
Walau suara Jerry pelan, Ben masih bisa mendengarnya. Ben yang terbiasa bersama Gara yang moody sudah sering sekali harus mendengar apa yang bosnya itu katakan walau suaranya tidak lebih besar dari suara nyamuk.
"Apa ! kamu bilang apa barusan?" tanya Ben memajukan kepalanya sambil menatap serius wajah Jerry.
"Jangan memandang ku seperti itu, kau seperti ingin mencium ku saja?" jawab Jerry sedikit menjauhkan kepalanya ke belakang.
"Hah, pasti kau belum pernah berciuman kan, hayo ngaku?" Ben menunjukkan jarinya ke arah Jerry sambil tersenyum mengejek.
"Kenapa aku masih 20 tahun, kamu tuh sudah om-om belum punya istri," Jerry kembali mengejek Ben dengan wajah serius membuat Ben makjleb mendengarnya.
Ben tertawa lalu diam memikirkan ucapan Jerry. Ben memikirkan kehidupan asmaranya yang belum pernah di warnai oleh siapapun, sepanjang masa-masa bersekolah hanya berani menyukai seorang wanita tanpa mengutarakannya, saat masuk ke dunia kerja langsung menjadi asisten Gara yang membuatnya tak sempat memikirkan dirinya sendiri, semua hal yang ia lakukan hanya untuk kepentingan bosnya saja.
Namun dekat dengan Gara membuatnya banyak mengenal sifat-sifat wanita. Informasi tentang orang-orang yang dekat dengan bosnya itu sudah menjadi asupan harian Ben.
__ADS_1
Tak sedikit wanita dari kalangan artis yang terus mendekati Gara agar dapat menaikkan namanya saja.
"Mungkin gak ya, bisa punya istri seperti Divi?" gumam Ben.
"Gak mungkin!" jawab Jerry keras, ternyata gumaman Ben keluar dari mulutnya, yang sedari tadi ia hanya memikirkan kehidupannya hanya dalam angan-angan tapi tidak untuk ucapannya itu.
"Sialan kau," kamu suka Syasa, ga cocok, kamu seperti adiknya saja!" kembali Ben mengejek Jerry.
"Terus sama kamu cocok gitu? Dia gak akan mau, kamu tua!" Ucap Jerry tak mau kalah dengan Ben.
"Maaf mengganggu Tuan Jerry, ada yang ingin bertemu," ucap Syasa sesaat setelah membuka pintu ruangan Jerry.
Ben berdiri mengangkat gelas kopinya dan keluar dari ruangan Jerry tanpa tersenyum pada Syasa terlebih dahulu, sepertinya ia sedang salah tingkah.
__ADS_1
Entah apa yang sedang Vely lakukan dengan Gara, Vely tidak terlihat berada di meja kerjanya.
Ben pun tak berniat kembali ke ruang presdir, ia memilih masuk ke ruangannya membuka laptopnya, melihat dan membuat semua jadwal kerja Bosnya.
Tak lama kemudian, Vely masuk ke ruangan Ben bertanya apa ada yang sedang Ben butuhkan, Ben bukannya menjawab pertanyaan Vely, ia malah gagal fokus pada pakaian Vely yang telah berganti.
Ben mengucek matanya memastikan yang ia lihat adalah benar. Setelah mengucek matanya ia tetap melihat Vely di depannya sedang memakai pakaian milik Divi.
Triiingg..... Telpon di meja Ben berdering, Ben langsung mengangkatnya tanpa berkata apapun di dalam telpon, ia masih sangat terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya. Terdengar suara Gara di balik telpon memintanya untuk segera ke ruang presdir.
Ben pun meninggalkan Vely yang masih menanti jawaban Ben. Ben masih mengira ia sangat merindukan Divi, hingga melihat Vely dalam bentuk Divine, namun itu tidak benar karena nyatanya ia melihat Vely dalam bentuk Divine.
Ben mencoba berpikir hal yang baik, sungguh ia tidak rela jika Divine yang sangat sempurna itu di khianati. Oh Gara ku harap kau tidak melakukan sesuatu yang buruk, aku yang asisten dan juga sahabat mu pun akan melawan mu.
__ADS_1
Bersambung....