Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 39


__ADS_3

Gara menurunkan tangannya ke bokong Divine dan menepuknya hingga terdengar bunyi “pak“.


"Auw, apaan sih, katanya mau meraba kenapa jadi mukul?" Divine melarikan diri dari tubuh Gara, setelah menggoda Gara dengan ucapannya.


"Hei kemana kau,kemari!" Gara pun langsung bangun dari posisi nya dan mengejar Divine, namun Divine juga terus berlari.


Mereka terus berkejaran di dalam kamar hingga mengitari tempat tidur beberapa kali. Terdengar suara tawa dari Gara dan Divine di saat mereka berkejaran. Hingga akhirnya Gara menangkap Divine dan memeluknya dari belakang, meletakkan wajah nya di bahu Divine hingga pipi mereka saling bersentuhan. Tepat di depan jendela dengan pemandangan laut dan hijaunya pepohonan dari tempat yang tinggi. Divine pun meletakkan tangan nya di atas tangan Gara yang melingkar di tubuhnya.


Mereka diam sejenak memandang pemandangan yang sangat jarang mereka temui ini.


"Tadi kau bilang apa, kamu mau aku meraba mu?" seraya menaikkan tangannya sedikit demi sedikit kearah buah dada Divine.


"Ah tidak, aku hanya bercanda sayang." Divine menghentikan tangan Gara.


"Apa! kamu bilang apa ?"


"Aku bilang, aku hanya bercanda."


"Bukan itu."


Divine bingung memikirkan apa yang diucapkannya tadi. "Apa sayang, ya bisa jadi ini pertama kali aku bilang seperti itu,selama ini aku memanggilnya suamiku."


"Apa maksud mu, sayang?"


"Ya, katakan lagi!"


"Sayang." Divine menuruti permintaan Gara.


"Lagi, bilang lagi Divi!"


"Sayang." lagi Divine mengulang kata-katanya.


Gara terus meminta Divine mengulangnya. Hingga Divine mulai malas mengulangnya lagi.


Tiba-tiba Gara memutar tubuh Divine menghadap ke arahnya, menarik tubuh Divine menempel pada tubuh Gara. "Terus panggil aku seperti itu!" dan langsung menyerang bibir Divine dengan bibirnya. Terjadilah pergulatan lidah tanpa suara hanya terdengar "um, ach, um, ach."


Setelah cukup lama melakukan pergulatan bibir, Gara mengiring Divine ke tempat tidur mendorong sedikit demi sedikit hingga membuat Divine terus memundurkan kakinya dan menabrak tempat tidur tanpa melepaskan pergulatan bibir diantara mereka, Gara terus ******* bibir Divine menikmati manis bibir istrinya itu.


Setelah puas menikmati manis bibir Divine, Gara menurunkan ciumannya ke leher Divine,


terdengar desahan kecil dari Divine "ah, tidak sayang,hentikan!"


"Tok..tok..tok." Suara ketukan pintu, dan membuyarkan kenikmatan Divine dan Gara. Divine lagsung naik ke tempat tidur dan memakai selimutnya sembarangan, Gara merapikan pakaiannya lalu pergi membuka pintu yang sebenarnya tidak terkunci.


Nenek Yan dan Shena berdiri di depan pintu kamar tamu.


Shena membawa 1 porsi makan siang lengkap dengan air minum di sebuah nampan.


Sudah sedari tadi Shena memaksa Neneknya untuk mengetuk pintu ini, dengan alasan ingin mengantarkan makan siang untuk Gara. Namun Nenek Yan tidak mau ia takut akan menggangu dua orang suami istri yang bisa dikatakan masih dalam suasana pengantin baru, di dalam pikiran Nenek Divine terlihat baik-baik saja, pasti Gara hanya membuat alasan agar bisa berduaan dengan istrinya.


"Kakak Gara, ini makan siang mu, makanlah dulu!" ucap Shena seraya mengangkat nampan yang ia bawa ke depan Gara.


"Oh tidak perlu Shena, aku sudah makan bersama Divine tadi." ucap Gara dan menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan Nenek Yan masuk. Sedangkan Shena kembali dengan raut wajah masam.


"Ada apa sayang?" tanya Divine dari atas tempat tidur.


"Oh tidak, Shena hanya mengantar makan siang untukku, ia pikir aku belum makan." jawab Gara sambil berjalan masuk bersama nenek Yan.


"Terima saja sayang, lagian aku masih belum kenyang karena makan sepiring berdua dengan mu." Gara pun mengangguk dan meminta Nenek duduk di dekat Divine lalu ia pergi mengejar Shena.

