Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2- Jerry Kembali


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu.


Sinar matahari masuk ke dalam kamar utama. Dora mengerjap dan menggeliat meregangkan seluruh tubuhnya. Seketika matanya terbuka lebar melihat ke langit-lagit menyadari ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Melempar pandangannya pada selimut yang menutupi hingga atas dada dan pundak yang terlihat. Mengintip ke dalam selimut mendapati dirinya tidak memakai sehelai kain pun.


"Apa yang terjadi?" Menoleh kearah suara gemercik air yang baru saja terhenti.


Gara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan rambut yang masih terlihat basah. Berlalu ke dalam ruang pakaian tidak memperdulikan Dora yang sedang menatapnya kebingungan.


Dora tak beranjak dari tempat tidur mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Namun ia tidak mengingat apapun. Pikirannya terhenti saat dirinya duduk bersama Gara bertarung minum. Melihat Gara yang mulai sempoyongan begitu pun dirinya.


"Apa yang terjadi semalam?" lontar Dora saat Gara keluar sudah lengkap dengan pakaiannya. Menunjukkan keadaan dirinya dengan matanya.


"Tidak tahu, aku tidak mengingatnya." sahut Gara berjalan menuju pintu. Menghela napas saat ia sudah menutup pintunya.


Dora memukul kepalanya merasa bodoh. Bangun untuk membersihkan dirinya. Sontak mengejutkan dirinya sebuah bercak darah di sprei tertuju pada pandangannya.


"Apa? apa ini sungguhan? tapi...?" Dora semakin kebingungan. Apa yang ia lihat menjelaskan suatu hal namun ia sungguh tidak percaya. Ada banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.


Dora pun bergegas hendak menyusul Gara. mencari sebuah kejelasan. Namun saat ia turun Gara sudah tidak ada di rumah.


Dora pun langsung menyusul Gara ke kantor.


Setelah beberapa saat Dora menunggu di dalam ruangan Gara. Gara tiba dengan beberapa file di tangannya.


Air mukanya berubah melihat Dora duduk di kursinya. "Ada apa?"


"Bukankah kau harus menjelaskan sesuatu?" ucap Dora dengan kaki tersilang dan tangan terlipat dibawah buah semangka miliknya.


"Jika persoalan semalam, sudah jelas kau yang mengajak ku bertaruh minum, agar bisa membawa ku tidur di kamar yang sama dengan mu dengan hadiah 5% saham jika aku menang." Gara bersandar di pintu yang tertutup.


"Karena sepertinya yang terjadi lebih dari itu, kau harus menepati janji mu." tambah Gara dengan suara pelan penuh tekanan.


Dora mengepalkan tangannya. Karena ia benar-benar tidak ingat apapun.


"Jika aku tidak mau, kau bisa apa?" tolak Dora kini melipat tangannya di atas meja.


"Tidak mengapa? aku sudah punya 20%. Itu sudah cukup menjadi pundi-pundi penghasilan ku tanpa harus bekerja disini sebagai kaki tangan mu." suara Gara masih pelan menatap sinis ke wanita di depannya.


Dora berdiri seakan ingin meluapkan kekesalannya namun bibirnya membeku tidak bisa berkata-kata. Merasa sangat di rugikan.


"Oia, kita harus berpisah agar aku bisa menikah lagi, akan ku kirimkan secepatnya pada mu." tambah Gara lalu keluar meninggalkan Dora di dalam ruangannya.


Dora mondar-mandir di dalam ruangan Gara. Duduk sejenak lalu berdiri lagi beberapa kali menghentakkan kakinya. Kata berpisah terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Ia sudah mengecek melalui web untuk memastikan buku nikah yang ia miliki adalah asli. Dia pun melihat Gara dan dirinya terdaftar sebagai sepasang suami dan istri tanpa ragu ia langsung membagi saham miliknya.

__ADS_1


Sungguh tidak rela jika harus berpisah setelah sejauh ini telah mendapatkan lelaki yang begitu ia cintai. Pikirnya. Namun kali ini berbeda. Tak sejalan dengan apa yang ia inginkan. Otak dan perasaan saling beradu.


Sementara itu Gara duduk di loby di lantai yang sama. Apa yang sudah ku lakukan? Mengingat ancamannya pada Dora. Takut jika Dora setuju. Ia benar-benar tidak akan melihat bagaimana Andava menjalankan semua pekerjaan.


Gara melihat jam tangannya lalu berdiri berjalan menuju lift.


"Ben. Jam berapa kedatangan Jerry?" Gara menelpon.


Sementara itu di rumah sederhana Divine. Gio sedang berkutat dengan laptopnya. Divine sedang memasak di dapur. Wajahnya tegang.


Aaaaaa..... Divine berteriak karena terkejut merasakan sentuhan di tangan yang sedang bertengger di pinggangnya.


