Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps.55


__ADS_3

Ben sedang menunggu di luar, sesuatu telah ia lakukan.


Sedangkan Gara masih dengan keangkuhannya, tidak mau memohon pada Divine, hanya memerintah walau hatinya berkata lain.


"Sayang, sebenarnya aku sudah,"


"Kau benar-benar ingin aku pergi?" jawab Gara karena ia lagi-lagi mendengar bantahan Divine.


C**taak... Listrik padam, tak ada suara dari Gara dan juga Divine, biasanya Gara sudah terkejut dan ketakutan. Gara sudah terkejut dan takut karena Divine masih saja membantahnya, walau ia sedang marah tetap saja dia begitu mencintai Divine tak ingin berada jauh dari Divine, bukan hanya tidak ingin, tapi juga tidak bisa jauh dari Divine. Hingga membuat Gara tak terkejut lagi dengan padamnya listrik.


"Kenapa tidak ada suara teriakan?" Gumam Ben yang berdiri depan kamar Divine. "Apa tidak kedengaran ya?, apa aku sudah gagal mengerjai Gara?" tambah Ben.


Di dalam kamar, Divine memeluk suaminya itu dari depan melingkarkan tangannya di pinggang Gara.


"Kamu tidak takut suamiku?" Divine bertanya karena Gara tidak berteriak dan mendekat pada Divine seperti sebelumnya.


"Hmmbb..." jawab Gara yang hanya diam tanpa membalas pelukan Divine, padahal kemarahannya sudah luntur mendengar panggilan sayang Divine padanya. Dari awal menikah dia memang seperti ini, apa sebenarnya dia yang menggoda Eza, Gara kembali memikirkan hal yang terjadi malam ini.


"Sebenarnya aku sudah makan, karena itu aku menolak, apa kau mau melihat ku menjadi gendut karena terlalu banyak makan?"


Ucapan lucu dari Divine bukannya membuat Gara tertawa, malah jika di gambarkan seolah ada api di atas kepala Gara.


Ben... beraninya kau mengerjai ku, awas kau nanti, Gara benar-benar kesal pada Ben.


"Siapa yang sedang menyebutku?" Ben terbatuk-batuk di dalam kamarnya, ia telah kembali ke kamar dengan rasa kecewa sesaat setelah listrik padam dan tidak mendengar suara teriakan Gara.


"Apa pelayan, mengantarkan makan malam kesini?"


"Tidak, tadi setelah mandi, aku langsung turun dan makan."


Benar saja dugaan ku, mana bisa ia tidak makan jika sudah waktunya makan. Gara ingin sekali mengetek dahi Divine, karena tingkahnya dalam suasana apapun tetap tidak bisa lupa dengan makan.


"Lepaskan pelukan mu, aku tidak akan tidur disini, aku masih marah pada mu."


"Apa kamu tidak takut berjalan sendiri, ini gelap lo?" Divine melepas pelukannya seraya membentuk tangannya bak hantu di depan Gara untuk menakuti Gara.


"Apa ini cara mu menahan ku untuk tidak pergi?"


"Tidak, pergi lah, kau juga sedang marah pada ku kan."

__ADS_1


Divine pun kembali ke tempat tidur, menarik selimut menutupi setengah badannya.


Kamar Divine tidak dalam keadaan begitu gelap, cahaya masuk dari luar, Divine selalu membuka tirai kamarnya saat pikirannya terasa penuh, pemandangan dari kamar Divine adalah yang terindah di kota ini.


Dia benar-benar tau cara menggodaku.


Gara selalu tergoda dengan Divine saat hanya berduaan, apalagi ditambah tingkah Divine yang menolaknya membuat Gara semakin tergoda pada istrinya itu.


"Aku tidak akan pergi, aku akan memeriksa mu terlebih dahulu." Gara sudah menghampiri Divine dan membuka selimut yang menutupi setengah tubuh Divine.


"Apa? aku baik-baik saja tidak perlu ada yang di periksa." Divine tidak mengerti maksud Gara, ia berpikir Gara akan memeriksa apakah ada luka di tubuhnya.


"Mana aku tau, jika belum memeriksanya sendiri?" jawab Gara seraya melepaskan pakaian tidur Divine satu per satu.


"Tunggu suamiku, kau juga tidak akan bisa melihatnya, disini gelap." jawab Divine seraya menghentikan tangan Gara yang terus membuka pakaiannya itu.


"Tapi aku bisa merasakannya." jawab Gara dan menjauhkan tangan istri yang menghentikannya tadi,terus membuka pakaian Divine hingga hanya tersisa pakaian dalam yang melekat pada Divine.


