
Hari sudah menunjukkan rona jingganya pertanda siang akan berganti malam. Namun Gara masih berada di kantor, ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa kau tidak pulang?" ucap Ben yang baru saja memasuki ruangan Gara dan membawa secangkir kopi.
"Pulang." Jawab Gara sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Kenapa masih meminta kopi?" Ben meletakkan kopi di meja Gara.
"Karena aku mau minum, begitu saja tak tau." ucap Gara seraya mengambil kopi yang baru di letakkan Ben.
"Haha, o iya Gara sampai kapan Vely di sana?"
"Sampai dia ingat semuanya."
"Lalu Divine?"
"Kau harus membantuku agar Vely dan Divine tidak berhubungan." jawab Gara membuat Ben terdiam.
Gara kembali mengerjakan pekerjaannya, tak lama ponselnya berdering terlihat sebuah nama di layar ponsel Gara.
"Halo Ibu." Gara menerima telpon masuk dari ibunya.
"Anak ku, bagaimana kabar mu? sudah berapa lama kau tidak menelpon ibu mu ini yang sudah tua renta?" terdengar suara merdu dari balik telpon.
"Apa Ibu sudah tak sabar untuk menjadi orang tua renta?" Gara menjawab ibunya dengan nada sedikit mengejek. "Aku baik-baik saja bu, bagaimana dengan ibu dan ayah di sana?" sambung Gara.
"Wah ini benar Gara anak ibu? ini kali pertama ibu mendengar kau berbicara lebih banyak, pasti istri mu yang sudah merubah mu jadi seperti ini kan, Ibu tidak menyesal telah menikahkan kamu dengannya." ucap Ibu Gara yang ikut andil dalam pernikahan Gara dan Divine.
"Ya bu, Divine begitu sempurna, cantik, kaya dan juga baik, apa ibu tau, ia memberikan posisinya sebagai Presdir di Andava Grup padaku?"
Mungkin kebaikannya nanti bisa membuat sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Apa! secepat itu Divine percaya padamu?"
Ibu dan anak itu terus mengobrol cukup lama memperbincangkan semua tentang Gara dan Divine hingga akhirnya Gara menutup telponnya karena melihat jam yang menunjukkan sebentar lagi waktunya makan malam.
Gara dan Ben pun meninggalkan ruangan Gara bergegas pulang untuk makan bersama Divine di rumah. Mereka melewati koridor yang masih ramai karyawan yang sedang lembur.
Baru saja Mereka keluar dari halaman kantor tiba-tiba ponsel Ben bergetar di lihatnya tertulis nama Vely di sana. Ben tidak ingin menerimanya ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Ben terus mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tak lama pun mereka sampai di rumah. Ben membukakan pintu untuk Bosnya itu Gara pun turun.
"Terimakasih untuk hari ini Ben." ucap Gara.
"Apa aku tidak salah dengar**." Gumam Ben dalam hatinya. Sambil mengangguk pada Gara.
Gara pun masuk ke rumahnya dan Ben kembali menuju apartemennya sambil meratapi nasibnya yang tidak bisa makan masakan buatan Divine lagi.
__ADS_1
Ben mengambil ponselnya, kini ia punya pekerjaan baru yaitu mengurus Vely.
"Ya, Ada apa Vely?" ucap Ben saat telponnya sudah terhubung.
"Kamu dimana, apa bersama Gara?" terdengar suara Vely dibalik telpon.
"Tidak, aku sudah mengantarnya pulang."
"Oh bagus, nanti kamu mampir kesini dulu, ada hal yang mau aku tanyakan." ucap Vely dengan penuh harap.
"Kenapa tidak katakan saja sekarang?" jawab Ben sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Tidak bisa, apa susahnya mampir sebentar, apa kau mau, aku yang mendatangi mu?" ucap Vely kesal.
"Tidak, baiklah aku akan mampir sebentar lagi sampai." ucap Ben, terpaksa ia mengikuti permintaan Vely, ia tak ingin Vely menghampirinya di tempat tinggalnya.
Gara sudah selesai membersihkan dirinya lalu turun menuju meja makan dimana Divine sudah ada di sana.
Makanan sudah tersedia dan tertata rapi di atas meja.
"Malam sayangku." Gara menghampiri Divine dan mengecup keningnya. Ia merasa sangat merindukan istrinya ini.
