Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Pulang ke Rumah


__ADS_3

Hari ke-enam pasca operasi. Harusnya sejak hari ke-dua Divine sudah mulai belajar berdiri dan berjalan. Namun karena denyut jantungnya yang tiba-tiba saja tidak normal. Ia baru bisa belajar berdiri dan berjalan di hari ini.


Dokter sudah menyuntikkan obat penghilang rasa sakit hingga Divine benar-benar tidak lagi begitu merasakan sakit karena sayatan pisau bedah di perutnya.


“Hei, perhatikan gerakan mu! walau tidak terasa sakit tetap saja perut mu itu masih terluka.” omel Gara melihat istrinya sudah berjalan dengan santai ke arah box baby Gio.


Sepertinya aku salah sudah meminta dokter memberikannya obat penghilang rasa sakit itu.


"Tidak apa sayang lagian sudah tidak sakit.” bantah Divine. Ia tidak tahu kalau dokter telah memberinya bukan obat biasa.


“Kamu pikir itu sungguhan tidak sakit? Itu hanya karena efek obat yang dokter berikan.”


Mata Divine membesar. Terkejut dan takut langsung berpegangan pada box baby Gio, tadinya ia sudah ingin menggendong buah hatinya itu.


“Sini cepat bantu aku.” panggil Divine ia tak berani berdiri tegak dengan kakinya. Badannya membungkuk.


Gara pun langsung mendekat dan membopong Divine.


Harusnya aku tidak perlu meminta Dokter untuk memberinya obat penghilang sakit, cukup pereda sakit biasa saja. Seringai licik muncul di bibir Gara.


Gara berdiri di depan box baby Gio sembari menggendong Divine di depan dadanya. Memperlihatkan pada Baby Gio, ia sedang menggendong istri yang merupakan ibu baby Gio dengan wajah kemenangan.


“Cepat bawa aku ke tempat tidur.” ucap Divine.


“Kenapa? apa kamu sudah tidak suka aku menggendong mu?”


Kalau bisa, Gara mau istrinya itu terus menempel pada dirinya.


“Bukan begitu sayang, kau lihat dia sudah sejak tadi terbangun. Ia pasti lapar.”


“Dia lagi.” ucap Gara dengan wajah layu. Hidupnya sungguh telah di akuisisi oleh anaknya sendiri.


Gara pun beranjak dari box bayi menuju ranjang perawatan Divine. Merebahkan istrinya disana.


Divine meraih tangan Gara saat hendak meninggalkannya. Gara berbalik melihat ke arah Divine.


“Ada apa?” tanya Gara yang sudah ia ketahui jawabannya. Istrinya itu akan memintanya untuk membawakan baby Gio padanya.


Divine menepuk sisi tempat tidur dekat pinggangnya yang sedang berbaring.


Gara menyipitkan matanya. Ia sudah salah menduga. Membaca apa yang sedang istrinya lakukan kali ini. Namun ia mengikut pinta Divine untuk duduk di sampingnya.


Divine mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan di leher Gara dan ia menarik Gara ke arahnya.


Cup.. Divine mengecup bibir suaminya yang terus-terusan cemburu pada baby Gio.


Pupil mata Gara membesar. Sudut bibirnya terangkat. Senang. Bahagia. Gembira. Perasaan Gara saat ini. Tak menyangka Divine akan menciumnya.


Gara membalas mencium Divine. Tapi kini bukan sebuah kecupan. Ia ******* habis bibir Divine. Suara em..uch..ach.. pun tidak terelakkan lagi.


Divine menutup mulut Gara, saat hendak menyusuri lehernya dan tangannya yang mau menyusup ke dalam bajunya. Lalu mencium pipi suaminya itu untuk menyudahi perbuatan iya-iya mereka.


“Kau harus menahannya sayang, paling tidak 40 hari.”


Gara terdiam mulutnya terbuka. Menganga.


“Apa! jangan mengada-ngada ya sayang?” Gara tak percaya.


Mana Gara mengerti soal masa nifas yang bisa berlangsung beberapa Minggu hingga bersih benar. Setiap orang pun berbeda, bahkan ada yang lebih lama.


“Coba saja cari tahu sendiri.” timpal Divine.


