
Mereka pun akhirnya sampai di rumah keluarga Inah. Sebuah perumahan kelas menengah, dimana mayoritas warganya adalah pedagang.
Tok tok tok. Inah mengetuk pintu berwarna coklat beberapa kali.Terdengar suara gaduh dari dalam, suara teriakan untuk membuka pintu, hingga akhirnya pintu itu terbuka, terlihat seorang lelaki tua yang sudah memiliki rambut dua warna tersenyum cerah menampakkan giginya yang sudah tidak lagi lengkap. Rumpang.
“Bapak,” Inah memeluk lelaki yang berdiri di ambang pintu. Air matanya menetes ketika pelukannya terbalas. Dia satu-satunya penghuni rumah ini yang selalu baik pada Inah, satu alasan Inah untuk tetap sabar berada di dalam rumah ini hingga usianya kini.
Inah melepas pelukannya, lalu membawa bapak yang sudah tidak lagi muda itu duduk di sofa. “Bapak apa kabar pak, bapak sehat?” tanya Inah duduk bersimpuh di lantai.
“Iya nak, bapak sehat, bawa suamimu masuk! kasihan sekali dia masih di luar.”
Inah memegang dahinya, dia begitu lupa kalau dia tidak sendiri. Sangking merasa tidak enaknya pada Bian, Inah pun sampai tidak sadar apa saja yang sudah bapaknya itu sebutkan.
Inah langsung berdiri dan menghampiri Bian yang masih berdiri santai di depan pintu dengan rantang di tangannya.
“Bian ayo masuk, ya ampun maafkan aku melupakanmu.” Inah berucap malu-malu. Semakin membuat wajahnya terlihat lucu menggemaskan.
“Ah iya In.” jawab Bian setelah beberapa detik, Bian seperti terpana beberapa saat melihat senyum Inah yang tidak biasa.
Sementara lak-laki yang Inah panggil Bapak itu berdiri dan berjalan menuju kamar saudara perempuan Inah. Mengetuk pintunya dan memanggilnya untuk keluar. “Inah datang bersama suaminya.” ungkapnya setelah membuka pintu kamar itu sendiri. Lalu kembali dan duduk di sofa bertepatan dengan Inah dan Bian yang juga baru tiba.
__ADS_1
“Bapak sudah makan pak? Ibu dan kakak dimana?” Inah membuka rantang dari tangan Bian, lagi dia lupa untuk mengenalkan Bian. Inah terus memperlihatkan semua menu yang ia bawa.
“Kalau begini, bapak akan makan lagi.” jawab sang bapak setelah melihat menu makanan yang Inah bawa untuk keluarganya.
Sementara Kakak Inah mengintip dari pintu kamarnya, memperhatikan Inah yang tengah memamerkan apa yang ia bawa dengan ponsel di telinganya tak lepas menatap lekat pria yang duduk di samping Inah. Dia kembali menutup pintu kamarnya ketika melihat Inah berdiri.
Inah berjalan masuk melewati kamar, menuju dapur. Dia mengambil beberapa piring dan sendok lalu kembali setelah melihat-melihat rumahnya kini yang tampak berantakan. Ujung bibirnya tertarik ketika melihat pintu kamar yang dulu ia tempati di ujung ruangan ini.
Di dalam kamar. Kakak perempuan Inah sedang berbicara di telpon.
“Bu, ibu yakin tempo hari om-om yang cari menantu untuk anaknya, anaknya itu Autis?” berbisik sampai menutup mulutnya.
Dengan cepat Kakak Inah yang bernama Jovana itu langsung mengiyakan ucapan ibunya.
“Iya, ibu yakin ada apa?”
“Ibu pulang sekarang, dan lihat!” Jovana langsung memutus panggilan telponnya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Rasa penyesalan mulai meraung-raung di dalam hatinya setelah melihat pria yang bersama Inah bukanlah pria Autis seperti yang ia tahu selama ini. Dia terus bergumam kesal "harusnya aku!"
Semakin lama Jovana menunggu semakin tidak sabar dia ingin keluar dari kamarnya, namun dia ingin menemui Inah bersama-sama dengan ibunya.
__ADS_1
Tak begitu lama, terdengar sudah suara mobil berhenti di depan rumah mereka, Jovana membuka pintunya sedikit melihat ke arah pintu.
“Ehh ada Inah.” sapa ibunya ramah ketika melihat Inah dan Bian berada di ruang tamu mereka.
“Jovana…..” panggil Ibu Inah tanpa sempat Inah dan Bian menjawab sapaannya terlebih dulu. Mereka hanya berdiri menatap ibu yang tengah memanggil saudari Inah.
Jovana pun tiba dan langsung saling memandang seolah saling menyampaikan sesuatu dari tatapan mereka.
“Inaaahh…” Jovana berhambur memeluk Inah, seolah dia baru melihat Inah disana. Sementara Bian terkejut melihat Jovana yang begitu berbeda dengan Inah. Tidak ada kemiripan sama sekali di antara mereka berdua.
“Kamu sombong ya, sudah menikah dan melupakan kakakmu ini,” ujar Jovana ramah masih memeluk Inah, sedangkan matanya melirik ke arah Bian yang sudah kembali duduk tenang.
“Hmm, kakak saja tidak pernah menelponku.” jujur Inah, hampir satu tahun dia berada di rumah mertuanya, tidak ada satupun telpon yang ia terima dari rumahnya.
“Udah peluknya, gantian! Ibu juga mau peluk Inah.” Wanita paruh baya yang jauh lebih tampak muda dari bapak Inah menyenggol putri sulungnya itu, bergantian memeluk Inah. Seolah dia begitu merindukan Inah, nyatanya selama ini Inah hidup bak anak tiri di dalam rumahnya.
Mereka pun duduk bersama di ruang tamu, Jovana untuk pertama kalinya pergi sendiri ke dapur tanpa menyuruh Inah yang berada di sampingnya.
Ibu Inah, Sarah, baru saja memuji ketampanan Bian dan juga keramahannya. “Kamu sangat beruntung Nah.”
__ADS_1
“Tapi dia bukan suamiku bu.” ucap inah bertepatan dengan datangnya Jovana, seketika piring di tangannya jatuh ke lantai mendengar ucapan Inah. Mengatakan pria yang tampak kaya itu bukan suaminya. Entah apa yang Jovana pikirkan.