
Mereka masih berada di kantor Gara, karena kedatangan Eza membuat mereka semua kesini terlebih dahulu. Seharusnya setelah dari rumah sakit mereka kembali ke Andava grup.
"Nona Divine, setelah makan siang aku ada janji dengan Tuan Amo di Andava grup." ucap Eza.
"Panggil saja Divine, Tuan Amo baru saja mengambil cuti, kau bisa bertemu Jerry nanti." jawab Divine. Eza pun mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
Gara,Ben dan Eza berbincang-bincang ada banyak hal yang mereka bahas dari bisnis hingga cerita cinta Eza dan kejombloan Ben, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Apa kalian masih mau disini?" tanya Divine sebenarnya ia ingin bilang aku sudah lapar.
kruk. Terdengar suara perut Divine saat semua diam. Wajah Divine memerah karena malu, padahal dia sudah menahan mulutnya agar tidak mengatakan dia lapar, namun perutnya membongkar rahasianya.
"Ayo kita makan dulu! ini sudah waktunya makan siang." ucap Eza.
"Kau pergilah bersama Divine aku masih ada sedikit pekerjaan dengan Ben." ucap Gara.
Pekerjaan apa, semua pekerjaannya sudah aku pindahkan ke ruang Divine di gedung Andava grup, begitu sangkal Ben yang tidak berani ia ucapkan karena ada Divine disini, cukup sudah aura dingin Divine membekukannya saat di mobil tadi.
"Oh tidak perlu, aku bisa pergi sendiri." jawab Divine.
"Kamu tidak suka padaku Div, hingga pergi denganku pun kau tidak mau?" jawab Eza.
"Bukan begitu, tapi, hah sudahlah." Divine sudah sangat lapar jika terus berdebat kapan ia akan makan.
"Oke, kalau begitu kita pergi dulu ya, tak perlu khawatir aku akan menjaga istri mu dengan baik." Eza beralih berbicara pada Gara dan Ben.
"Hmm." jawab Gara singkat.
Divine dan Eza pun meninggalkan ruangan Gara. Mereka berjalan bersama tanpa ada yang berbicara hingga keluar dari gedung Kantor Gara.
Eza membukakan pintu mobil untuk Divine.
hmm Gara saja tak pernah memperlakukan ku seperti ini.
"Kenapa repot-repot aku bisa membukanya sendiri." ucap Divine seraya masuk ke dalam mobil Eza. Eza pun berputar dengan cepat dan masuk, duduk dikursi kemudi di samping Divine.
"Oh itu gak repot, aku sudah terbiasa, jika jalan bersama wanita aku selalu melakukannya." sambil menyalakan mobilnya dan berjalan pelan keluar dari parkiran kantor Gara.
"Kau pasti punya banyak pacar ya?"
"Haha itu dulu, kamu dengar sendiri kan bagaimana Ben dan Gara tadi meledek ku."
__ADS_1
Mereka terus berbincang di sepanjang jalan. Baru berapa jam saja mereka kenal, sudah sangat akrab, seperti sudah kenal begitu lama. Mereka tertawa bersama saat menemui sesuatu yang lucu dari cerita mereka. Berbeda jauh jika di bandingkan saat bersama Gara.
Mereka berhenti di sebuah restoran dan lagi Eza membukakan pintu mobil untuk Divine keluar dari mobil.
"Ah lain kali ga perlu begini lah." ucap Divine.
"Hehe, aku sudah terbiasa Div, maaf ya." jawab Eza.
Mereka jalan bersama untuk masuk ke restoran.
"Kenapa malah minta maaf sih." Divine menepuk pundak Eza.
Mereka kini sudah masuk dan duduk di tempat yang di pilihkan oleh pelayan.
"Aku kepiting saus lada hitam." tak sengaja mereka berbicara bersamaan.
Mereka pun terkejut lalu tertawa pelan, akhirnya Eza diam membiarkan Divine yang memesan makanan mereka.
"Minumnya apa Za?" tanya Divine.
"Oh aku air mineral saja." jawab Eza.
