawab aku Divi?” tanya Gara lagi. Ia benar-benar hanya terfokus pada wajah istrinya.
“Lihat dirimu sekarang, dimana kau sekarang, apa pantas untuk bertanya hal seperti itu, berpikirlah untuk hidup lebih lama!” Divine menekan ucapannya agar Gara tersadar.
Gara mengitari ruang rawat dengan pandangan matanya. “Kenapa aku disini, Gio kemari nak.” Sadar ia berada dimana dan melihat Gio sedang berdiri melihat ke arahnya.
“Ayo ajak Mama pulang ke rumah mu yang sebenarnya.” pinta Gara pada putranya. Hidup bahagia bersama orang-orang yang ia cintai hanya itu keinginan Gara.
“Iya Pa, tapi Papa harus sembuh dulu.” Jawab Gio lalu memeluk ayah yang rona wajahnya tidak segar seperti biasanya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi, kenapa kalian terlihat sangat buruk, sedang aku merasa baik saja kecuali tentang ucapan mu pada Gio itu.” seloroh Gara.
Jerry dan Ben tiba seketika masuk ke dalam ruang rawat Gara.
“Apa kau tidak bisa membuat ku tenang sebentar Gara, tadi pagi kau kejutkan aku, sore ini tiba-tiba kau berada di rumah sakit. ini benar-benar kehidupan sesungguhnya karena begitu penuh kejutan.” celoteh Ben di depan wajah Gara.
“Apakah separah itu, hingga kau menangis untuk pria brengsek ini.” tutur Jerry melihat wajah Divine yang sembab.
“Papa butuh ginjal baru.” celetuk Gio. Membuat tiga pria dewasa di ruangan itu seketika menganga dengan mata terbuka lebar.
Hening…. berlarian dalam benak mereka masing-masing.
“Apa sudah separah itu?” Ben memecah hening.
“Hmm, entah bagaimana dia hidup selama 5 tahun ini.” sahut Divine.
“Gio kemarilah nak, tidur bersama papa di sini, papa ingin bersama mu lebih lama.”
“Tidak perlu terlalu menurut Gio. Papa akan tetap bersama kita.” jelas Divine untuk menguatkan dirinya sendiri walau mengiris hati demi menyenangkan telinganya.
Ben teringat beberapa kali Gara pernah mengeluh pinggangnya sakit sepulang bekerja. Namun ia hanya berpikir itu hanya kelelahan. Ben menoleh kearah lain dan teringat saat melihat makanan yang berbuih Gara mengatakan seperti air kencingnya saja. Namun Ben hanya menganggap itu hanyalah lelucon Gara. Ben mengalihkan pandangannya menuju Gara. “Kenapa kau diam saja, dan sekarang sudah seperti ini.”
“Apa! Bahkan aku tidak pernah memikirkan diri ku.” tutur Gara. Kini berbicara bak orang sehat.
“Sayang pelan-pelan saja bicaranya, simpan tenaga mu.” nasehat Divine. Mendengar Gara berbicara seakan ia sedang dalam kondisi baik.
“Ahh ini menyenangkan, Jika aku tahu akan seperti ini. Aku akan sakit lebih cepat.” Senang karena Divine memperhatikannya. Berbicara dengan nada pelan melihat Gio yang tertidur di bawah keteknya. Menutupi tubuh Gio dengan selimut miliknya.
“Kau akan terus menjalani cuci darah selama belum mendapatkan pendonor ginjal.” cakap Divine.
__ADS_1
“Ya, tidak perlu khawatirkan, aku sudah pernah melewatinya.”
“Jangan pikirkan seperti apa maksud mu, bahkan 15 tahun lalu kau hampir mati.” Emosi Divine rasanya terus naik. Gara membuatnya terus-terusan merasa kesal. Padahal Divine juga sedang melawan gejolak dalam dirinya. Tak tahu malu rasanya jika ia datang kepada vely memohon untuk menyelamatkan suaminya yang artinya adalah membunuh Vely secara langsung. Hal yang tidak mungkin di tempuh.
Ingin mendonorkan ginjalnya sendiri pun tidak bisa dari segi golongan darah saja sudah berbeda.
“Apa di antara kalian ada yang bergolongan darah O negatif?” tanya Divine.
Ben dan Jerry menjawab tidak secara bersamaan.
“Kalian tampak tidak ingin menolong ku walaupun kalian memiliki darah yang sama mendengar jawaban kalian begitu cepat.” Ujar Gara.
Jerry diam saja. Bukan tidak mau, Namun ia sudah tahu golongan darah Gara karena itu bisa menjawab cepat.
“Apa waktu di lahirkan kau tidak meminta golongan darah yang mudah di jumpai dan mudah menerima donor?” celetuk Ben. Gara yang mendengarnya rasa ingin melempar vas bunga ke kepala ben. Apa iya seorang bayi sudah bisa memilih dan meminta.
“Kalau begitu tolong buat iklan Ben. Jangan sebutkan imbalan. Aku tidak ingin seseorang menjual ginjalnya hanya demi uang.
Dokter masuk menyapa Gara yang tampak baik. Sekaligus menyampaikan informasi yang Divine sudah ketahui. Divine menundukkan kepala saat dokter itu pamit keluar.
"Divi, apa pendapat mu jika sebagian saham ada di tangan orang lain?" Gara memegang tangan Divine yang sejak tadi di sampingnya.
"Apa maksud mu, apa yang terjadi?" bingung Divine.
Arrgh...arghh...arghh... Gara memegang perutnya. Rasa sakit dari bagian belakang pinggang tembus sampai ke perutnya. Tiba-tiba merasa kesakitan.
"Kami juga akan membantu namun, cepatlah nyonya." pinta pihak rumah sakit untuk segera menyediakan ginjal juga untuk Gara sebelum semuanya tidak bisa di lakukan lagi.
Divine memukuli wajahnya menyesali semua yang telah ia lakukan.
__ADS_1
Aaarghhhh pekiknya dalam hati geram dengan kebodohannya.