Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 6


__ADS_3

Malam itu berlalu dengan Inah kembali tidur di sofa dan Gio tidur di ranjangnya. Rasa kesal masih sangat menguasai diri Giodava. Pria yang memiliki kehidupan normal dan hubungan yang baik dengan kedua orangtuanya seketika hancur begitu saja.


Gio yang dulunya sering berbincang-bincang berbagi cerita dengan ayah ibu bahkan adik-adiknya kini hanya menjadi sebuah kenangan.


Waktu terus berlalu. Hingga malam tadi, Divine menunggu putranya hingga larut, karena tidak ada kabar darinya. Divine hanya mengetahui Gio baik-baik saja melalui asisten Gio.


Namun saat Gio tiba di rumah. Gio bahkan tidak melihat ke arah Divine yang menanti kepulangannya.


Divine geram. Dia sangat ingin berteriak pada Gio yang melewatinya begitu saja, namun Gara yang menemani istrinya memegang tangan Divine untuk meredam amarah wanita kesayangannya itu.


"Biar saja sayang, kita hanya perlu mengabaikannya." ucap Gara pelan.


Divine pun menyanggah kalimat suaminya itu setelah Gio sudah tidak terlihat.


"Dibiarkan seperti apa maksudmu, semakin hari anak itu semakin seenaknya saja."


Gara tidak menimpali lagi, dia hanya menarik bibirnya rapat. Semua itu terjadi karena Gio yang masih sangat marah pada ayah dan ibunya terlebih ayahnya sebagai pelaku yang membawa Inah menjadi istrinya.


Kini gelap sudah terkikis cahaya. Inah bangun dari sofa yang sudah hampir sebulan menemaninya melewati setiap malam bersama mimpi buruk dan mimpi indahnya.


Dia selalu bangun sebelum Gio melihatnya berada di kamar yang sama. Bahkan tidur disaat Gio sudah tertidur.


Setelah membersihkan diri dan menggunakan perawatan yang dokter berikan padanya. Inah beranjak ke dapur membantu pelayan yang sudah sibuk dengan tanggung jawabnya. Inah sudah tidak menggunakan makeup lagi setelah semua orang rumah mengetahui kebenarannya. Dia pun telah terbiasa.


"Mbak, apa yang bisa kubantu?" tanya Inah pada Anni yang kini bertanggung jawab di urusan makanan di rumah ini.


"Ahh, Nona bisa membantu saya menyajikannya saja." jawab Anni yang masih merasa tidak enak. Hampir sebulan juga sudah dia terus dibantu oleh istri dari tuan mudanya.


Divine yang tidak mau ketinggalan pun selalu hadir di dapur tidak lama setelah kehadiran menantunya itu.


"Selamat pagi semuanya." sapa Divine dengan keceriaannya.


Inah langsung tersenyum cerah dengan menampakkan giginya melihat Divine yang selalu membawa aura kebahagiaan padanya. Inah tampak bahagia dengan kehidupannya sekarang walau tanpa suami yang melihat kearahnya.


"Pagi sayang, kau cantik sekali jika tersenyum, teruslah seperti ini." puji Divine. Satu satunya hal yang membuat Divine iri pada Inah adalah 2 gigi depan yang Inah miliki. Dua gigi depannya lebih besar daripada yang lain, tersusun rapi serta berwarna putih entah akibat warna kulit Inah yang cenderung gelap atau memang giginya putih.

__ADS_1


Inah tersenyum malu dan menutupi sebagian mulutnya dengan tangan. "Mama jangan bikin Inah GeEr." ungkap Inah.


Divine terkejut mendengar tanggapan dari menantunya. Dia merasa Inah banyak berubah dari cara bicara hingga si lamban yang melekat pada diri Inah sejak pertemuan mereka.


"Sayang, coba ulangi." tutur Divine.


"Mama bikin Inah GeEr." jawab Inah santai sesuai apa yang diminta oleh ibu mertuanya.


Sontak Divine memeluk Inah dengan kegirangan menghentak-hentakkan kakiknya di lantai. Sementara Inah dalam kebingungan tidak mengerti kenapa ibu mertuanya seperti ini.


"Mbak Anni, Mama kenapa?" tanya Inah pada Anni yang menyaksikan tingkah membingungkan Divine.


"Ni, kamu lihatkan dia bukan Inah si lamban lagi?" ungkap Divine pada Anni setelah melepas pelukannya pada Inah.


Alis Inah mengkerut. Ia baru tau selama ini ada julukan yang melekat padanya. Namun dia tetap bersyukur setidaknya julukannya bukanlah si buruk rupa.


Gio tiba-tiba datang ke dapur dan membuka pintu lemari pendingin. Menutupnya kembali setelah mengambil kantung teh bekas. Ajaran Divine untuk menyamarkan lingkar mata panda akibat kurang tidur.