__ADS_1


"Shena, berikan padaku!" ucap Gara setelah bertemu Shena di depan pintu mengarah ke dapur.


Seketika wajah Shena kembali manis, ia sangat senang karena Gara mau menerima yang ia berikan.


"Oh iya kak Gara, ini makanlah dulu." sambil memberikan nampan berisi seporsi makan siang dan air minum pada Gara dan memasang senyum termanisnya.


"Terimakasih Shena, Divine ingin makan lagi." ucap Gara sambil tersenyum dan meninggalkan Shena.


Wajah Shena kembali masam, ia berpikir Gara yang menginginkannya ternyata bukan. "Darimana sih datangnya gadis itu, tiba-tiba sudah menjadi istri kak Gara saja."


Shena kesal dengan Divine, karena ia menyukai Gara semenjak mereka bersama dulu, di tambah Gara yang sering datang untuk menemui Nenek Yan, membuat gadis-gadis di desa ini cukup mengenal Gara dengan wajah tampan dan badan ideal, membuat gadis - gadis disini tertarik ingin tahu tentang Gara begitu pun Shena yang lebih unggul selain ia sudah kenal lama, dan ia adalah cucu Nenek Yan dan juga berparas cantik.


Ben tengah duduk di teras rumah, ia baru saja bertemu seseorang, kini ia sedang bermain dengan handphonenya, sama seperti Gara tadi sedang bermain PUBG.


kembali ke kamar tamu, Nenek Yan sedang berbincang - bincang dengan sepasang suami istri ini, hingga bertanya apa mereka sudah pergi bulan madu. Gara terkejut dengan pertanyaan Nenek, karena bulan madu sama sekali tidak terlintas di otaknya dan Divine tertawa terbahak - bahak dalam hatinya, " Bulan madu,itu hanya ada pada pernikahan normal, sedangkan pernikahan kami tidak normal, dari awal aku hanya seperti bingkai foto, ada hanya untuk di lihat."


"Oh kami belum melakukan bulan madu Nek, mungkin nanti."


"Apa itu tidak sedikit terlambat?" jawab Nenek Yan.


"Hahahaha." Divine lagi - lagi tertawa dalam hatinya. "ingin sekali aku cerita pada Nenek, entah apa tanggapan Nenek Yan."


"Biarlah terlambat Nek, daripada tidak sama sekali." jawab Gara sambil menyuapi nasi pada Divine.


"Sebenarnya Gara tidak mencintaiku Nek, karena itu dia tidak menyiapkan bulan madu kami." jawab Divine dengan melirik Gara.


Gara hanya diam mendengar perkataan Divine, karena itulah kenyataannya, dia tidak menghentikan Divine agar tidak berbicara.


"Nenek tahu kan, kami menikah secara tiba-tiba, kami tidak saling kenal, sebatas tahu saja karena sering bertemu di acara perusahaan." jawab Gara sambil menyuapkan suapan terakhir pada Divine.


"Cinta akan tumbuh dengan sendirinya tanpa kalian sadari, jagalah hubungan kalian." Nenek menepuk pundak Gara.


"Oia, dimana yang sakit Nak?" tanya Nenek Yan.


Gara dan Divine menunjuk 2 tempat yang berbeda secara bersamaan. Nenek Yan tersenyum yakin bahwa terpeleset hanya alasan Gara saja.


Gara mencoba menjelaskan kenapa dirinya dan Divine menunjuk 2 tempat berbeda "Begini Nek, selain lututnya, pinggang Divine juga sakit." sambil memegang lutut Divine dari luar selimut dengan pelan. namun Nenek Yan hanya tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, Nenek istirahat dulu, kalian istirahatlah juga, pasti kalian lelah menaiki tangga sebanyak itu kan." ucap Nenek seraya berdiri dari tempat tidur.


Nenek Yan pun keluar dari kamar diantar oleh Gara sekalian membawa piring kotor yang ada di kamar yang sedang mereka tempati, tidak ada pelayan di rumah ini, Shena mengerjakan semuanya sendiri. mungkin type gadis seperti inilah yang di maksud Gara, saat tempo hari bercerita pada Ben.


setelah mengantar Nenek Yan dan meletakkan piring kotor di dapur Gara menghampiri Ben yang sedang bermain PUBG di teras rumah sambil menikmati udara segar.


"Bagaimana Ben, apakah sudah beres?" tanya Gara


"Aman Bos, sedang dalam pengerjaan." jawab Ben tanpa melihat wajah Bosnya itu.