Baby Gio tiba-tiba menangis.


“Sayang cepat ambil dia!” titah Divine mendengar anaknya itu menangis.


Baby Gio jadi orang yang sabar karena ia memiliki ayah seperti Gara. Hari ini pun menjadi hari pertamanya bersabar menunggu ayah dan ibunya bermesraan. Hingga ia menangis karena sudah merasa sangat lapar.


Gara sudah berdiri di depan baby Gio.


“Bagaimana sayang? aku tidak tau.” Gara masih saja tidak bisa menggendong anaknya.


Sibuk cemburu aja sih. Makanya ga bisa-bisa.


“Letakkan 1 tangan mu untuk menopang leher dan kepalanya dan 1 tangan lainnya menyanggah bokong dan belakangnya.” Ajar Divine.


Gara bukannya mengikuti instruksi Divine ia malah menekan tombol untuk memanggil perawat.


Perawat pun dengan cepat masuk ke ruangan mereka dan menggendong baby Gio untuk di berikan kepada ibunya. Tentunya sudah mencuci tangan atas perintah Gara sebelum menyentuh bayinya.

__ADS_1


Lagi Gara melihat baby Gio menyusu dengan nikmatnya. Ia hanya bisa mendengus. Baru saja Divine menunjukkan tetap cinta padanya. Membuat Gara tidak protes sejenak.


Di sisi lain. Ben sedang bersama Tuan Amo yang sudah semakin tua di rumah Divine.


Kamar bayi terpisah.


Gara meminta kamar sendiri untuk anaknya itu. Mendadak. Ya tiba-tiba.


Tadinya Divine tak ingin membuat kamar bayi terlebih dulu. Itu adalah hal mudah, ia bisa membuat kamar bayi setelah bayinya cukup umur untuk tidur terpisah dengannya.


Awalnya pun Gara setuju. Tapi ternyata setelah melihat Baby Gio yang terus menempel pada istrinya membuatnya membatalkan keinginan Divine itu. Diam-diam ia langsung meminta Ben untuk membuat kamar bayi sekarang juga.


“Kakek Gio.” panggil Ben yang sedang mengitari kamar bayi. Bercat putih dan perabotan serta hiasan dominan berwarna biru.


“Jangan panggil seperti itu tuan Ben, almarhum Tuan Besar lah yang pantas.” sanggah Tuan Amo.


“Iya Tuan, tapi baby Gio akan lebih mengenal tuan nantinya, saya rasa pun Divi tidak akan keberatan.”


“Ya, Aku yang tidak memiliki anak beruntung bisa memiliki Divine yang baik hati dan kini memberikan cucu, walau bukan darah daging ku dan untuk nyonya dan tuan besar sangat tidak beruntung tidak dapat melihat anak dan cucunya kini yang tengah sangat bahagia.”


“Tuan dan nyonya besar berhasil membesarkan Divine hingga kini membuat jalinan keluarga diantara kita.” Ben membuka pintu yang terhubung dengan kamar Gara dan Divine.


“Tuan Amo, apa ini bagus?” tanya Ben perihal pintu tersebut.


“Bahkan sangat bagus, karena akan memudahkan orang tuanya menghampiri bayi mereka.” pikir Tuan Amo sebagai orang tua.


Namun tidak dengan pikiran Ben. Ia merasa Gara tidak akan suka.


Maksud Gara membuat kamar ini kan agar ia bisa terus menerus bersama Divi bebas dari gangguan sang anak. Tapi kalau begini. Batin Eza sembari menahan tawanya.


“Hemm ya benar Tuan.” sahut Ben masih menahan tawanya.


“Kalau begitu mari jemput mereka.” ucap Tuan Amo merasa kamar baby Gio sudah selesai dan tertata rapi.


Ben dan Tuan Amo pun beranjak dan pergi dengan mobil mereka masing-masing. Tuan Amo bersama supirnya. Ia sudah lama tidak menyetir.


Ben yang sendiri di dalam mobilnya sedang memikirkan sesuatu. Dahinya mengkerut, cuplikan masalalu saat ia SMA kembali terbayang.


