Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 10


__ADS_3

"Bian, apa bagusnya dia, kau betah sekali dengan orang yang wajahnya seperti diterpa badai begitu." umpat Gio. Rambut Inah yang tidak lurus dan wajah yang warnanya tidak rata. Merah bak memakai perona pipi menor di pipi kanan dan kirinya.


"Gio, sejak kapan kau jadi seperti ini?" Bian berbalik bertanya. Setau Bian Gio tidak pernah memilah teman dan orang-orang yang bersosialisasi dengannya. Walau kenyataannya teman-teman Gio memang berparas indah semua. Mungkin mereka yang berparas buruk malu dan merasa tak pantas berkawan dengan Gio terlebih mereka yang tidak memiliki kekayaan seperti Gio. Mereka sendirilah yang tidak ingin mendekat.


Sama halnya Inah. Dirinya yang merasa tidak pantas. Memilih menjauh dan tidak berhubungan dengan Gio yang seperti langit baginya. Merasa tidak mungkin untuk bisa menjalin hubungan walau kenyataannya kini dia adalah suaminya.


Gio diam tidak bisa menjawab apa yang Bian lontarkan. Ucapan Bian sangatlah tepat. Entah mengapa kepada Inah dia bisa dengan mudah berkata kasar.


"Kau kecewa dengan ayahmu, kenapa harus mencerca Inah, dia tidak bersalah." ujar Bian lagi.


Mungkin Gio benar-benar tidak menduga akan dijodohkan dengan wanita yang sungguh tidak ada bagusnya. Tidak seperti pernikahan perjodohan orangtua yang dia tahu pastilah saling menguntungkan satu sama lain tapi apa yang terjadi padanya. Sangat-sangat diluar praduganya. Mungkin itulah penyebab hinaan yang terus dia taburkan pada Inah.


"Kenapa kau sangat membelanya, kamu suka dia, kamu aja yang jadi suaminya!" ucap Gio dan berlalu meninggalkan Bian tanpa ingin mendengar tanggapan Bian.


Dilain tempat, Inah kembali membaca bukunya. Membaca buku membuatnya seakan melihat banyak hal yang belum pernah ia ketahui. Menambah pengetahuannya.


"Non, ada nenek Gio." Anni berbisik pelan di telinga Inah. Memberitahu keberadaan penghuni baru rumah yang baru saja tiba.


"Hah." Inah terkejut hingga berdiri. Dia tidak pernah mendengar di dalam rumah ini menyebut-nyebut seorang nenek. Ternyata Gio memiliki nenek. Begitu pikirnya.


"Kalau begitu, aku harus berkenalan dengan beliau mbak, tapi..." Inah meraba wajahnya. Tidak percaya diri dengan wajahnya.


"Tidak mengapa Non, Non Inah cantik." ujar Anni mengucapkan pandangan matanya.


"Mbak bisa saja." tutur Inah dan diam sejenak sebelum menarik Inah ikut dengannya.


Inah meminta Anni untuk membantu merias wajahnya. Dirinya gagal pintar untuk berdandan sendiri. Baru saja ia menerima privat make-up, wajah aslinya sudah ketahuan hingga Inah tidak pernah memperlancar ilmu yang sudah ia terima.

__ADS_1


"Tapi Non, Jika Nona merias diri Nona hari ini, itu artinya Nona akan terus melakukannya setiap hari, bagaimana dengan perawatan Nona?" tanya Anni yang kini telah berada di depan meja rias di dalam kamar Inah. Mengkhawatirkan perawatan wajah Inah jika setiap hari ditimpa make-up tebal.


Inah kembali diam, ucapan Anni sangat benar. Jika ia bersembunyi di balik make-up hari ini, dia harus terus bersembunyi esoknya hingga waktu yang tidak diketahui.


Inah pun menghampiri Nenek Soraya dikamar tamu. Memperlihatkan wajah aslinya di temani Divine yang datang menjemputnya tadi.


"Ibu, ini Inah istri Gio." Divine memperkenalkan menantunya.


Soraya terkejut tak percaya mendengar perkataan menantunya. Sejak melihat Inah masuk ke dalam kamarnya. Dia sungguh tidak menduga bahwa wanita ini adalah bagian dari keluarganya. Istri dari cucunya. Menantu dari anaknya. Soraya benar-benar tidak memperhatikan Inah. Sekelebat melihat dan langsung menduga dia hanyalah seorang pelayan.


"Ah Gio sudah menikah, bahkan kalian tidak mengundangku." lafal Soraya.


"Gio tidak ingin banyak yang tahu ibu." jelas Divine.


"Ahh ya benar, dia pasti malu." ujar Soraya tanpa mempedulikan perasaan Inah.


Divine memegang pundak menantunya sementara Inah berusaha untuk tetap tersenyum.


"Selamat datang Nenek, senang bertemu denganmu." tutur Inah yang membuat Divine tersenyum. Rasanya Inah benar-benar banyak berubah. Dia banyak melakukan hal-hal yang belum pernah Divine lihat sebelumnya.


"Ayo sayang." Divine mengajak Inah untuk meninggalkan Soraya.


Mereka pun keluar bersama. Beranjak menuju dapur.


"Kamu banyak berubah sayang." ucap Divine.


"Sepertinya berkat buku-buku dari Papa, dan Mama jangan marah ya kalau Inah jarang terlihat. Buku-buku Papa rasanya sangat menyenangkan." jelas Inah. Diapun merasa banyak waktu yang ia lalui dengan buku-bukunya.

__ADS_1


"Tapi jangan lupakan suamimu, kau harus mengurusnya dan menggodanya."


Inah bergidik. Geli rasanya mendengar titah Divine untuk menggoda suaminya. Berbicara padanya saja dia tidak berani apalagi untuk menggodanya.


"Kenapa kau seperti itu?" tanya Divine melihat reaksi menantunya.


"Mama, Inah." suara Divine menyela obrolan anak dan mertua.


"Bian, ada apa, ada yang bisa mama bantu?" tanya Divine.


"Gapapa, mau gabung aja." jawab Bian.


Bian akan terus berada di rumah ini sampai jam kerjanya berakhir pukul 10 malam. Sejak Sekolah menengah atas dia sudah berteman dengan Gio.


Inah dan Divine tersenyum mendengar jawaban Bian. Sudah biasa.


Bian pun bergabung dan membantu membuat rujak mengupas dan memotong buah sembari bersenda gurau.


"Panggil Gio, dia hanya asik dengan ponselnya disitu." titah Divine pada Bian, menunjuk Gio dari meja makan.


"Gak usah Ma." sahut Bian dan Inah bersamaan.


Divine menatap Bian dan Inah bergantian. Sementara Inah dan Bian tertawa bersama. Mungkin apa yang mereka pikirkan sama. Gio hanya akan merusak suasana.


Seakan mendengar ucapan ibunya. Gio tiba-tiba datang dengan sendirinya.


Seketika Inah merapatkan bibir dan mengambil rujak secukupnya beranjak dari meja makan. Pandangan mata Gio mengekor pada Inah yang terus menjauhinya.

__ADS_1


__ADS_2