"Ya malam juga sayang."
Aku merasa sangat di sayangi akhir-akhir ini sikapnya selalu manis.
Divine benar-benar merasakan Gara sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Gara kini sudah duduk di kursinya.
"Apa semua ini kamu yang masak sayang?"
"Iya, besok aku tidak perlu ikut ke kantor lagi kan."
Aku jadi bisa ke rumah sakit besok untuk memastikan apa yang sedang aku ragukan.
"Kenapa? apa yang ingin kamu lakukan di rumah, aku akan merindukanmu jika seharian tidak melihat mu." tulus Gara mengucapkannya.
Hah kata-katanya semakin manis, dia ga lagi kesambet kan, dia ga pernah begini, apa ini sisi aslinya atau biar menghilangkan kecurigaan ku.
"Ayo makan dulu, gombalnya nanti aja." ucap Divine dengan senyum manisnya.
Mereka pun menikmati makan malam mereka berdua tanpa ada Ben yang meramaikan suasana kini meja makan itu pun tetap terasa ramai.
Gara yang takut kehilangan Divine, menggunakan seluruh waktu yang ia punya sebaik mungkin, tak ingin terpisah walau hanya sekejap, ia benar-benar takut pada istrinya ini, dia lah orang nomor 1 di Asia, apa pun yang dia mau dia bisa melakukannya termasuk meninggalkan Gara.
Keangkuhan Gara terhadap Divine kini seolah sirna, semua sikapnya berbanding terbalik dengan Gara yang dulu.
__ADS_1
Kehadiran Vely membuat Gara mengerti seperti apa sebenarnya perasaanya kepada Divine, selama ini ia selalu menepis apa yang di ucapkan Ben padanya.
Rasa takut kehilangan itu terus menghantui Gara hingga membuat ia memilih jalan untuk menyembunyikan Vely dari Divine.
Gara dan Divine pun telah menyelesaikan makanannya.
"Apa kamu sudah selesai sayang?" tanya Gara pada Divine.
"Ya sudah, aku akan membereskan meja makan dulu." jawab Divine.
Gara dengan cepatnya kini sudah berada di samping Divine.
"Ada apa, apa kamu ingin membantuku juga sekarang?" Divine mengingat suaminya yang kini suka aneh.
"Tidak." Gara menggendong Divine di depan dadanya berjalan menuju tangga semua pelayan melihat mereka namun tidak membuat Gara merasa malu.
Badan Gara yang besar tidak membuat ia kesulitan menggendong tubuh mungil Divine sambil menaiki tangga yang tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan tangga yang pernah ia daki untuk menuju desa Murni.
"Turunkan aku sayang, lihat semua pelayan melihat kita." ucap Divine.
"Biar saja, biar mereka semua tau aku mencintai Bos mereka." jawab Gara menatap ke dalam mata Divine.
kini mereka sudah hampir sampai di puncak tangga. Divine yang malu mendengar kalimat Gara memilih menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Gara untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah.
"Divi, apa kamu tau kalau aku takut kehilangan mu?"
Hah apa iya? dia kesambet apaan sih kenapa jadi begini?
"Kenapa takut?"
"Karena aku sudah tau perasaanku, aku mencintaimu, dan aku bukan apa-apa jika dilihat dari segi kekuasaan, kau bisa saja membuangku."
Gara menurunkan Divine di tempat tidur mereka.
"Heh apa kamu lupa, kamu adalah ayah ku terakhir kali saat aku meminta cerai, artinya kau lebih berkuasa dibanding aku."
"Tidak, tidak aku suami mu, yang sekarang mau makan kamu." Gara menggelitik perut dan pinggang Divine.
Terjadilah yang harusnya terjadi.
______________
Ben yang saat ini bersama Vely sedang menceritakan bagaimana hubungan antara Vely dan Gara beserta keluarga Gara.
Namun tidak semua dibeberkan oleh Ben.
Ben hanya menegaskan Vely dan Gara hanya berteman, kenapa Gara baik terhadap Vely karena Vely pernah melakukan sesuatu untuk Gara namun tidak memberitahukan apa yang sudah Vely lakukan. Ben mengatakan pada Vely nanti kau akan tahu sendiri.
__ADS_1