Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps.75


__ADS_3

Divine melihat keterpurukan Gara disaat ia masih berada di sampingnya, entah bagaimana jadinya Gara jika Divine benar-benar mengikuti pikiranya untuk meninggalkan Gara.


Aku juga mencintaimu, walau aku terlihat tegar tak pernah memperdulikan bagaimana sikap mu terhadap ku di awal pernikahan kita, mencoba bertahan saat aku merasa lelah dan kau berdrama menjadi ayahku agar tetap bisa bersama ku, namun sejak itu kita selalu bersama, hubungan kita menjadi semakin baik seperti pasangan suami istri pada umumnya, tapi aku sungguh tak menyangka kebahagiaan ku saat ini adalah hasil menghancurkan kehidupan orang lain.


Divine merasa dirinya sangat bersalah. Hingga lamunannya buyar mendengar suara dering di ponsel Gara. Divine pun meraih ponsel Gara yang sejak tadi tergeletak di tempat tidur, terlihat bahwa ibu Gara yang sedang menelpon. Divine pun mengangkat telpon dari ibu mertuanya itu, tak mungkin ia memberikan ponsel itu pada Gara yang sedang porak poranda seperti baru saja di terjang badai.


“Halo Ibu,” ucap Divine saat panggilan telah tersambung.


“Oh Divi ya, Halo nak, dimana Gara?” suara ibu Gara di balik telpon.


“Ada Bu, bagaimana kabar ibu di sana?”


“Baik saja, bagaimana kabar kalian, kapan mau mengunjungi ibu?”


“Kami baik Bu, ya kami akan mengunjungi ibu secepatnya, apa ada sesuatu yang penting yang mau di sampaikan pada Gara Bu?”


“Oh tidak sayang, ibu hanya ingin tahu kabar kalian.”

__ADS_1


“Begitu Bu, jika ibu ada waktu, datanglah kemari Bu, atau tinggal di Indonesia saja, kami senang jika ibu bisa bersama kami di sini.”


Gara mencolek istrinya,mendengar apa yang Divine katakan pada ibunya.


“Terimakasih nak, Gara tak akan senang jika ibu tinggal bersama kalian,” ucap ibu Gara di balik telpon. Sebesar apapun seorang anak, seorang ibu akan memperlakukannya anaknya seperti anak kecil. Bisa-bisa Gara bukan hanya malu karena sikapnya saat ini, tapi juga di tambah sikap ibunya memperlakukannya.


Divine menoleh ke arah Gara saat mendengar ucapan ibu Gara barusan. Percakapan mertua dan menantu di telpon pun selesai.


“Ada apa, kenapa ibu berkata kau tak akan suka jika ia tinggal bersama kita disini?”


“Tidak, aku tidak bilang begitu,” jawab Gara yang terus menempel di tempat kesukaannya itu.


Mandi bersama sudah sering mereka lakukan, hanya ada sedikit perbedaan kali ini, karena Divine yang mengajak untuk membantu Gara mandi.


Gara yang mendengar ucapan Divine seketika bersemangat.


“Kau sudah benar-benar tidak sabar ya, bahkan sekarang mengajak ku mandi bersama,” jawab Gara.

__ADS_1


“Gak, yaudah ga usah mandi aja, aku akan turun untuk makan malam,” jawab Divine.


“Yaudh tunggu aku sebentar, janji yaa, ga tinggalin aku.” ucap Gara. Divine pun mengangguk, dan Gara


beranjak menuju kamar mandi dengan berjalan mundur agar bisa terus melihat wajah istrinya itu.


“Buruan sana, aku sudah lapar,” ucap Divine.


Akhirnya Gara masuk ke dalam kamar mandi, dengan cepat ia membersihkan seluruh tubuhnya. Saat suara air memenuhi ruangan kamar mandi Gara merasa ruangan di depan kamar mandi menjadi sangat sunyi seperti tak ada Divine di sana.


“Sayang...,” suara Gara memenuhi kamar mandi hingga menembus ke luar.


Namun tak ada jawaban dari Divine, Gara memutuskan keluar dari kamar mandi dengan busa yang masih memenuhi tubuhnya.


Saat pintu terbuka Divine sudah berdiri di depannya, seketika Gara dan Divine mengingat kejadian malam itu, saat-saat mereka baru saja menikah, dimana Gara masih memperlakukan Divine seenaknya.


Divine seketika melupakan yang baru saja terlintas di ingatannya. “Ada apa memanggilku?”

__ADS_1


Gara lagi-lagi langsung memeluk Divine, teringat semua hal saat awal-awal pernikahan mereka, betapa buruk dan bodohnya dirinya dulu.


Namun saat memeluk Divine, Gara terkekeh karena ia mengingat malam itu adalah pertama kali Divine melihat seluruh tubuhnya dan mengingat wajah lucu Divine yang memerah karena itu.


__ADS_2