
Eza dan Ben pun melanjutkan keinginan mereka untuk makan steak daging domba di pinggir kota ini.
Gara dan Divine pun tiba di rumah.
Pak Ann menyambut kehadiran mereka. Gara dan Divine langsung menuju kamar mereka menaiki anak tangga bersama-sama hingga masuk ke dalam kamar.
Divine membantu melepaskan dasi suaminya itu. Gara pun dengan senang menerima bantuan Divine.
"Apa kau sudah tidak sabar?" tanya Gara.
"Apa ?" tanya Divine, yang tidak memikirkan apa pun di kepalanya.
"Dimana sifat agresif mu?" sudah lama rasanya Gara tidak melihat keagresifan Divine seperti dulu terhadapnya.
"Wah, apa kau merindukannya?" Divine menggelitik perut Gara hingga Gara terkekeh.
Gara pun membalas Divine dan menggelitiknya juga. Mereka pun tertawa bersama beberapa menit, lalu Gara memeluk Divine erat begitupun dengan Divine ia juga memeluk erat suaminya.
"Oia, ayo !" Gara tiba-tiba mengingat sesuatu. Gara mengingat utang reka adegan Divine.
"Ayo apa?" Divine tidak ingat akan perihal utangnya pada Gara, malah ia berpikir suaminya ingin mengajaknya bercinta.
"Jangan pura-pura lupa." jawab Gara yang sudah menarik tangan Divine.
"Tunggu sebentar." ucap Divine dan berjalan menuju meja mematikan penerang di kamar ini tersisa lampu meja yang membuat cahaya di kamar ini redup bak senja, padahal diluar langit masih sangat terang.
__ADS_1
Divine melepas pakaiannya, bahunya sudah terbuka, belahan dadanya sudah terlihat sangat jelas, namun Gara menghentikannya hingga baju Divine tidak jatuh ke lantai.
ctaakk... Gara menyentil Dahi Divine.
"Apa yang kau pikirkan, apa memang seperti ini reka adegan bersama Eza di malam itu?" tanya Gara.
Divine tersipu malu.
"Jadi maksudmu tadi, meminta ku,?" tanya Divine.
"Iya, nanti kita pasti akan melakukannya, sabar sebentar."
Aaarrggghh kenapa jadi aku yang seolah mau bercinta dengannya.
"Dan sekarang kau juga tidak sabar untuk mandi bersama ku." ucap Gara.
aarghh... salah lagi, sebaiknya aku diam saja.
Divine diam saja dan terus berjalan menuju kamar mandi. Lalu Divine mengisi bathtub dengan air dingin sesaat setelah mereka masuk ke dalam kamar mandi.
"Masuklah, aku akan melakukan reka adegan malam itu."
"Jika aku kedinginan, kau harus menghangatkan ku." ucap Gara yang merinding melihat air biasa itu tanpa di campur air panas.
Divine mengabaikan ucapan Gara, ia diam saja sambil membasahi lantai agar lantai menjadi licin. Setelah Gara masuk, Divine pun membalikan badannya lalu seolah terpeleset dan masuk ke dalam bathtub, ia berbalik dan menghadap Gara.
__ADS_1
"Sudah lihat kan sayang, saat berbalik seperti ini lah, saat suamiku ini datang, lalu marah-marah ga jelas." ucap Divine sambil mengejek Gara.
"Aku tidak mau sama dengan Eza, tetap disitu kita mandi bersama." Gara membuang sebagian air dan mengisi air panas.
"Sebaiknya kita keluar dulu, air panas sangat berbahaya jika mengenai kulit kita."
"Tidak, aku bersama mu, tidak akan terjadi apa pun." ucap Gara yang sudah mematikan air panas.
"Kemari," ucap Gara sambil menunjukan tempat untuk Divine.
"Apa,? Divine menolak melihat kaki Gara terbuka lebar.
"Tidak perlu pura-pura begitu, di luar tadi kau sangat agresif."
"Oh maksud ku, kita belum melepas pakaian kita." rasanya Divine ingin tertawa keras mendengar ucapannya sendiri.
Dengan cepat Gara melepas seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya tanpa keluar dari bathtub dan meraih tubuh Divine untuk melepaskan pakaian Divine.
_____________________________
_________________
Malam berlalu seperti yang mereka inginkan. Esok pagi Divine akan terbang ke Singapura.
menyelidiki Gara adalah hal mudah bagi Divine, namun ia tak ingin melakukannya lagi, ia menanti Gara memberitahunya, selagi Gara tetap memperlakukan dirinya seperti istri pada umumnya Divine akan terus menanti.
__ADS_1