Di saat bersamaan Divine memperhatikan Inah yang seketika menunduk dan gerakannya kembali melambat.


"Aaaa eeee. Iya Mah." jawab Divine takut dan pelan.


"Kamu kenapa? Mbak Anni lihat tidak?" bertanya pada Inah dan memastikan pertanyaannya pada Anni.


Anni mengangguk. Lalu memberikan segelas air minum pada Inah.


Inah tersenyum kembali. Lalu menggeleng dengan baik pada ibu mertuanya tapi Divine tetap tidak mengerti.


"Apa kau akan jadi si lamban jika sedang takut?" duga Divine. Dia sangat mengetahui menatunya itu sangat takut dan sangat tidak percaya diri jika berada di sekitar Gio.


"Yaya Nona, sepertinya begitu." sela Anni. Rupanya Anni pun juga memperhatikan perubahan sikap istri tuan mudanya itu.


Inah menggeleng dia tidak pernah menyadari bagaimana sikapnya selama ini.


Divine pun membenarkan dugaannya setelah mendengar pendapat Anni.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh seperti ini terus sayang, kau harus berani dan percaya diri di depannya." Nasehat Divine pada Inah. Divine bahkan bisa melihat sisi cantik Inah saat Inah mendapatkan kepercayaan dirinya. Bukan tidak mungkin Gio juga akan bisa melihatnya nanti.


"Bagaimana bisa Ma, aku terlalu buruk untuk mengangkat kepalaku di depannya." tutur Inah. Pikirnya akan jauh lebih mudah jika mengangkat kepalanya sebagai pembantu di depan Gio bukan sebagai istri. Merasa dirinya sangat tidak tahu diri jika berani melakukan itu.


"Sayang, ini rahasia kita ya, dulu waktu Mama dan Papa baru menikah, Mama yang sering peluk Papa terlebih dulu, padahal Papa gak suka sama Mama." ungkap Divine tegas lalu tertawa terbahak-bahak.


"Lihat sekarang, Papa Gimana?" tambah Divine. Bukannya berbisik dia terus berbicara normal hingga semua orang yang ada di dapur mendengarnya.


Inah melihat kesana kemari memberi kode pada mertuanya bahwa semua orang mendengar ucapannya yang katanya rahasia.


"Ah Non, kalau kita mah sudah tau." Anni mengibaskan jarinya di depan Inah. Tampak Sekali Inah memikirkan ucapan rahasia yang tadi Divine lontarkan.


"Beneran Ma, gimana ceritanya? Ah tapi sudahlah." Inah akhirnya bebas menanggapi ucapan Divine setelah kalimat yang Anni sampaikan. Namun saat ia penasaran dengan cerita ayah dan ibu mertuanya. Seketika ia sadar dirinya dan ibu mertuanya adalah orang yang tidak bisa disamakan.


Pikir Inah Divine yang cantik tidak akan mendapatkan penolakan dan bebas untuk melakukannya. Sementara dia baru saja ingin mendekat satu langkah pria akan dengan langsung menendangnya. Inah tertawa kencang di dalam hatinya. Dia tidak akan berani mencoba apapun yang Divine ajarkan padanya.


Divine menceritakan cara dia berguling lalu menabrak tubuh Gara dan berpura-pura tidur.


Belum sempat Divine melanjutkan akhir dari ceritanya. Inah sudah terpingkal-pingkal membayangkan dirinya menabrak tubuh Gio dan di lempar ke halaman dari balkon.


"Apa itu suara Inah?" Gara bertanya dari meja makan. Rupanya suara tawa Inah terdengar sampai ke meja makan dimana Gio juga berada disana.


Inah segera menutup mulutnya. Dia tahu kemungkinan besar suaminya juga ada disana.


Divine dan Inah pun berjalan bersama menuju meja makan para suami sudah tiba. Divine terus berbisik "pertahankan sikapmu" pada Inah.


Gara tersenyum melihat Divine lalu matanya tertuju pada tanda merah di tangan Inah yang tidak begitu terlihat.


"Apa itu di tanganmu In, apakah bekas luka?" Gara bertanya terlihat tidak begitu serius.


"Aaa i-ni tanda lahir Pa." tutur Inah lambat.


Divine hanya bisa tertunduk lesu karena Inah kembali jadi si lamban yang mengesalkan. Dia tidak bisa mengendalikan ketakutan menantunya.


Gara hanya tersenyum mendengar jawaban Inah dan tidak menimpalinya lagi. Sepertinya dia hanya basa-basi saja. Sebenarnya dia sudah mengetahui itu.

__ADS_1


Gio diam saja dengan telinga terbuka. Dirinya diam saja seperti tidak mendengar dan melihat apapun.


__ADS_2