
Peluh keringat terlihat di dahi Divine dengan mata tertutup. Disampingnya berbaring seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang memeluknya. Divine tersadar di lihatnya jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi.
Hari-hari telah berlalu, kini semuanya telah berubah.
"Ku pikir hanya mimpi, tapi ini mimpi yang nyata." melempar pandangannya pada ranjang yang tidak begitu luas yang setengahnya kosong. Menatap lekat sosok anak yang berada di sampingnya yaitu Gio yang tumbuh dengan cepat kini adalah pria satu-satunya yang menemani Divine tidur di ranjangnya.
Kisah manis kini hanya dalam kenangan. Air mata Divine mengalir mengantar dirinya kembali tidur dalam kesedihan.
Hawa dingin menusuk hingga ke tulang, Membangunkan Divine untuk segera memulai pekerjaannya. Hingga Matahari pagi menembus kamar dan membangunkan Gio. "Ma..." panggil Gio yang baru saja membuka mata, lagi-lagi tidak menemukan ibunya di sampingnya.
"Iya, mama di dapur sayang." sahut Divine yang sedang membuat susu untuk Gio.
Suara yang membuat hati Gio merasa lebih baik dari apapun. Gio beranjak dari tempat tidur berjalan menuju tempat yang ibunya sebut. Setelah melihat ibunya sedang berdiri di depan meja makan Gio tersenyum dengan mulut tertutup. Begitupun Divine memberikan senyum hangatnya pada sang anak.
Gio berlalu menuju kamar mandi karena melihat ibunya yang sudah cantik dan rapi membuatnya tak ingin mendekat pada ibunya dengan bau iler. Mata Gio terhenti saat melihat cucian yang baru keluar dari pengering di depan mesin cuci. Gio pun langsung mengambil hanger dan menjemur beberapa lembar pakaian di dalam wadah.
Divine yang melihat apa yang Gio kerjakan ia hanya bisa tersenyum sudah seminggu ini Gio selalu melakukannya.
Gio baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi area vitalnya. Divine mengikutinya masuk ke dalam kamar untuk membantu Gio memakai pakaiannya.
"Ma, ngapain kesini?" protes Gio karena Divine mengikutinya. Malu karena dia sudah merasa besar.
Divine terpaksa keluar dari kamar dengan menarik bibirnya kencang, Anak ini menjadi dewasa terlalu cepat. Gumam Divine dalam hatinya.
Divine duduk di meja makan bundar dengan 2 kursi. Nasi goreng telur orak-arik melimpah kesukaan Gio sudah tersedia di atas meja. Gio tiba dengan celana panjang dan baju berkerah. Itulah style Gio selama ini.
"Wah anak mama memang paling Tampan." seru Divine melihat Gio yang kini sudah duduk di kursinya.
"Apanya tampan, aku merasa cantik." elak Gio tidak percaya diri karena bulu matanya yang panjang, bibirnya yang merah kulitnya yang halus dan putih. Raut wajah Gio datar menuang air putih ke gelasnya.
Divine tergelak mendengar ucapan Gio. Tahu anaknya itu sedang kesal. "Apa ada yang mengejek mu?" tanya Divine sembari mendekatkan piring ke arah Gio.
"Tidak ma, aku hanya punya satu teman dan teman ku itu selalu berkata aku tampan." jawab Gio. Tangannya sudah meraih sendok untuk mulai sarapan. "Mama liat apa? ayo sarapan!" perintah Gio pada sang ibu yang sedang menatapnya. Kemiripan Gio dengan sang ayah membuat Divine tidak akan bisa melupakannya.
Divine tersenyum. Mulai sarapan, pikirannya mengambang.
Aku mungkin terlihat egois, tapi itu demi kebaikannya. Divine mengenang semua yang terjadi sebelum ia berakhir disini.
"Ma..," panggil Gio melihat Ibunya makan dengan tatapan kosong. Namun Divine tidak mendengarnya. Gio menyentuh tangan ibunya. Seketika Divine tersadar.
__ADS_1
"Mama melamun lagi?" Gio menatapnya tajam. Tak suka melihat ibunya sering termenung.
Divine hanya bisa menyeringai karena tidak bisa mengelak. "Tadi Gio bilang apa?" tanya Divine seolah Gio mungkin tadi berkata sesuatu tapi ia tidak mendengarnya.
"Hmmm." Gio hanya berdehem. Malas melanjutkan apa yang ingin ia katakan tadi.
Divine pun merayu anak semata wayangnya itu dengan wajah manis di depannya. Tangan Divine mengepal longgar di bawah dagunya dengan mata berkedip-kedip. Memohon pada Gio.
Gio menghela napas dengan menutup matanya sebentar langsung membukanya lagi. "Karena mama sudah tua, sebaiknya mama hentikan pekerjaan rumah, biar Gio yang mengerjakannya!" ucap Gio serius. Bocah berusia 7 tahun.
Divine hendak membuka mulut menyanggah kalimat Gio. Namun Gio menghentikannya dengan mengangkat jari telunjuknya di antara mereka. "Ssssttttt..."
"Pasti mama mau bilang, Gio masih kecil. Tapi Gio sudah dewasa 3 tahun lagi Gio akan masuk sekolah menengah." serius Gio. 3 tahun lagi usianya baru 10 tahun. Namun karena kecerdasannya Gio beberapa kali berhasil lompat kelas.
