
Divine perlahan bangun dari tempat tidur, ia yakin saat ini sedang tidak bermimpi, apa yang Divine lihat tadi malam seketika terlintas di kepalanya hingga ia tak ingin berbicara pada Gara.
Namun Gara menarik Divine kembali ke dalam pelukannya, rupanya Gara sudah bangun hanya saja ia tak ingin bangun dari tempat tidurnya.
Divine diam saja tak mengucapkan sepatah kata pun, tanpa ragu Divine melepaskan tangan Gara dari tubuhnya.
Aku memang salah, tapi aku tidak berkhianat.
''Ada apa, kau tidak suka aku di sini?'' ucap Gara.
Divine tetap diam, ia tidak tertarik untuk berbicara dengan Gara.
Divine telah mengakui kesalahannya, hinga ia mabuk pun, yang ia ucapkan hanyalah kesalahannya dan kebodohannya namun ia sungguh tak menyangka secepat itu Gara mengkhianatinya.
''Bukankah harusnya kau berkata sesuatu padaku?'' tambah Gara lagi, hanya untuk memastikan bahwa Divine sadar akan kesalahannya.
Gara tidak melihat Divine saat Divine melihatnya berada di kamar yang kemarin Shena tempati.
Karena Divine tidak ingin bicara apa yang membuatnya mengabaikan Gara seperti ini kesalahpahaman mungkin saja terjadi.
Gara yang melihat Divine bersikeras menjauh dan tak ingin bicara padanya pun melepaskan Divine pergi dari kamar itu, Gara hanya dapat menatap punggung istrinya itu saat keluar dari kamar.
Gara memegang kepalanya lalu memukul kuat ranjang yang ia tempati untuk meluapkan emosinya.
Divine yang pergi dari kamarnya dengan kepala yang masih sakit dan pandangan mata yang masih buram berjalan ke arah lift yang ternyata adalah pintu kamar hotel, Divine pun masuk saat pintu kamar itu terbuka.
''Wanita ini, suka sekali masuk ke kamar ku?" ucap Eza yang kebetulan baru saja membuka pintu ingin keluar dari kamarnya.
''Eza, oh ini kamar mu ya, aku pikir tadi lift, maaf menggangu mu za." ucap Divine saat melihat Eza dan sekeliling lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali keluar.
''Kamu duduk di sini dulu, akan ku pesankan sup agar tubuh mu merasa lebih baik." ucap Eza yang mencium Divine berbau alkohol.
Divine pun duduk di sofa di dalam kamar Eza dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Eza pun menunjukkan kamar mandinya, jikalau tiba-tiba Divine merasa ingin muntah.
Belum selesai Eza berbicara Divine sudah berjalan cepat ke arah kamar mandi karena perasaan ingin muntah, Divine pun muntah dan cukup lama berada di dalam kamar mandi, setelah muntah tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya.
''Aku tidak tau, bagaimana jadinya kalau saja aku tetap pergi, mungkin aku sudah mengotori mobil taxi.'' ucap Divine tersipu, saat keluar dari kamar mandi Eza.
''Ini sup pereda mabuk untuk mu sudah datang, makanlah dulu.'' ucap Eza meminta Divine kembali duduk dan makan sup yang sudah ia pesan untuknya.
__ADS_1
''Terimakasih Za, kamu baik sekali.'' ucap Divine tersenyum.
Eza hanya tersenyum lalu tersadar kalau wanita cantik di depannya ini baru saja mabuk dan sendirian saat Eza bertemu dengannya.
''Div, kenapa kamu di sini dan jelas sekali kalau kamu banyak minum hingga mabuk ?'' tanya Eza penasaran.
Divine tersenyum saja mendengar pertanyaan Eza sambil menikmati supnya.
''Kenapa kau tersenyum, apa aku menyuruh mu tersenyum?'' ucap Eza yang kesal melihat senyum manis Divine.
"Ahh supnya enak Za, makasih ya." ucap Divine setelah menghabiskan supnya. Tubuhnya benar-benar terasa sudah kembali ke sedia kala.
''Ini pakaian untuk mu, cepat ganti, pakaian mu sangat bau.'' ucap Eza seraya menyodorkan paper bag ke depan Divine. Ternyata Eza juga memesan pakaian untuk Divine yang di antar bersamaan dengan sup pereda mabuk.
