
Ben telah menjalankan iklannya secara online dan offline. Media TV dan seluruh sosial media menayangkan kampanye Ben. Tiang-tiang listrik, halte bus serta papan-papan iklan yang kosong semua terisi oleh iklan di butuhkan donor ginjal dengan golongan darah O negatif. Sengaja Ben menuliskan kategori utamanya agar bisa langsung menyaring pendonor hingga tidak banyak membuang waktu terpaksa juga tidak mendengarkan kata-kata Divine. Ia memberi informasi akan ada imbalan sebagai ucapan terima kasih bagi yang bersedia mendonorkan organ tubuh yang sangat berharga dari tubuh pendonor.
Kondisi Gara semakin melemah. Air yang masuk ke dalam tubuhnya mulai di batasi apalagi makanan di setiap harinya. Demi mencegah kerja ginjal yang semakin berat. Gara pun sudah 4 kali melakukan cuci darah selama 2 minggu berada di rumah sakit.
"Sayang, kau sungguh percaya padaku, bahwa aku benar-benar tidak memiliki hubungan dengan Vely." lirih Gara. Setidaknya ia ingin mati tanpa meninggalkan kenangan bahwa ia telah mengkhianati istri yang begitu ia cintai. Sungguh hanya Divine satu-satunya wanita di hidup Gara.
Tubuhnya semakin lemah. Setiap hari yang kalimat keluar dari mulutnya semakin sedikit.
Apalagi yang bisa Divine katakan selain ia percaya pada Gara. Lebih tepatnya memaksa untuk percaya.
"Iya sayang aku percaya, tetaplah semangat, yakin lah akan ada ginjal yang cocok untuk mu, kau menginginkan anak perempuan sebagai adik Gio kan, ayo kau harus mencobanya lagi hingga aku hamil." Divine menyemangati suaminya dengan apapun yang bisa ia ucapkan.
Gara hanya menampakkan sedikit senyum di wajahnya. Untuk tersenyum lebar pun rasanya tidak mampu.
"Kau juga sangat ingin aku lebih memperhatikan mu di bandingkan Gio kan, kau akan melihatnya setelah kau sembuh dan membuat putra mu cemburu pada mu." celoteh Divine lagi demi menaikkan semangat hidup Gara.
Hari berganti. Beberapa calon pendonor terus melakukan tes namun belum juga ada yang cocok.
"Ben berikan imbalan kepada mereka yang sudah bersedia mengikuti beragam rangkain tes walau akhirnya tidak cocok." titah Divine sembari memberikan kartu debit miliknya pada Ben. Serta jumlah yang harus Ben berikan kepada calon-calon pendonor.
"Tidak perlu Div, kita bisa memakai uang di kartu milik Gara." tolak Ben mendorong kartu yang di berikan oleh Divine.
"Tidak mengapa Ben, milik ku juga milik Gara. Jadi tolong pakai ini." pelan suara Divine mencoba mengetuk pintu langit dengan bersedekah pada orang-orang baik yang mau berbagi organ tubuh penting mereka pada Gara.
Divine meraih ponselnya. Membuka menu mobile banking. Mengalokasikan sedekah lebih awal dari tanggal biasanya pada panti asuhan dan panti jompo. Berharap Tuhan akan mengasihani mereka.
Gara terbangun dari tidurnya. Menggenggam tangan Divine yang sedang memegang tangannya.
"Sayang apa kau sudah melihat isi flashdisk yang aku tinggalkan?" Gara ingin membuktikan sesuatu pada Divine. Sudah sejak lama Gara ingin mengatakannya namun selalu saja terhenti karena tidak kuat berbicara lagi.
Divine mengingat benda kecil yang Gio berikan lalu ia letakkan di atas nakas sesaat sebelum menemukan Gara pingsan di dalam mobilnya.
"Ahh iya ada, tapi aku belum melihatnya." jawab Divine. Gara melihat kearahnya seakan meminta Divine segera melihatnya. Gara tak ingin Divine hanya memaksa untuk percaya. Ia mau Divine benar-benar percaya padanya.
__ADS_1
Divine mengetik pesan di ponsel Gara mengirimnya pada Ben. Ben tolong mampir ke rumah ku, ambil sebuah flashdisk di atas nakas di samping pintu di dalam kamar ku. Begitu pesan yang Divine tuliskan.
Bahkan sudah 2 Minggu ia tidak pulang ke rumah meninggalkan rumah tanpa di kunci. Tidak ada pikiran jika rumahnya akan di satroni maling. Pria di depannya jauh lebih berharga untuk sampai ke rumah sakit tepat waktu saat itu.
"Permisi Nyonya, dokter ingin bicara sebentar dengan mu." seorang suster masuk dan menyampaikan tujuannya. Divine pun keluar dan meminta suster itu untuk menemani Gara sejenak.
Divine masuk ke ruangan Dokter yang mengurusi perkara transplantasi ginjal Gara. Entah apa yang akan ia dengar hari ini. Cukup sudah segala kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi jika dalam waktu 1 bulan Gara belum juga mendapatkan donor. Jantungnya berdegup penuh rasa takut. Duduk di kursi di depan meja dokter.