Usianya yang sudah tidak muda kini telah menginjak angka 30 membuatnya berpikir untuk menikah juga. Seketika ia tergelak saat satu pertanyaan muncul di benaknya.


“Siapa?”


Siapa yang akan menjadi istriku. Batin Ben pipinya menggembung.


Baby Gio yang sudah tertidur baru saja melepas put*ng susu ibunya.


Gara merapikan baju Divine yang terbuka, dan mengembalikan payudar* Divine ke dalam tempatnya.


Mana bisa Divine diam. Ia langsung mendesah kecil. Gara membungkam mulut Divine dengan ciumannya padahal baby Gio masih berada di dalam gendongan sang ibu.


Tok..tok..tok.. Suara ketukan terdengar sebelum Ben langsung masuk begitu saja. hampir matanya ternodai lagi.


Di susul oleh tuan Amo yang ikut masuk ke ruang rawat Divine.


Mata Divine berkaca-kaca melihat kedatangan Tuan Amo.


Tuan Amo mendekat pada Divi segera ingin memeluknya yang sedang menggendong baby Gio di tangannya.


“Sayang biar ku letakkan baby Gio di boxnya.” Gara menyela Tuan Amo yang sudah berada di depan Divine. Hingga Tuan Amo tidak jadi memeluk Divine.


“Apa kau bisa?” tanya Divine. Siap memberikan baby Gio dari tangannya yang sedang terlelap.


“Iya sini, letakkan pelan-pelan.” jawab Gara setelah memanggil Ben dengan tangannya untuk mendekat.


Divine pun meletakkan baby Gio di tangan Gara. Berhasil. Gara sukses menggendong bayi kecil yang selalu ia cemburui itu.


Demi menghentikan Tuan Amo memeluk Divine ia memantapkan hatinya untuk bisa menggendong bayi Gio.


“Hey bocah, aku senang akan kehadiran mu. Tapi aku tak menyangka kau akan mengambil semua perhatian Divi yang tadinya hanya kepada ku.” bisik Gara pada baby Gio yang tidak seorang pun mendengarnya.


Tiba-tiba baby Gio menggeliat dan mengerucutkan bibirnya. Lucu. Sangat menggemaskan.


Tanpa sadar Gara mendaratkan ciumannya pada sudut bibir baby Gio.


Kali pertama Gara mencium anaknya atas kehendak sendiri. Beberapa hari ini Gara mencium baby Gio atas permintaan Divine.


Seketika baby Gio membuka mata saat merasakan ciuman ayahnya. Terjadi saling pandang antara baby Gio dan sang ayah. Sayang dan kasih seolah mengalir lewat pandangan mereka. Tak sadar bulir air mata Gara telah menetes di sudut matanya.


Enam pasang mata tertuju pada sang ayah yang sedang menggendong bayi kecilnya untuk pertama kali dengan posisi membelakangi mereka dan menghadap box bayi.

__ADS_1


Diam membisu tanpa bergerak saling memandang satu sama lain seolah ia sedang berbicara di dalam hati.


“Ternyata seperti ini rasanya.” gumam Gara pelan. Ia pikir memiliki anak hanya untuk sebuah pewaris keluarga.


Tuan Gara, terus orang biasa tidak memiliki kekayaan tidak perlu punya anak begitu. Toh tidak ada juga yang akan di warisinya.


Baby Gio masih terus memandang ayahnya. Sepertinya ia senang berada dalam gendongan sang ayah. Jika benar, itu artinya baby Gio mewarisi sifat sang ibu yang suka di gendong oleh Gara dan suka menggoda Gara. Terlihat ketika Gara yang tiba-tiba menciumnya karena ulah baby Gio tadi.


“Hey, tidak perlu menatap ku terus. Aku tidak akan membatalkan kamar terpisah untuk mu.” Gara berbisik lagi pada baby Gio.


Baby Gio menendang tangan ayahnya dengan kaki kecilnya.


“Percuma kau menendang ku. Aku tidak akan goyah.” ucap Gara lagi.


Divine melihat Gara yang belum juga meletakkan baby Gio di dalam boxnya.


“Ada apa sayang? apa kau kesulitan?”


