Istri Pajangan

Istri Pajangan
GIODAVA 11


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Ibu mertua, suami dan Bian. Inah tak sengaja berjalan ke arah dimana Gara berada.


"Papa, maaf Inah tidak tau Papa disini."  ucap Inah setelah mengagetkan Gara yang sedang mendengarkan suara dibalik telpon.


"Tidak." jawab Gara yang langsung memutus panggilan telponnya.


Inah tersenyum dan mundur berniat meninggalkan ayah mertuanya yang masih melihat kearahnya.


"Kamu sudah bertemu dengan Neneknya Gio?" tanya Gara sembari duduk dengan menyilangkan kakinya.


Inah berhenti bergerak. "Sudah Pa." jawahnya singkat. Ingin sekali ia menambahkan kalimatnya bahwa Nenek Gio tampak tidak menyukainya.


"Aku tidak menyukainya." tutur Gara secara gamblang.


Inah tertegun mendengar apa yang baru saja Gara katakan. Berpikir bagaimana bisa seorang anak lelaki tidak menyukai ibunya. Bukankah anak lelaki sangat menyayangi ibunya? Inah bertanya-tanya lalu berpikir untuk mencari alasannya tanpa berpikir.


"Karena Papa hanya menyukai Mama Divine?" tebaknya sesuai dengan apa yang ia lihat selama ini. Papa mertuanya yang begitu lengket dengan istrinya. Agak sedikit tidak normal menurutnya.


"Ya kau benar,  sekarang aku merindukannya." Gara berlalu meninggalkan Inah sendiri. Rasanya ia ingin tertawa keras. Ayah mertuanya ini begitu acak tapi lebih baik daripada putranya.


"Oh seandainya suamiku juga semanis Papa Gara, aku pasti akan lebih manis darinya." Mendadak Inah memiliki pria idaman. Dia mulai berani memimpikan seorang pria dengan wajahnya yang belum juga tuntas darik masalahnya.


"Ah manabisa, wajahku saja tidak ada seujung kuku wajah mama Divine." tuturnya frustasi sembari memutar-mutar garpu yang berisi irisan buah mangga dan berakhir ia letakkan di atas meja tanpa memakannya.


Inah kembali melayangkan pikirannya. Kenapa tiba-tiba ia menjadi menantu rumah ini, bahkan menikah dengan orang yang tidak ia kenali. Duduk bersedekap di tempat ayah mertuanya duduk beberapa waktu lalu. Memikirkan soal foto editan miliknya yang sudah jelas bukan penyebabnya.


"Ah.." Pekik Inah terkejut. Wajah Bian tiba-tiba ada di depannya. Nyatanya Bian sudah sejak tadi menatap ke arahnya. Hanya saja Inah tidak menyadarinya.


"Masa kaget sih, ganteng gini juga." celoteh Bian sembari memakan rujak milik Inah yang belum sempat ia sentuh.


"Kamu kalo datang permisi dulu dong."


"Udah, kamunya aja yang gak denger."

__ADS_1


Inah menggaruk kepalanya. Malu tersipu di depan Bian.


 


"Biaaaaan." Gio memanggilnya dengan sedikit berteriak. Baru sebentar Bian berbicara dengan Inah. Panggilan untuknya sudah terdengar dari suami wanita yang duduk di depannya ini.


"Suami kamu aneh akhir-akhir ini." celetuk Bian sebelum meninggalkan Inah.


 


"Aneh apanya, cuma dia laki-laki normal di rumah ini." oceh Inah sendirian. Akan Aneh jadinya jika Gio pria idaman banyak wanita itu menerima saja nasibnya beristrikan wanita buruk rupa sepertinya. Itu yang tersimpan di dalam kepala Inah.


 


Bian menghampiri Gio yang tidak jauh dari tempatnya tadi. Namun Gio diam saja setelah Bian sudah berada di depannya. Bian memajukan bibirnya beberapa senti menggerakkannya ke kiri ke kanan. Kesal dengan Gio yang memanggilnya tanpa alasan.


"Jika kau tidak bicara aku akan pergi lagi." ucap Bian. Lima belas menit sudah dia berdiri di depannya tapi Gio belum juga memerintahkan sesuatu padanya. Semua pekerjaan juga tidak ada yang sedang di tunggu atau yang harus di selesaikan.


"Belikan aku di minimarket."


"Belikan saja, apa saja jika masih bingung belikan saja air mineral."


Mata Bian melotot sembari lehernya ikut bergerak maju. Bukankah Gio sangat tidak jelas. Bahkan dia memerintahkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu. Air mineral bahkan tersedia di samping kirinya masih tersegel dengan aman. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2