
Dora melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman kecil rumah Divine.
Sementara Jerry hanya melihat kearah Ben. Benar-benar tidak terbesit di benaknya akan ada yang mengikuti mereka. Sepanjang jalan Ben aktif menceritakan kisah cintanya.
"Halo Nona Divine." sapa Dora berdiri di depan Divine.
"Ehh kamu mengenal ku, ayo silakan masuk!" ajak Divine dan masuk ke dalam rumahnya di ikuti oleh Dora.
Gara berdiri di samping Divine sementara tiga tamu mereka sudah duduk di sofa.
"Tentu saja, kau mengenal ku, kau biasa memanggil ku Vely." tutur Dora sembari menyilangkan kakinya.
Terkejut. Divine menegang. Mencoba menarik senyum. Namun tampak sekali kecanggungannya.
"Dia dora, orang yang sudah kamu tahu sebelumnya." tutur Gara.
"Oh jadi kamu sudah menceritakan semuanya, kalau begitu aku tidak perlu segan."
Gara berdehem. Mengiyakan ucapan Dora.
"Lalu kenapa kau tidak pulang semalam, apa kau sedang menghabiskan malam mu menikmati tubuh..."
***Plak...***Belum selesai Dora mencibir dengan lirikan sinis kearah Divine. Divine sudah mendaratkan telapak tangannya di pipi kiri Dora. Dora yang tak mau kalah ia juga mengangkat tangannya hendak membalas tamparan Divine namun dengan cepat Gara menangkap tangan Dora menghempaskannya kebawah.
Dora hanya bisa memegang pipinya yang terasa kebas.
"Kenapa? apa ada urusannya dengan mu!" Gara meraih tangan Divine meniup tangan yang istrinya itu pakai menampar wajah Dora "Apa terasa sakit sayang?" tanya Gara lembut pada Divine. Divi menggeleng samar.
__ADS_1
"Jangan lupa..." ketus Dora namun kalimatnya menggantung melihat kearah Jerry dan Ben yang juga berada di sana.
Gara menaikkan alisnya, ia tidak tahu apa yang sedang Dora coba sampaikan.
"Kau!" Dora menekan kalimatnya. Entah apa yang ia pikirkan hingga kalimatnya terhenti. Seakan tak ingin mengungkapnya sekarang.
"Apa yang ingin kau katakan, apa kau ingin mengatakan bahwa kau istri sah Gara. Jika memang itu. Kau tidak perlu mengucapkanya lagi. Aku sudah tahu." tutur Divine. Dengan menahan rasa tidak tahu malu Divine mengucapkannya. Ia masih sangat sadar orang yang berada di depannya ini adalah orang yang sangat berjasa pada hidup Gara.
"Lalu bagaimana bisa kau masih menerimanya? setelah dia menduakan mu?" ketus Dora terus merendahkan wanita yang beringsut menjauhinya.
Divine tersenyum pahit. "Sebelumnya maafkan aku, apa kau sudah tahu bahwa buku nikah yang kau miliki palsu?"
"Hahaha, ternyata kau bodoh, mau mempercayai ucapannya begitu saja, apa kau sudah memeriksanya sebelum kau memutuskan untuk percaya?" Dora membuka ponselnya mengetikkan sesuatu disana.
Gara hanya diam begitupun Ben diam sembari menggoyang-goyangkan kakinya. Jerry menyenggol Ben berbisik padanya " Apa kau yakin Ben?" Jerry tiba-tiba merasa sedikit takut sejak tadi seakan Dora memiliki kartu besar yang sedang ia sembunyikan. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, buku nikah yang ia miliki palsu, aku bekerja keras kala itu melakukan hacker selama 5 menit." jawab Ben dengan berbisik lebih pelan.
"Apa ini Gara, kau menipuku?" suara Dora berat berbicara menahan kemarahannya.
"Hemm, kenapa tikdak bahkan kau melakukan hal yang sama." jawab Gara berjalan kearah pintu menunjukkan secara langsung bahwa ia mempersilakan Dora untuk keluar sekarang.
"Garaaaaaaa....." Teriak Dora. Tidak terima atas perlakuan Gara seakan tidak ingat apa yang sudah ia lakukan padanya.
"Kita tidak ada hubungan apa pun jadi silakan pergi dari sini." sahut Gara seakan teriakan Dora tak berarti apapun pada dirinya.
Dora mengepal erat tangannya. Semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Gara benar-benar seakan melupakan begitu saja. Sepertinya ia harus mengatakannya di depan orang-orang yang berada di ruangan ini.
"Bagaimana kalau aku katakan kau akan segera menjadi ayah dari anak ku."
__ADS_1
Deg. Jantung Divine seakan berhenti mendengar ucapan Dora. Perasaannya mencoba menolak apa yang sedang otaknya sampaikan pada dirinya.
Jerry melipat tangan ke depan dadanya sembari menarik napas dan menghembuskannya kembali. Melihat Dora keluar dari sana usai mengatakan hal yang sepertinya itu yang ia simpan sejak tadi.
Divine beranjak dari tempatnya berdiri. Gara menahannya namun Divine menghempaskan tangan Gara berjalan cepat masuk lalu menutup pintu kamarnya.
"Divi.. Divi.. aku bisa menjelaskannya." Gara menggedor pintu kamar Divine. Namun Divine tidak menghiraukannya.
***Tepak...***Jerry memukul kepala Gara "Kau bodoh." sembari berlalu keluar pergi dari sana. Sebelumnya Jerry sudah berkata jangan melakukan sesuatu yang menyakiti Divine. Namun saat itu sudah terlambat. Sedangkan Ben menggelengkan kepalanya menepuk pundak Gara. Pergi meninggalkan Gara sendiri.
Gio datang mendengar suara gedoran pintu. "Ada apa pa? kenapa Mama dan kemana semua tamu-tamu tadi?" bingung Gio melihat apa yang ada di depannya.
"Gio kembali lah dulu ke kamar? Gara membalikkan tubuh Gio memintanya segera kembali. Gio pun menuruti titah Gara.
Setelah Gio berlalu. Gara kembali mengetuk pelan pintu kamar Divine dengan sedikit pelan.
"Divi ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku bisa menjelaskannya, buka pintunya sayang!" pinta Gara berdiri di depan pintu. Divine tetap tidak bergeming. Ia duduk di lantai bersandar pada tempat tidur menahan air matanya agar tidak menetes.
"Aku tidak melakukan apapun sayang, percaya pada ku." seru Gara dari balik pintu.
Divine memejamkan matanya.
Bahkan ia berbicara tentang anak. Batin Divine berpusat pada ucapan Dora. Mereka-reka Dora tengah mengandung anak dari suaminya.
__ADS_1