"Iya dok, apa ada kabar baik yang bisa saya dengar?"
"Ini sudah Minggu ke tiga Nyonya, Maafkan kami." ucap Dokter Desta terlihat ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Katakan saja dokter." Divine menarik napasnya. Bersiap mendengar apapun itu.
"Giodava putra Nyonya dan Tuan, menemui kami kemarin dan bersedia untuk mendonorkan ginjalnya, Ia menyatakan kalau golongan darahnya O negatif, di tambah hubungan mereka adalah ayah dan anak pasti akan sangat tinggi angka kecocokannya."
Divine terkesiap. Sungguh mengagetkannya. Matanya tidak berkedip.
"Bisa nyonya, hanya saja tidak memenuhi syarat administrasi negara, karena belum berusia 18 tahun dan kami pun belum tahu apakah ginjalnya sehat, ditakutkan ia mewarisi penyakit ayahnya." jelas dr. Desta
Astaga. Apalagi ini bukan kah ini terlihat menolong sang ayah namun membuka jalan untuknya menjalani hidup yang sama seperti ayahnya. PIkir Divine mengawang. Ia tidak tahu lagi.
Gara keluar dari sana. Bertemu Ben di depan pintu ruang rawat Gara. Jerry dan Gio pun baru tiba di ruangan Gara baru saja mendudukkan bokong mereka di sofa.
"Apa yang terjadi pada mu Jerry? berapa hari tidak terlihat dan keadaan mu seperti ini." memandang wajah pucat Jerry dan rona gelap di bawah matanya. Tampaknya ia kurang tidur.
"Hmm ini, anggap saja hadiah dari ku. Tidak begitu besar." ucap Jerry pada Ben menunjukkan i-pad di depan Ben. Ben pun mencerna dengan saksama.
"Saham Andava! jadi milik mu." tutur Ben.
"Hmm, kemana aku akan mentransfernya, berikan akunnya pada ku." tukas Jerry.
Selama 4 hari ia tidak tidur hanya untuk membuat kekacauan pada seluruh perangkat yang Ayah Brav gunakan, Hingga Brav berpikir Andava Grup sedang dalam kondisi buruk. Harga saham yang terus turun dari hari ke hari, hingga hari ke empat harga saham sudah sangat jauh terjun ke bawah. Ayah Brav pun memutuskan untuk menjualnya dengan harga di bawah sebenarnya dengan cepat Jerry membeli semuanya.
__ADS_1
"Bagaimana kau melakukannya?" Heran Ben, tidak perlu heran harusnya hacker adalah kemampuan Jerry yang paling menakjubkan.
"Dengan tidak tidur 4 hari, Ayah Brav yang tidak berada di indonesia pun juga jadi keuntungan kita, karena ia tidak tahu keadaan sebenarnya."
"Terimakasih Jerry, biarkan itu untuk mu. Kau berhak mendapatkan itu." tutur Divine. Jerry bahkan sudah bekerja pada Andava sejak ayah Divine yang memimpin. Saat ia sudah memiliki kehidupan sendiri pun masih mau di repotkan oleh teman-temannya ini. Banyak hal yang sudah Jerry lakukan untuk Divine.
"Ini terlalu banyak, aku akan menerimanya jika tidak sebanyak ini." tolak Jerry.
Divine hanya diam. Menadahkan tangan di depan Ben. Meminta yang ia pinta pada Ben ambilkan di rumahnya tadi.
"Aku tidak menemukannya Divi, bahkan mencarinya ke seluruh ruangan." jelas Ben.
"Hmm sudahlah tak apa." Divine menghampiri Gio yang duduk di sofa di samping Jerry.
"Apa kau juga ikut tidak tidur seperti Om Jerry? Apa kau baik-baik saja?" ucapan dr. Desta terngiang di pikiran Divine.
"Om Jerry mengurus Gio dengan baik Ma dan Gio baik-baik saja."
"Lalu mengapa kau ingin mendonorkan ginjal mu pada Papa?" Menetes air mata Divine lirih bertanya pada putranya.
Ben dan Jerry yang mendengarnya pun tersentak hingga memfokuskan pandangan mereka pada ibu dan anak yang sedang berhadapan.
"Karena Gio ingin papa bisa lebih lama bersama Gio." Gio pun menangis dan masuk ke dalam pelukan ibunya.
"Tidak bisa sayang, hidup mu masih panjang, Papa tidak mengijinkannya." Gara menyela obrolan mereka lirih. Terbangun dan langsung mendengar ucapan putranya.
Gio berdiri, melangkah menuju sang ayah.
"Gio belum punya banyak waktu bersama papa, Gio tidak ingin tidak memiliki kenangan bersama papa." terbata-bata dalam tangis memegang rambut Gara yang semakin menipis karena rontok.
"Jadi tolong jangan halangi Gio untuk melakukannya." memeluk Gara dalam tempat tidurnya.
Divine hanya bisa menangis mendengar keinginan Gio yang begitu kuat.
__ADS_1