
Setelah mengakhiri sarapan yang di dalamnya tidak tergores kenangan baik. Gara membuka mulut setelah Gio meninggalkan meja makan. "Inah.." panggilnya ketika Inah hendak berlalu meninggalkan Gara sendiri disana.
"Em iya Pa." sahut Inah sedikit terkejut. Gara jarang sekali berbicara dengannya.
Inah berdiri tidak begitu jauh dari ayah mertua dengan rasa cemas di dadanya. Tidak dapat menduga apa yang akan ayah mertuanya ini katakan.
"Kamu tahu kenapa aku memilihmu sebagai menantuku?"
"Karena melihat fotoku yang cantik." dengan cepat Inah menjawab tanpa berpikir dulu. Seolah fotonya benar cantik dengan menggunakan filter yang ia kutuk tempo hari.
Gara menahan tawanya hingga pipinya menggembung. Rasanya dia ingin terbahak-bahak di depan menantunya ini. Membicarakan perihal cantik dengannya adalah kesalahan besar. Divine adalah satu-satunya wanita cantik di dunia Gara. Tidak mungkin ia memilih menantu hanya karena cantik.
"Tidak, bahkan Papa tidak pernah melihat fotomu, Papa hanya melihat tanda merah di tanganmu itu." Gara menunjuk siku dalam Inah.
Inah memperhatikan tanda lahir di tangannya. Bingung dengan ucapan Gara. Sementara yang di ketahui Inah dari kakak dan keluarganya Gara memilih dia setelah melihat foto dirinya.
Kakak pasti berbohong, tidak mungkin pria sepertinya memilih sembarang wanita untuk putranya yang begitu sempurna. Gumam Inah. Pasti ada alasan dibalik ini semua. Ini seperti keajabain untuk Inah dan sangat tidak masuk akal untuk dia, suaminya.
"Kenapa dengan tanda lahir ini Pa?" tanya Inah memberanikan diri untuk tahu lebih banyak.
"Sayang ayo siap-siap, katanya ingin...." Divine yang baru tiba seketika berhenti berbicara karena melihat wajah Inah yang tampak ketakutan.
"Ada apa ini sayang? kau juga membuatnya takut?" tanya Divine pada suaminya.
"Tidak, ini hanya perbincangan antara ayah mertua dan menantu." Gara mengedipkan matanya pada Inah. Seakan menyampaikan jawaban yang ingin Inah dengar. Menggandeng tangan Divine dan berlalu meninggalkan Inah yang berdiri disana.
Hingga beberapa waktu berlalu Inah masih saja memikirkan tanda merah di tangannya. "Ahh sudahlah." tuturnya, lelah dengan apa yang dia pikirkan dan tidak menghasilkan apapun.
"Non, tolong bawakan ini pada Tuan muda." salad buah didalam mangkuk diatas nampan.
"Tapi," Inah hendak menolaknya seperti biasa. Namun Anni sudah meninggalkannya bahkan pelayan lain tidak ada yang terlihat berada di ruangan yang sama dengannya.
Dengan terpaksa Inah membawa salad buah untuk dia berikan pada suaminya.
Santai Nah, kau hanya mengantar tidak perlu berbicara apapun. Inah meyakinkan dirinya sendiri sebelum melangkahkan kaki menuju tempat Gio berada.
__ADS_1
Gerogi membuat Inah berjalan menuju ke ruangan lain. "Astaga, hanya karena memikirkan dia, membuatku salah arah." ucap Inah tidak dapat ia pungkiri wajah Gio memang bisa mengubah seluruh gerakan syaraf di otaknya.
Inah menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan lega. Berjalan menuju teras samping dimana Gio duduk di temani buku di tangannya.
Inah berjalan cepat agar pikirannya tidak terganggu oleh pikiran lain. Meletakkan mangkuk di atas meja tanpa suara dan ingin dengan cepat meninggalkan salad buah yang ia letakkan. Namun apa daya syaraf otaknya benar-benar terganggu jika berada di sekitar Gio. Seketika gerakannya melambat seolah mencari perhatian dari suaminya.
Gio seketika terusik. Ia menghembusakn napasnya kasar. Membuang kekesalannnya melihat Inah yang ingin meletakkan salad saja membutuhkan waktu 5 menit untuk menarik tangannya dari mangkuk.
"Bisa cepat gak sih!" bentak Gio.
Bukannya cepat. Inah malah tekejut hingga mangkuk di tangannya terpental dan salad buah tumpah mengenai celana yang Gio kenakan.
Inah langsung membuka sweater yang ia kenakan dan membersihkan tumpahan salad di celana Gio. Sepertinya dentuman mangkuk dan lantai mengembalikkan kerja otak Inah hingga dengan cekatan langsung membersihkan celana Gio.
