
Seseorang sedang mengetuk pintu kamar Eza.
Divine melihat ke arah Eza seolah berkata apa dirinya sedang menunggu seseorang, namun Eza hanya menaikkan alis dengan sedikit melebarkan bibirnya, seakan meminta Divine yang membuka pintu.
Divine pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi membuka pintu.
"Begini kah cara mu?" Gara lah yang berada di depan pintu kamar Eza yang kini sedang memojokkan Divine ke dinding kamar itu.
"Apa ! aku tidak melakukan apa pun!" jawab Divine yang tak dapat berkutik di depan wajah Gara yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Hey Gar ! aku sudah memberi tahu mu bahwa Divi di sini?" ucap Eza mempertanyakan sikap Gara kepada Divine, seolah menuduh Divine melakukan hal yang buruk.
Beberapa saat yang lalu, Eza telah mengirim pesan pada Gara memberitahu bahwa Divine bersamanya, pikir Eza mungkin saja Gara sedang mengkhawatirkan istrinya itu.
"Tanpa kau beritahu pun, aku sudah tau!" ucap Gara tanpa melihat ke arah Eza.
Eza memilih diam, ia ingin pergi meninggalkan pasangan suami istri itu namun Gara menghentikannya.
"Bagaimana cara mu mengganti pakaiannya?" tanya Gara tanpa melihat ke arah Eza, namun sangat jelas pertanyaan itu di tujukan pada Eza.
Seketika Divine mendorong kuat tubuh Gara menjauh darinya.
"Lihat diri mu! pantaskah kah dirimu bertanya seperti itu!" ucap Divine keras dengan mata yang memerah.
Gara terkejut hingga mengecilkan matanya melihat wajah istrinya itu, ia sungguh tidak mengerti apa maksud perkataan Divine.
Divine pergi meninggalkan Gara dan Eza di sana.
Gara tidak mengikuti Divine, ia memikirkan apa arti perkataan Divine.
"Apa kau tau ?" tanya Gara pada Eza.
"Kau pikir saja sendiri !" Eza mendorong bahu Gara dengan tangan kirinya, lalu pergi mengejar Divine.
Setelah mengejar Divine hingga ke loby hotel, Eza tidak menemukan Divine.
"Kemana kau Div, jangan sampai masuk ke kamar orang lain lagi." ucap Eza yang setiap pertemuannya dengan Divine secara tidak sengaja, selalu saja Divine masuk ke kamarnya dengan tiba-tiba.
Jika takdir ku adalah diri mu, seharusnya aku bertemu dirimu terlebih dahulu. gumam Eza seraya berjalan ke luar memperhatikan mobil-mobil yang meninggalkan hotel ini.
Gara masih berada di kamar Eza, berdiri menatap dinding dimana Divine tadi berdiri.
__ADS_1
Apa aku melewatkan sesuatu.
Gara mengingat semua hal yang terjadi sejak ia tidak pernah menampakkan diri di depan Divine.
Namun semuanya tidak ada yang berhubungan dengan pertanyaan yang Gara ucapkan.
Di ruang Jerry.
"Apa kau sedang bahagia Jer?" tanya Ben yang baru saja masuk dan menjumpai Jerry yang tengah bernyanyi.
"Apa suara ku terdengar?" tanya Jerry.
"Wah,itu artinya kau benar-benar sedang bernyanyi sejak tadi." jawab Ben.
"Hmm, aku baru tau suatu hal, dan itu membuat ku tak perlu khawatir lagi." jawab Jerry sambil berjoget-joget tipis karena merasa senang.
"Apa kau mendapatkan bonus? hentikan gerakan mu itu, jika orang lain melihat mu saat ini, kau akan kehilangan wibawa mu." jawab Ben.
"Karena itu sekarang aku di ruangan ku, bukan di tengah umum, kau saja kenapa tiba-tiba masuk?" jawab Jerry kembali duduk di kursinya, kesal dengan Ben.
"Apa kau sudah tau sesuatu tentang Gara dan juga Divine?" tanya Ben.