Gara memutar tubuhnya. “Tidak sayang dia terbangun.” jawab Gara. belum tertutup mulut Gara. Ia melihat wajah baby Gio yang yang sudah menutup matanya lagi.


Hah, apa-apaan ini ?


Gara pun meletakkan baby Gio di dalam box bayi, namun tangannya tertinggal karena tertindih leher dan baby Gio.


“Ben bagaimana ini?” panggil Gara pelan.


Ben langsung mendekat dan melihat apa yang terjadi.


“Puufffftt...” Pipi Ben menggembung.


“Jangan tertawa!” geram Gara melihat Ben sedang menahan tawanya. “Awas kau ya Ben.” tambahnya lagi setelah Ben menolongnya.


Ben hanya mengulum bibirnya mendengar perkataan Gara.


“Apa kalian sudah mau kembali ke rumah? Dokter juga sudah mengijinkan.” ujar Tuan Amo.


“Bagaimana sayang?” tanya Gara yang masih mengkhawatirkan keadaan istrinya jika tiba-tiba sesuatu terjadi lagi.


“Ya aku mau.” sahut Divine mantap.


“Kalau begitu aku akan membawa semua hadiah-hadiah ini.” Ben sudah memegang beberapa di tangannya.


“Bawa ke mobilku saja Ben untuk barang-barangnya. Kau temani satu keluarga bahagia ini." Tuan Amo menepuk pundak Divine.


Mereka semua pun bersiap untuk pulang. Ben menyelesaikan berkas-berkas untuk keluar dari rumah sakit. Perawat sudah membawa kursi roda untuk Divine.


Setelah selesai. Divine duduk di kursi roda dengan tangan menggendong baby Gio serta sang ayah yang mendorong kursi roda berisi anak dan istrinya.


“Sayang, jangan lupa buku pink baby Gio?” ujar Divine saat berada di ambang pintu keluar dari ruangannya.


“Iya sayang, ku lihat Ben memasukkan di dalam tas berwarna biru.” jawab Gara yang terus mendorong kursi roda.


“Oh baiklah. Kita akan pulang sayang.” Divine beralih pada baby Gio sembari menciumi wajah baby kecil yang tidak tahu menahu di dalam gendongannya.


Dahi Gara mengkerut lagi.


Bisa ditebak ia sedang risih dengan kata sayang yang keluar dari bibir Divine namun bukan untuknya.


Mereka pun keluar dari lift. Terlihat sudah cahaya terang di depan pintu keluar rumah sakit.


Selamat untuk kelahiran putra Nona Divine dan Tuan Gara


Happy breastfeeding.


Sebuah karangan bunga dengan ucapan tersebut di depan pintu keluar dari rumah sakit dimana ia di rawat.


Divine terenyuh. Kelembutan hati Divine membuatnya gampang tersentuh. Entah saat orang-orang memberinya ucapan ataupun hadiah dengan maksud tertentu atau tidak yang Divine rasakan tetaplah sebuah ketulusan.


Ada bagusnya Divine tidak menjalankan perusahaannya sendiri. Bisa-bisa banyak orang yang hanya menjilatinya untuk kepentingan mereka sendiri.


Sedangkan Gara melihat hal itu adalah hal yang sangat biasa. Menunjukan kepedulian mereka hanya agar di lihat. Tidak ada yang tau apa maksud di balik semua hal yang berbau hadiah. Pikir Gara hidup di dunia tidak ada yang gratis semua mengharapkan imbalan.


Kini Divine dan Gara sudah masuk ke dalam mobil yang akan Ben kemudikan. Siap membelah jalan kembali ke rumah.


Senyum terus terukir di wajah Divine, bukannya hanya sesekali mencium baby Gio. Ia terus menciumi baby mungil itu bahkan menempelkan pipinya dan pipi Gio dalam waktu yang lama membuat Gara mengerucutkan bibirnya.


“Sayang, hentikan! nanti dia tidak bisa bernapas!” titah Gara dengan alasan tidak masuk akal.


Divine hanya menempelkan pipinya bukan menutup hidungnya.

__ADS_1


Sedangkan Ben melirik dari kaca spion di depan.


Tinggal bilang kalau cemburu dan mau dicium juga aja repot banget, pakai alasan segala.


__ADS_2