Divine tergelak lagi, karena Gio menyombongkan diri sebentar lagi akan masuk sekolah menengah. Apa ada yang bilang sekolah menengah berarti sudah dewasa.
"Mama, Gio serius!" tekan Gio pada sang ibu yang terus tertawa karena merasa anaknya sedang membanyol.
"Baiklah sayang, terserah pada mu, mama akan mengikuti mu, dengan catatan mama akan mengawasi semua pekerjaan mu, jika pekerjaan rumah mengganggu nilai mu, mama tidak akan tinggal diam." ancam Divine pada putranya.
Mereka pun menghabiskan sarapan. Menghabiskan hari libur hanya di rumah dengan membaca buku.
Divine menarik napas panjang. Mengerti anaknya juga butuh melihat dunia luar. 5 tahun sudah mereka hidup di persembunyiannya. "Gio mau kemana?" tanya Divine pada Gio yang sedang berbaring dengan berbantal kaki sang ibu.
"Mama mau kemana?" tanya Gio balik, sembari menutup buku yang sedang ia baca.
Divine terdiam. Di benaknya teringat sebuah rumah besar dimana saat Gio berlarian membuatnya memperlihatkan urat lehernya karena Gio terus-terusan berlari takut Gio terjatuh dan terluka.
"Mama melamun lagi, mama ingat papa ya?" tuding Gio. Bangun duduk bersila di depan Divine.
Divine terkesiap mendengar ucapan Gio. Tidak menjawab tudingan Gio. Bangun dengan alasan mengangkat jemuran dengan berkata sudah mau hujan. Padahal cuaca sangat terang.
Gio yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan keluarganya sampai membuat mereka bersembunyi hanya bisa menduga-menduga. Setiap rangkaian mengenai ibunya seakan menjawab semua pertanyaannya walau tidak bisa ia pastikan apa yang ia pikirkan adalah benar.
Gio bangun dari tempat duduknya, tingginya yang kini sudah 135cm membuatnya tidak kesulitan menjangkau rak buku di rumah sederhana yang mereka tempati. Ia hanya butuh kursi untuk mencapai tempat tertinggi. Inilah sumber kecerdasan Gio. Beragam buku yang ia baca seakan terserap dengan mudahnya.
Setiap Gio mencapai keberhasilan Divine selalu memberikan hadiah berupa buku baru. Buku dan buku.
"Ma.." panggil Gio saat tidak menemukan buku yang pernah ia baca setelah mencari di seluruh rak.
__ADS_1
"Ya Gio, begitu mau mengurus rumah tangga, sebentar-sebentar masih panggil mama." ejek Divine pada putranya saat kembali ke ruang tengah mereka yang bisa ia tebak, Gio pasti akan bertanya sesuatu dengan kata tanya dimana.
"Dimana buku The Practice of Managemen Ma?" Gio bertanya pada intinya. Membuat sang ibu tersenyum karena tebakannya benar. Gio mengerucutkan bibirnya melihat ibunya tersenyum.
"Apa arti senyum mama itu, coba mama dikte seperti biasa, Gio akan menemukannya." tambah Gio, membaca ekspresi sang ibu sedang mengejeknya karena selalu saja sulit menemukan sesuatu bahkan saat Divine mengarahkannya dengan jelas.
Divine tersenyum lagi dan beranjak dari tempatnya membuka sebuah kotak yang berupa tempat duduk.
"Ini, buku tua ini?" Divine menyodorkan buku lusuh di tangannya.
"Mama jangan meremehkan Gio ya, mama tahu tidak ada studi yang menunjukkan cara melihat seorang wanita dan seorang pria itu berbeda?" jelas Gio tak suka Divine terus saja mengejeknya siang ini.
"Iya sayang, dan lagi anak mama ini seorang pria, hayuk bereskan gudang dan jadikan itu kamar mu." ajak Divine. Mengingat anaknya itu sudah waktunya tidak tidur bersamanya lagi.
"Kalau itu sulit Ma, Gio takut kalau tiba-tiba mati lampu." jujur Gio dengan buku tua yang sudah berpindah ke tangannya.
Bagaimana aku bisa lupa, semua tentang Gio mengingatkan ku padanya? gumam Divine di dalam hatinya.
Divine berlari ke kamar meninggalkan Gio. Teringat sebuah malam ketika suaminya mendekat padanya karena listrik yang tiba-tiba padam.
Di lain tempat.
Gara sedang duduk di sofa memangku kepalanya dengan tangan kanan di dalam kamar yang dimana dulunya itu adalah kamar Divine. Seorang wanita berambut panjang berwarna kuning pirang mendekatinya. Hendak memegang pundak Gara namun Gara dengan cepat bergeser sehingga wanita itu tidak sempat menyentuh Gara.
"Apa?" ketus Gara. Dengan wajah benci kepada wanita di depannya itu.
"Kau butuh aku, tanpa ku kamu tidak bisa melakukan apapun." sombong wanita itu di depan Gara lalu duduk di sampingnya.
"Nikmati saja posisi mu." Gara berdiri meninggalkan wanita dengan pakaian yang bisa menggoda pria hidung belang.
Wanita itu hanya menaikkan alisnya dengan tangan di lipat di depan dadanya melihat Gara hilang di balik pintu.
.
.
.
Terimakasih masih setia dengan karya ini.
__ADS_1
Jadikan Favorit agar dapat notif setiap ada update baru. Sebagai penyemangat untuk terus berkarya Author minta dukungannya yaa... Beri like koment dan hadiah untuk author. ☺️