Jerry dan Ben pun melacak keberadaan Gara dan Divine. Semesta seolah sedang mendukung mereka saat melihat keberadaan 2 orang yang ia cari berada di satu lokasi tempat yang sama walaupun mereka sedang tidak bersama.
Divine baru saja keluar dari restoran hotel ia belum memikirkan akan kemana ia hanya berjalan keluar.
"Maaf Nona, ada sesuatu yang membuat anda tidak bisa menggunakan jalan ini." ucap sebuah penjaga yang tampak sedang mengawasi di depan pintu keluar hotel.
Divine pun mengangguk dan mengambil jalan lain, ia menemukan jalan turunan yang lumayan tinggi.
"Apa aku harus melepas sepatu ku?” ucap Divine melihat sepatu yang ia kenakan adalah sepatu hak tinggi.
"Kenapa kau bodoh? Bagaimana kalau Divi jatuh?" tanya Jerry pada Ben yang sedang melihat Divine melalui CCTV hotel yang ia hack.
"Tidak akan,Kau lihat saja." jawab Ben yang juga ikut memperhatikan Divine di layar laptop Jerry.
Sementara Divine sedang mencoba berjalan pelan menuruni jalan turunan itu.
"Aaaaaaaa..........." Divine berteriak jalannya menjadi sangat cepat bahkan seperti berlari karena Divine tidak dapat menghentikan kakinya. Sepatu hak tinggi Divine tidak bisa menahan berat tubuh Divine di jalan menurun itu.
Divine terus berteriak sepanjang jalan menurun itu, hingga akhirnya tampak Gara berada di depannya.
__ADS_1
"Minggir......" Divine menggerakkan tangannya meminta Gara menjauh dari sisi jalannya.
Namun Gara tidak berpindah ia tetap berdiri di tempatnya tepat di sisi arah Divine.
Divine masih meminta Gara menjauh, pikirnya mereka akan jatuh bersama jika Divine menabrak Gara dengan kecepatan saat ini seperti sebuah bola yang sedang menggelinding di jalan menurun.
Deppp... suara benturan tubuh Divine dengan tubuh Gara. Gara menangkap Divine dan menahan tubuh Divine dengan badannya yang besar membuat Divine berhenti tepat ke dalam pelukan Gara.
Divine dan Gara saling bertatapan sejenak.
"Terimakasih." ucap Divine sambil melepaskan pelukan Gara. Sebenarnya ia ingin mengomel panjang lebar, kenapa menangkapnya, bagaimana jika Gara ikut terjatuh?, namun Divine tidak mengucapkannya.
Gara menggandeng tangan Divine, menuruni sedikit sisa jalan menurun itu.
Di sisi lain.
"Apa! bagaimana akhirnya?" tanya Jerry pada Ben, ia tidak lagi melihat Gara dan Divine di layar monitornya. Tempat Gara berdiri tidak terekam CCTV, hingga Jerry dan Ben tidak melihat adegan Gara menangkap Divine dengan tubuh kuat Gara.
"Itu mereka, Gara menggandeng tangan Divine." ucap Ben ketika melihat Gara dan Divine kembali terekam CCTV.
"Apa yang terjadi sebelumnya?" tanya Jerry penasaran.
"Mana aku tau, sepertinya Gara berdiri di tempat yang tepat tidak terkena CCTV." jawab Ben.
Di depan Hotel.
"Sayang, kita harus bicara." ucap Gara.
Divine diam saja, Gara pun menarik Divine berjalan kembali masuk ke hotel.
Divine celingukan sambil menaiki tangga melihat di depan pintu utama tidak ada apapun dan mencari seseorang yang tadi bicara padanya juga sudah tidak nampak.
"Apa tadi ada sesuatu di sini?" tanya Divine, yang akhirnya bertanya pada Gara.
"Entah, aku tidak melihatnya." jawab Gara karena ia pun tidak melewatinya.
"Ada apa?" sambung Gara sesaat setelah memasuki lift.
"Tidak." ucap Divine, ia masih sangat berat berbicara pada Gara.
Jika bisa rasanya ia ingin menolak, namun bagaimana pun sebuah masalah harus di hadapi bukan terus menghindarinya.
__ADS_1