
Gara telah selesai memakai pakaiannya.
"Kenapa jadi kamu yang marah-marah?" tanya Gara melihat Ben yang sedang ngedumel seperti wanita bedanya suara Ben pelan tidak terdengar jelas.
"Hah, gak tau munyak." jawab Ben kesal, ia sangat kesal dengan Gara yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi terlebih ikut masuk ke dalam bathtub.
Aku masih perjaka, dan aku masih menyukai wanita, kalau sampai orang menilai ku gay, benar-benar tragis hidup ku ini, lanjut dumel Ben.
“Heh sudahlah, minta pelayan antar makanan kesini, dibawah pasti ada Divine.” jawab Gara.
Apa iya?, apa dia sudah makan?, apa aku sudah keterlaluan padanya?, bagaimana kalau dia sakit?, Gara seketika memikirkan Divine saat menyebut makanan dan Divine. Dua hal ini seperti saling berkaitan, ia mengingat istrinya yang mudah merasa lapar.
Ben sedang menelpon pelayan meminta untuk mengantar makan malam ke kamarnya.
"Ben tanyakan, apa Divine sudah makan?" ucap Gara meminta Ben bertanya pada pelayan di balik telpon.
Ben pun menanyakannya pada pelayan itu lalu menutup telpon.
"Bagaimana?" tanya Gara, maksudnya apa Divine sudah makan.
__ADS_1
"Belum," jawab Ben santai. Ben sengaja mengatakan belum ingin mengerjai Gara, padahal pelayan tadi mengatakan ya baru saja Nona Divine selesai makan dan sekarang sedang naik, mungkin akan kembali ke kamar.
"Minta pelayan juga antar makan malam ke kamar Divine!"
"Kenapa tidak kau saja, nanti pelayan akan bilang pada Divine, kalau kau yang menyuruh mereka."
"Heh tidak perlu."
"Oh ya sudah." jawab Ben malas.
"Beeeeenn." Gara menekan suaranya. Seolah berkata beraninya kau.
Tak lama pelayan pun datang mengantar makan malam Gara dan Ben.
Gara pun bertanya apa makan malam Divine juga sudah di antar, namun karena bingung pelayan itu hanya menjawab sebentar akan kami antar Tuan, dari dulu mereka terbiasa selalu berkata ya pada Tuan dan Nyonya rumah ini. Begitu ajaran dari pak Ann, jika tidak tau jawab saja akan di kerjakan dan selalu memberitahu kepada kepala pelayan apa saja yang di tanyakan oleh Tuan dan Nyonya.
Pekerjaan Ben pun tidak sia-sia, kejahilannya tidak terbongkar dengan cepat.
Gara pun segera makan sesaat setelah pelayan itu keluar dari kamar Ben.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Ben yang masih menikmati makan malamnya.
Belum lama, Gara sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Iya, cepat selesaikan makan mu!, periksa apa makan malam Divine sudah di antar, apa dia sudah memakannya?" jawab Gara.
Terus saja marah dan tetap perhatian dengan cara seperti ini, Ben tertawa mengejek di dalam hatinya.
Gara menyandarkan tubuhnya di sofa, menunggu Ben selesai makan, ia terlalu gengsi untuk menanyakan sendiri pada pelayan, hingga tak sadar asisten yang juga temannya itu sedang mengerjainya karena kesal akibat ulah Gara, Pak Ann bisa saja berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Ben pun telah menyelesaikan makannya, Ia kembali menelpon ke ruang pelayan. Meminta tolong pelayan untuk membereskan peralatan makan di kamar mereka lalu memutus sambungan telpon dengan gagang telpon menempel sedikit lebih lama di telinganya.
"Bagaimana?" tanya Gara.
Ben pun menjawab "pelayan sudah mengantar makan malam untuk Divi, namun Divi menolak dengan alasan tidak berselera makan." seraya melebih-lebihkan ekspresi wajahnya seperti orang yang sangat menyedihkan seolah menambah kata kasihan sekali Divine karena Gara ia jadi tak berselera makan.
Membuat Gara menjadi semakin tidak tahan untuk melihat istrinya saat ini. Namun Gara juga masih marah atas kejadian malam ini.
Sementara itu, Divine sedang menatapi layar ponselnya, baru saja ia mendapatkan pesan dari Vely yang mengatakan " Selamat atas pernikahan mu semoga bahagia." namun Divine tidak mengetahui siapa pengirimnya hanya tertulis sebuah nomor di sana. Divine terus memperhatikan nomor yang mengirim pesan padanya itu dan membaca isi pesan itu berulang-ulang, ia merasa tidak enak dengan pesan yang ia terima, kata-kata yang begitu santai seperti mengandung sebuah maksud lain yang berbeda dengan pesan yang tertulis.
__ADS_1
Bersambung...