"Ini Gio Ma? Mama kenapa kaget seperti itu?" tanya Gio. Tidak biasanya Divine menunjukkan ekspresi seperti ini.


Divine mengelus dadanya. Lalu membawa anaknya mengendap jalan kearah ruang tamu.


Gio yang tidak mengerti berjalan seperti biasa.


"Sayang pelan kan langkah mu!" titah Divine lalu menunduk di bawa jendela.


Gio diam saja menanti ibunya memberi penjelasan ikut menunduk di bawah jendela. Melihat keluar jendela tidak ada apa pun yang mencurigakan di depan sana.


"Gio pernah lihat mobil hitam parkir di depan rumah kita?" tanya Divine. Sudah 3 hari ada mobil hitam yang terparkir di jalan depan rumah Divine.


Divine menarik bibirnya mendapat jawaban Gio yang menohok. Sedangkan ia merasa sedang di awasi.


"Masalahnya Mama gak pernah lihat orangnya?" ucap Divine mencoba membuat anaknya sepemikiran dengannya. Mungkin biar ketakutan bareng gitu.


"Kan orangnya ga ke rumah kita." jawab Gio lagi.


"Sudahlah Gio, kamu balik aja sana ke kamar mu." Divine menyerah mengajak Gio ikut berprasangka sama dengannya. Mungkin juga Gio ada benarnya. Divine kembali ke dapur setelah Gio kembali terlebih dahulu.


Divine menyajikan makan siang di meja lalu beralih memanggil Gio di kamarnya.


"Gio." seru Divine yang langsung di sela oleh Gio.


"Ma sini sebentar." Panggil Gio. Divine pun mendekat ke arah Gio yang terpaku pada laptopnya.


"Lihat ini." Gio menunjukkan sebuah berita kebangkrutan karena perselingkuhan.


"Ah itu sudah biasa, makanya kalau Gio besar nanti Gio harus jadi orang yang setia." tutur Divine sembari menasehati putranya.


"Tapi Ma, apa hanya kebetulan?" Gio menunjuk nama pasangan suami istri di layar laptopnya. Mata Divine terbuka lebar melihat nama Bravijna dan Soraya berada disana. Divine menggeser Gio dari tempat duduknya. Membaca keseluruhan berita di depannya. Memperhatikan tanggal terbit berita.

__ADS_1


"Apa benar kakek dan Nenek Gio Ma?" tanya Gio.


Divine menaikkan pundaknya. Ia tidak yakin. Hanya saja tanggal berita itu tidak jauh dengan kelahiran Gio. Hanya selisih beberapa bulan. Mengingat-ingat kapan mertuanya tiba-tiba datang ke Indonesia dengan alasan sudah menyiapkannya sejak kelahiran Gio agar bisa lebih lama berada di Indonesia.


Di sisi lain. Tiga pria tengah berkumpul di dalam 1 mobil.


"Posisi duduk ini terasa sangat aneh ya." celetuk Jerry yang duduk di kursi penumpang melihat Gara yang sedang menyetir dan Ben duduk di sampingnya.


Gara diam saja menerima nasibnya.


"Jadi kau sudah menemukan Divi?" ungkap Ben membuat Jerry terbelalak. Ia sudah jauh-jauh kesini dan meninggalkan putrinya.


"Kalau benar begitu aku pulang saja." sahut Jerry.


"Tidak bisa, kamu masih harus membantu sahabat mu untuk mendapatkan Andava kembali." Gara menimpali.


"Harusnya dari awal aku tahu kau tidak pantas untuk Divi." ketus Jerry.


Gara langsung menginjak rem. memberhentikan mobilnya Membuat para penumpang hampir terbentur. Geram. Semua hal buruk terus saja mengarah padanya. Padahal itu bukanlah kemauannya.


"Kenapa kau berhenti tiba-tiba Gara, kepala ku hampir saja butuh perawatan." beo Ben.


Namun Gara diam saja sedang menarik napasnya panjang. Jika tidak butuh bantuan teman-temannya ini. Dia sudah memukul wajah Jerry dan Ben.


"Untuk sementara biarkan Divi, aku takut ia bersembunyi lagi." tutur Gara setelah merasa lebih baik.


Ia pun mengatakan untuk berfokus pada Andava agar kembali ke tempatnya.


"Tapi Gara, bisa kah kau menceritakan semua perkaranya, aku tidak ingin berdiri di tempat yang salah." Jerry membuka kakinya lebar mencondongkan badannya ke depan dengan tangan yang saling bergenggaman.


Gara dan Ben saling melempar pandangannya.


.


.


.


Jangan santet online author๐Ÿ˜‚


kasih hadiah yang banyak aja ๐Ÿ˜


nanti Author bongkar di next episode ๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Kebelet pengen masuk rangking 10 besar ๐Ÿคญ


__ADS_2