Gara berlalu meninggalkan Ben, pergi menghampiri istrinya lagi.


"Ayo main Bos!" Ben mengajak Gara bermain tanpa melihat terlebih dahulu.


"Bos, bos." Ben memanggil Gara berulang - ulang baru lah ia menoleh saat tidak mendapatkan jawaban Gara, raut wajahnya berubah malas saat tidak mendapati Gara di sana.


Di kamar tamu. "Heh sudah tidur, aku yang lelah, kenapa dia yang tidur, secepat ini lagi." ucap Gara saat melihat Divine yang sudah tertidur dengan cantiknya.


"Puffttttt, pasti dia kekenyangan." Gara menahan tawanya.


Gara pun keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan pelan. ia menghampiri Ben dan mulai bermain bersama.

__ADS_1


Tak terasa waktu berlalu, langit sudah mengeluarkan rona jingganya.


Gara menghampiri Divine, terlihat Divine masih tertidur, Gara mengecup bibir Divine untuk membangunkannya. Divine pun langsung terbangun.


"Ada apa?" Divine lupa sedang berada dimana.


"Apa kau tak mau pulang?" jawab Gara.


Divine mengelilingi kamar dengan pandangannya.


"Oh ya, ayo kita kembali" ucap Divine seraya turun dari tempat tidur.


"Wah, apa kau sudah tidak sabar untuk sampai di rumah?" lagi - lagi Gara menggoda Divine.


suami istri ini sama saja, sama - sama suka menggoda satu sama lain.


"Sudahlah ayo! ya aku sudah tidak sabar." Divine menarik suaminya untuk segara keluar dari kamar.


"Wuw, agresif sekali." kata Gara.


Mereka pun berpamitan dengan Nenek Yan dan Shena, mencium tangan dan berpelukan mereka lakukan sebelum berpisah.


kembali menyusuri jalan desa yang begitu indah membuat semangat Divine kembali setelah tertidur.


"Ben apakah kita harus menuruni tangga lagi?" tanya Gara.


"Selama ini ya begitu." jawab Ben dengan santai. Dia tidak tau bagaimana Gara berpikir karena harus menggendong Divine lagi, salah - salah mereka bisa terperosok.


Sampailah mereka di depan tangga dan bertemu kepala suku di sana.


"Pak, apakah untuk turun hanya bisa lewat tangga ini?" tanya Gara, padahal selama ini Gara tidak pernah bertanya Ben selalu berada di depannya.


Kepala suku itu memperhatikan mereka bertiga, dan memandang wajah Divine yang berparas sangat cantik, tak menunggu lama Gara maju di depan Divine menutupi Divine, karena melihat kepala suku sedang menatap istrinya.


Melihat Gara yang langsung maju dan menutupi pandangannya, ia membuka sebuah tumbuhan rambat yang menjuntai ke tanah dengan tangannya, terdapat sebuah kantong besar seperti kereta gantung hanya saja terbuat dari tanaman belukar,sangat kokoh dan aman untuk di naiki beberapa orang secara bersamaan.


"Ini akan mengantar kalian kebawah, masuklah!" ucap kepala suku.


Gara, Ben dan Divine saling berpandangan lalu masuk ke dalam kantong besar itu.


"Aaaaaaaaaaaaaaa." mereka semua berteriak seperti sedang bermain roller coaster.


Kepala suku tidak memberikan aba-aba langsung saja melepaskan mereka, hingga mereka semua terkejut.


Divine memeluk Gara dan memejamkan matanya sedangkan Gara berpegangan dengar erat, begitu juga dengan Ben ia menutup matanya.


"Tuan, Tuan." terdengar suara seseorang memanggil mereka, baru lah mereka membuka mata, ternyata mereka sudah sampai dan tidak menyadarinya.


Mereka pun keluar dari kantong besar itu, memasang wajah tenang agar tidak malu pada orang yang menyapa mereka.


"Terimakasih Pak." ucap Divine. Orang itu pun mengangguk.


Mereka pergi dan langsung masuk ke dalam mobil mereka, masing - masing menyandarkan tubuh menenangkan diri dan minum air mineral yang sudah tersedia di mobil Gara.


Mata Divine tiba - tiba terbelalak, melihat tirai mobil pemisah antara driver dan penumpang.


"Sejak kapan ini ada?" ia ingat tadi saat mereka pergi itu belum ada.


"Sejak kau sering menggoda ku." Gara berbisik lembut di telinga Divine.

__ADS_1


sreett... Tirai tertutup.


__ADS_2