"Maafkan aku." ucap Inah dengan sangat tulus. Kalimat yang sudah mendarah daging padanya. Kalimat yang tumbuh melekat bersamanya hingga saat ini.
Mendengar ucapan Inah. Gio meninggalkan Inah begitu saja. Amarahnya seakan terkendali setelah Inah meminta maaf padanya.
Inah mengelus dadanya setelah Gio pergi. "Kupikir dia akan marah, ternyata dia lebih baik dari dugaanku." sanjung Inah.
______________
Gio hanya berdehem. Mengiyakan apa yang ibunya katakan.
"Pergilah dengan Inah." tambah Divine.
"Tidak, aku tidak mau!" dengan cepat Gio menolak.
"Gio, ini bukan pesta besar, hanya makan malam keluarga saja." Divine meyakinkan Gio.
"Mama akan merias wajah Inah agar tampak cantik." tambah Divine lagi.
"Lalu aku harus mengenalkan dia?" tanya Gio dengan kesal. Memikirkan nama Inah mungkin akan menjadi nama paling jelek di antara teman-teman yang lain.
"Tentu, bukankah tidak sopan jika kau tidak memperkenalkannya. Ahh kau bisa mengenalkannya dengan menyebut istrimu tanpa menyebut nama Inah."
__ADS_1
Divine pun pergi meninggalkan Gio setelah tidak ada jawaban serta penolakan dari putra sulungnya itu.
Malam pun tiba. Inah sudah siap dengan gaun sederhana tidak terlalu mencolok dengan rambut di urai memperlihatkan rambut ikalnya yang menggantung.
"Sepertinya jerawatmu tidak pernah muncul lagi akhir-akhir ini." ucap Divine yang baru saja selesai dengan semua yang Inah butuhkan.
"Jangan ditegur Ma, nanti dia datang lagi." ungkap Inah dirinya yang sangat bersyukur karena sudah hampir satu mingguan ini wajahnya terbebas dari jerawat. Merasa takut dengan uangkapan ibu mertuanya.
"Kau pikir aku supir?" ketus Gio ketika Inah membuka pintu belakang.
"Sayang duduk di depan." suara Divine bersamaan dengan ucapan Gio.
Inah pun beralih membuka pintu depan dan duduk di samping Gio. Seakan tidak ada orang di dalam mobil itu. Mobil berjalan tanpa terdengar suara apapun kecuali suara mesin halus dari mobil yang Gio kemudikan.
Mereka pun sampai. Semua mata tertuju pada Inah yang baru pertama kali terlihat oleh keluarga Ben.
"Selamat malam paman." sapa Gio pada Ben yang meyambut kedatangannya.
Ben tersenyum. Seketika istri Ben pun menghampiri Inah. "Siapa wanita cantik ini?"
Inah yang ingin menjawab sapaan istri Ben seketika dihentikan oleh Gio.
"Dia menantu ayahku Tante." sela Gio dengan memutar-mutar kalimatnya. Menolak untuk menyebut Inah istrinya. Wajahnya memerah karena malu. Malu memiliki istri yang bahkan tidak cantik seperti anak-anak di rumah ini.
Deviana. Istri Ben tersenyum. Entah senang dengan jawaban Gio dan menggelitik otaknya untuk berpikir sedikit jauh atau ingin tahu nama wanita yang datang bersama Gio kali ini.
"Panggil saja In." tambah Gio.
Gio dan Inah pun merasa terbebas setelah berada di area makan malam di tepi kolam renang. Inah seperti biasa menjadi wanita yang sangat lemah gemulai jika berada di sekitar Gio tanpa sengaja seseorang menyenggol dirinya hingga tercebur ke dalam kolam.
Gio yang tidak memperhatikan Inah pun tidak menyadari bahwa Inah lah yang jatuh ke dasar kolam. Ia diam saja tidak melakukan apapun karena seseorang yang menyenggol Inah juga telah melompat ke dalam kolam.
Setelah pria itu membawa Inah keluar dari kolam. Gio yang sedikit jauh dari tempat kejadian barulah sadar bahwa seseorang yang jatuh kedalam kolam adalah Inah istrinya. Matanya melotot seperti pikirannya yang baru saja terbuka. Gio berlari sembari membuka jasnya. Menutup wajah Inah dengan jasnya, menggendong Inah untuk menjauh dari kerumunan.
"Tante, paman maaf aku harus pulang lebih awal." tutur Gio sembari berjalan.
__ADS_1
"Tapi disini ada banyak pakaian wanita Gio." pekik Deviana.
"Terimakasih Tante, dia alergi air." ucap Gio sembarangan. Entah apa yang akan semua orang pikirkan mendengar ucapan Gio. Apakah istri Gio tidak pernah mandi selama ini karena alerginya.