''Aku jadi ngerepotin kamu Za, siang nanti aku traktir makan siang ya.'' ucap Divine mengambil paper bag di tangan Eza.
''Baiklah dengan senang hati Div, tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku?''
Divine pun pergi meninggalkan Eza, kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Sepertinya Eza belum tau perihal aku baru saja keguguran.
''Apa ada pengering rambut ? aku numpang mandi sekalian Za." ucap Divine seraya tertawa menutup mulutnya.
Sedangkan Eza sedang terpanah melihat kecantikan seorang wanita cantik,polos nan sexy yang baru saja selesai mandi, dengan rambut yang masih di bungkus dengan handuk.
''Apa kau tidak takut pada ku Div?', kau benar-benar tidak waspada?'' wajah Eza terlihat sangat memerah.
''Tidak, kita sudah pernah seperti ini, dan saat itu keadaan mu bahkan lebih buruk.''
Seketika Eza mengingat hal yang pernah terjadi dan membuat wajahnya merah keseluruhan.
''Hah, lupakan itu Div, sebaiknya kau jawab saja pertanyaan ku tadi."
''Oh ya, apa kau sedang tidak hamil, terakhir kali Ben mengatakan mungkin kau sedang hamil, tapi sepertinya tidak, jika kau hamil gak mungkin berani minum alkohol kan?" tambah Eza.
Ternyata Eza tau sedikit.
"Ya Za, sekarang aku tidak hamil."
__ADS_1
"Apa maksud mu dari kata sekarang Div?"
Divine hanya diam seolah tak ingin membicarakannya lagi yang mungkin akan membuat Divine menangis lagi.
Raut wajah Divine pun berubah. Sungguh terasa sangat berat melewati hari-hari ini.
"Tidak perlu ceritakan Div, jika kamu merasa tidak ingin membicarakannya lagi." Eza menepuk bahu Divine dan memberikan hairdryer kepada Divine.
Divine mengambil hairdryer di tangan Eza dan berjalan ke depan cermin untuk mengeringkan rambutnya.
Divine mengeringkan rambutnya sambil menceritakan apa yang sudah terjadi beberapa hari yang lalu kepada Eza yang berdiri di belakangnya.
Ternyata rasanya sudah tidak begitu sakit, mungkin sudah terlalu sering aku mengucapkannya, atau aku sungguh-sungguh sudah ikhlas dengan kejadian ini.
Entah berapa kali Divine terus mengatakannya saat ia mabuk membuatnya jadi merasa baik-baik saja saat mengucapkannya lagi dan ketika menceritakan pada Eza seperti ada keyakinan besar bahwa dirinya bisa memiliki anak lagi nanti dan perasaan itu tiba-tiba terasa tertanam sangat kuat.
Divine memandangi wajahnya di dalam cermin dengan penuh keyakinan lalu tersenyum.
''Sabar Div, kau akan punya anak lagi nanti." ucap Eza memegang kedua pundak Divine di depannya, sudah seperti seorang suami yang sedang menyakinkan istrinya.
''Lihat Za, kau sudah seperti suami ku saja." ucap Divine menunjuk ke dalam cermin.
''Haha maafkan aku Div, aku terbawa suasana." Eza mengangkat kedua tangannya dari pundak Divine.
''Tapi di mana Gara, kenapa kamu malah sendiri di sini?" tambah Eza.
"Hmm entah." jawab Divine.
''Apa Gara marah pada mu?" tanya Eza lagi.
''Bagaimana Za, apa pakaian ini dan rambut ku terlihat cocok?" Divine berdiri menanyakan penampilannya untuk mengalihkan pertanyaan Eza.
"Jangan kan seperti itu, dengan rambut yang masih di bungkus handuk pun sudah sangat cantik Div." jawab Eza dengan kejujurannya.
Eza yang sedikit playboy sangat tau bagaimana memperlakukan seorang wanita, ucapan dari mulutnya akan selalu manis.
"Hmm dasar playboy." ucap Divine mengejek Eza.
Entahlah, aku tidak ingin membicarakan tentang Gara.
__ADS_1
Divine hanya menjawab di dalam hatinya.