"Maksud mu, kau mau meraba seluruh tubuhku?" Divine menarik selimut lagi untuk menutupi tubuhnya, walau gelap ia tetap merasa malu, pakaiannya sudah dilemparkan entah kemana oleh Gara.


"Mungkin lebih dari itu." Gara pun menempelkan bibirnya di leher Divine.


"Diam saja, Suami mu ini akan memeriksa mu!"


Gara terus melakukan aksinya untuk memeriksa istrinya itu.


"Bagaimana bisa aku diam saja." Divine ingin meronta menolak cara periksa suaminya itu.


Namun yang tercerna oleh Gara, Divine ingin membalas setiap gerakannya.


"Tentu saja kau boleh membalas, ikuti irama tubuh mu." jawab Gara yang sudah menyelipkan tangannya ke belakang Divine untuk melepas penutup buah dada Divine yang sedari tadi ingin melompat keluar.


"Membalas apa?"


C**up... Gara menempelkan bibirnya pada bibir Divine, menghentikan bicara Divine. Belum selesai Divine berbicara, Gara sudah menyumpal bibirnya, kini Divine pun gagal menolak suaminya itu.


Divine paling tidak bisa melepas ciuman Gara, setiap kali Gara menciumnya, dunia Divine pasti akan berakhir, semuanya akan menjadi milik Gara, Suaminya itu adalah pencium yang hebat, membuat Divine merasa seolah seluruh darahnya memuncak, tubuhnya menjadi hangat, dan sangat bergairah.


Ada rasa kecewa saat Gara melepaskan ciumannya. Divine selalu ingin lagi dan lagi.

__ADS_1


Mereka terus melakukan apa yang sedang mereka lakukan, Divine telah ikut dalam permainan Gara.


"Sayang, apa kamu tau aku sangat suka dengan ciuman mu, kau benar-benar hebat dalam berciuman?"


"Maksud mu, aku tidak hebat di ranjang?" Gara dengan cepat menarik penutup daerah intim Divine dan memposisikan dirinya di atas tubuh Divine.


"Aargghh, bukan begitu maksud ku, itu lain hal." teriak Divine saat Gara melepas celana dalamnya, tubuhnya lagi-lagi menjadi santapan lezat mata Gara.


Tidak perlu lama, Gara meraba seluruh tubuh Divine dan menciuminya dengan lembut. Hingga terhenti di sebuah puncak gunung yang tinggi, ia mengitari puncak itu tanpa menyentuh titik coklat muda milik istrinya, Setelah lama ia memutar-mutar tangannya di kedua puncak tinggi, Gara pun ******* titik coklat muda dengan bibirnya.


Suara Divine mulai terdengar, napasnya berat.


ia sudah tidak tahan lagi, ingin segera melepaskannya.


"Cepat Gara!" suara Divine pelan di samping kepala suaminya.


Gara menyunggingkan senyumnya saat mendengar ucapan Divine. Ia pun berpindah ke puncak satunya, mengabaikan ucapan Divine. Napas Divine semakin terdengar tak karuan, barulah Gara melakukan yang seharusnya sedari tadi ia lakukan.


Ctaakk... tiba-tiba listrik kembali menyala. Gara semakin senang dia bisa melihat istrinya yang sangat cantik itu dengan sangat jelas. Sedangkan Divine merasa sangat malu tubuhnya terpampang tanpa sehelai kain pun di bawah cahaya begitu terang namun Divine tidak bisa mengungkapkannya. Gara membuatnya tamat, hingga bernapas pun tidak teratur, apalagi untuk berbicara. Mereka terus melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan di bawah cahaya terang.🙈


_____________________


___________


"Aku sudah memeriksa mu, kau baik-baik saja." ucap Gara yang masih memeluk Divine dari belakang.


"Periksa macam apa itu?" Divine berbalik ke arah Gara.


"Bagaimana, apa aku juga hebat di ranjang?" tanya Gara.


Tadinya dengan mebalikkan tubuhnya ke arah Gara, Divine ingin berdebat perihal periksa yang di maksud suaminya, namun Gara malah membuat Divine malu dengan pertanyaan tak senonohnya.


"Apa kamu masih berpikir, aku ada sesuatu dengan Eza?" seketika masalah itu terlintas di kepala Divine, tanpa ragu Divine pun menanyakannya.


"Hmmbb, aku akan memeriksa Eza besok?" jawab Gara.


"Apa! kau mau memeriksanya?" tanya Divine dengan sangat terkejut.


Divine berpikir, Gara akan memeriksa Eza seperti Gara memeriksanya.

__ADS_1


Gara diam tak menjawab pertanyaan Divine, ia menarik Divine ke dalam pelukannya, membiarkan Divine menerka-nerka sendiri.


__ADS_2