Eza memandangi Divine yang sedang melihat ponselnya.
Beruntung sekali Gara mendapatkan istri secantik dan baik seperti Divine, entah kebaikan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu hingga mendapatkan kebaikan seperti ini.
Tak lama pesanan mereka pun datang dan di sajikan di meja oleh pelayan.
"Terimakasih." ucap Divine pada pelayan.
"Div, kamu suka lada hitam juga?"
"Ya aku sangat suka, terlebih di saat lapar seperti ini, pasti akan terasa lebih enak."
"Kalau lapar mi instan di makan tanpa bumbu pun jadi enak."
"Haha." mereka tertawa bersama.
Mereka pun mulai makan. Divine sangat menikmati makan siangnya, begitupun Eza yang kini sudah menghabiskan makanannya ia meneguk air mineral miliknya lalu kembali memandangi wajah Divine yang cantiknya tak berkurang sedikitpun walau ia sedang makan.
"Div, itu di dekat bibir mu," seraya menunjukkan jarinya ke arah Divine.
__ADS_1
"Ada apa?" Divine menyentuh daerah sekitar bibirnya yang menurutnya di tunjuk oleh Eza, namun Divine tidak menemukannya.
"Maaf ya Div, aku bantu," Eza membersihkan noda saus di samping bibir Divine dengan ibu jarinya. Jantung Eza seketika berdebar-debar dan ia langsung kembali meneguk air mineral miliknya. Sedangkan wajah Divine memerah tanpa ia sadari.
"Sudah bersih?" tanya Divine untuk mencairkan suasana yang seketika berubah canggung.
"Ah iya." Jawab Eza sedikit terbata. Baru kali ini Eza di buat berdebar-debar oleh seorang wanita.
Di sisi lain.
Gara dan Ben sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Vely. Ben menolak untuk tinggal bersama Vely, akhirnya Gara membeli satu apartemen untuk tempat tinggal Vely yang masih satu gedung dengan apartemen Ben.
Kini mereka sedang berjalan menuju rumah sakit, untuk menjemput Vely. Keadaan Vely sudah membaik dokter pun menyarankan agar dia beristirahat di rumah bersama orang yang ia kenal agar dapat membantu pemulihan ingatannya.
"Gara apa kamu yakin mau menyembunyikan kebenarannya?" tanya Ben yang merasa tindakan Gara kali ini salah.
"Ya, aku yakin, ini lebih baik untuk Divine."
"Benarkah, baik untuk Divine, bukan baik untuk Vely?"
Gara terdiam. Dia tidak bisa mengabaikan Vely karena suatu hal dan kecemburuan Divine sudah sangat jelas. Hanya ini yang dapat ia lakukan merawat Vely dengan baik tanpa di ketahui Divine, agar Divine tidak merasa di duakan.
Mereka pun sampai di rumah sakit. Ben langsung mangurus surat keluar rumah sakit untuk Vely dan Gara pergi menghampiri Vely di ruang rawat. Vely tersenyum melihat Gara. Bagi Vely, Gara adalah temannya yang selama ini membantunya, padahal di mata Gara Vely lebih dari itu.
Karena banyak yang hilang dari ingatan Vely, ia pun tidak ingat bagaimana terakhir kali hubungan mereka.
Vely sudah setengah tahun menghilang dari hidup Gara bertepatan dengan mulai masuknya Divine ke hidup Gara.
"Bos, oke sudah beres." Ben yang baru saja menyelesaikan surat keluar Vely.
Vely sudah siap sedari tadi bahkan sebelum Gara datang.
Mereka pun berjalan bersama melewati koridor rumah sakit.
"Istrimu dimana Gara, kenapa tidak ikut?" tanya Vely.
"Dia ada pekerjaan." jawab Gara.
"Aku mau berteman dengannya bolehkan, siapa tau cantiknya ketularan." Vely cekikikan.
Gara terdiam lagi. Ia mau menjauhkan Vely dari Divine, Vely malah ingin berteman dengan Divine, yang mungkin setelah ingatannya kembali ia tak ingin mengenal Divine lagi.
__ADS_1