
"Gio...." pekik Gara.
Semua orang ramai berkumpul di lantai dua. Keluarga kecil itu baru saja kembali dari rumah sakit. Gara dan Divine duduk bersama di atas tempat tidur mereka.
"Ada apa Pa? Gio disini." sahut Gio dari pojok meja di kamar yang sama dengan sang ayah.
"Kemari, bantu Papa ambilkan pampers untuk adikmu!" Gara menunjuk pampers yang tidak dapat ia gapai. Pelayan sudah menyiapakan semua yang ia butuhkan di sekitarnya.
Gio berdiri dan langsung mengerjakan apa yang ayahnya pinta. Gio cukup paham mengenai produk-produk itu.
"Berapa Pa?" tanya Gio sembari melirik ibunya yang sedang menggendong adik perempuannya bersandar di kepala ranjang.
"Satu saja." seru Gara ikut melihat ke arah Divine.
Gio pun memberikan pampers pada Gara dan mendekatkan wajahnya ke depan bayi yang sedang berbaring di depan sang ayah. "Apa kau juga akan tampan seperti ku, hah sebaiknya kau kau mirip denganku." oceh Gio lalu menggesekkan hidung mancungnya ke hidung mancung pria mungil di hadapanya.
"Hei kenapa mirip denganmu, dia anakku!" protes Gara. Lagi-lagi perasaan tak senang muncul padanya. Bahkan tak rela jika putra kecilnya yang baru lahir seminggu lalu ini mirip dengan sang kakak.
Gio melebarkan bibirnya. Rasanya ia sudah sangat paham pada sikap sang ayah yang terus berebut sang ibu dengannya.
"Bukankah wajar jika dia mirip Gio, dia adalah kakaknya." celetuk Divine.
"Tidak bisa dia anakku, bukan anaknya." bantah Gara. Kembali melihat ke arah depannya mulai memasangkan pampers perekat pada bayi baru lahir itu yang sudah ia bersihkan dengan tisu basah tadinya.
__ADS_1
Divine pun ikut menarik setengah bibirnya ke samping. "Di tidak pup sayang?" tanya Divine beralih pada apa yang sedang Gara kerjakan.
"Tidak, aku rasa pampersnya sudah cukup basah." sahut Gara. Ayah dari 3 anak itu mengikuti private perawatan bayi selama usia kandungan Divine di trimester kedua dan fokus kepada Divine saat usia kehamilan Divine berada di trimester ketiga.
Setelah mengetahui Divine mengandung dua bayi sekaligus di tubuh mungilnya. Gara mempersiapkan dirinya jauh lebih baik.
"Tapi rasanya suster baru mengganti pampersnya saat kita hendak pulang tadi."
"Lalu kenapa, kita tidak perlu begitu perhitungan pada anak sendiri." prohtes Gara.
"Yaya terserah padamu." Divine mengalah. Ia hanya memastikan suaminya itu tidak berlebihan pada sang anak. Setidaknya saat ini tidak mengapa. Tapi jangan sampai memanjakannya hingga besar nanti. Begitu pikir Divine.
"Apa putriku itu sudah selesai menyusunya, putraku ini juga ingin menyusu agar dia tumbuh cerdas sepertimu dan tampan sepertiku."
"Dan tidak cemburuan sepertiku." celetuk Gio. Membuat Divine tergelak karena ucapannya.
"Jadi siapa yang bungsu diantara mereka Pa?" tanya Gio penasaran.
"Adik perempuanmu, dia lahir setelah pria mungil itu." jawab Gara sembari menunjuk adik lelaki Gio dengan bibirnya ke arah Divine.
"Tidak, Menurut orangtua dulu, Jika persalinan kembar, anak yang lahir pertama adalah adik. Jadi pria inilah yang bungsu diantara kalian." jawab Divine. Selama kehamilannya Bibi Wen dan pelayan sering membahas perihal bayi kembar. Beberapa pelayan pun membenarkan ucapan Bibi Wen. Pernah mendengar dari orang tua mereka juga.
"Ahh begitu, untunglah aku tidak memiliki kembaran, jika aku punya. Bisa-bisa aku batal menjadi yang tertua." timpal Gio. Senang ia menjadi anak pertama. Ia akan mendidik adik-adiknya dan menjadi orang yang akan di turuti.
Malam pun tiba. Gio sudah tidur di kamar terpisah dengan ayah dan ibunya. Dan digantikan dengan dua bayi yang tidur bersama Gara dan Divine.
__ADS_1
"Ahh sampai kapan lagi bayi-bayi ini tidur disini, Gio saja sampai ia berusia 8 tahun, apakah bayi-bayi ini sampai 16 tahun karena mereka berdua." celoteh Gara yang baru saja ingin merebahkan dirinya dan melihat dua bayi-bayi itu membuat jarak dirinya dan istrinya.
"Pa.... Di panggil istrimu." Gio baru saja masuk ke kamar ayahnya yang pintunya terbuka. Gara tersenyum tersipu mendengar ucapan putra sulungnya itu. Tidak percuma protesnya selama ini. Meminta Gio untuk berhenti menyebut Divine 'Ibuku' dang menggantinnya menjadi 'Istrimu' rasanya bunga sedang bermekaran di hati Gara saat mendengar kalimat itu dari Gio.
__ADS_1