
Ben mendadak menginjak rem, hingga Divine tak sengaja mencium Gara tepat di bibir Gara.
Divine tersenyum setelah melepaskan ciumannya.
"Apa arti senyuman mu itu?" ucap Gara.
Divine menggelengkan wajahnya dengan senyum mulut tertutup.
Melihat tingkah imut Divine Garapun mendekap Divine masuk ke pelukannya. Membiarkan Divine bersandar di dadanya.
Divine tak mengelak, ia menikmati dada bidang kulit lembut Gara.
"Sreeet ." suara tirai terbuka. Gara membuka tirai yang sedari tadi tertutup.
"Ada apa Ben?" tanya Gara karena Ben belum juga melanjutkan perjalanan.
"Sepertinya ada kecelakaan, polisi juga sudah datang." Jawab Ben. "Apa kita perlu melihatnya?" tambah Ben.
"Ya Tentu," Ucap Gara tanpa melihat Divine yang masih dalam pangkuannya.
"Ya Tuhan, cepat sekali tidurnya."
Gara melihat Divine sudah tertidur dalam dekapannya. "Apa dada ku senyaman itu."
Gara tersenyum karena hal yang ia pikirkan.
"Kau saja yang lihat Ben, Divi sedang tidur."
"Baiklah." ucap Ben lalu keluar dari mobil pergi melihat apa yang sedang terjadi.
_____________
Tak Lama Ben kembali dengan terburu-buru.
Gara menurunkan kaca mobil saat melihat Ben terburu-buru. "Kenapa kau terburu-buru ?"
Ben menunjukan ponselnya terlihat foto seorang gadis cantik yang terkulai lemah dengan luka di kepala nya serta darah yang masih mengalir.
" Vely !" Gara menyebut nama seorang wanita yang ia kenali dari foto yang di tunjukkan oleh Ben, ia pun langsung memindahkan Divine ke kursi yang kosong di sebelahnya dan keluar dari mobil.
Divine terbangun, ia melihat Gara sudah pergi meninggalkan dia.
"Ada apa Ben, kenapa Gara terlihat begitu khawatir?"
"Seseorang yang dia kenal mengalami kecelakaan." ucap Ben yang masih berdiri di luar mobil.
"Siapa itu, kenapa Gara terlihat sangat khawatir, semua keluarganya di inggris kan."
Terlihat Gara sedang berlari menuju mobil dan langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ayo Ben cepat ikuti ambulan itu!" ucap Gara sesat setelah masuk ke dalam mobil. Ben pun langsung mengikuti perintah Gara.
"Dia benar-benar khawatir."
Divine berusaha tidak menunjukkan apa yang ia pikirkan.
"Ada apa Sayang?" tanya Divine.
"Maaf membuat mu terbangun, tapi seseorang yang ku kenal mengalami kecelakaan, dan sekarang aku harus melihatnya." jawab Gara sambil memegang wajah Divine.
"Oh ya, aku harap dia baik-baik saja." meletakkan tangan di atas tangan Gara di pipinya lalu menarik tangan Gara turun melepaskan dari pipinya.
"Hanya kenal saja, tapi khawatir seperti itu, apa itu gak berlebihan."
Divine merasa tak senang, perasaan cemburunya ternyata sangat besar, ia hanya diam selama perjalanan, tak terlihat senyumnya yang biasa selalu terukir di bibirnya.
Dan kini mereka sampai di sebuah Rumah Sakit.
"Ben tolong antarkan Divine pulang dan kau boleh untuk tidak kembali kesini jika kau lelah." ucap Gara.
"Apa! bahkan sekarang dia mau aku pulang."
"Aku ikut saja melihat teman mu, aku juga ingin tahu bagaimana keadaannya." ucap Divine.
"Gak, kamu sudah capek seharian ini, kamu harus istirahat, Ben saja yang menemani aku disini nanti." jawab Gara.
Divine memohon sekali lagi meminta pada Gara, dia hanya ingin melihat sebentar namun Gara tetap tidak mengijinkannya.
"Ben, siapa sih kamu pasti kenal kan?"
"Iya, namanya Vely temen Gara dulu."
"Benar saja,seorang wanita."
"Apa dia sudah menikah, dimana keluarganya?"
"Aku tidak tahu banyak Divi, Maaf." jawab Ben menyudahi perkataannya ia takut akan salah bicara,lebih baik dia bicara sedikit saja begitu pikirnya.
Divine terus bertanya pada Ben, namun Ben hanya menjawab tidak tahu, hingga akhirnya Divine menyerah dan diam saja.
Ben memberhentikan mobil yang mereka tumpangi, Kini mereka sudah sampai di rumah sekarang.
Divine keluar dari mobil dan melihat Ben juga turun dari mobil yang mereka tumpangi.
"Apa kau tidak kembali ke Rumah sakit Ben?"tanya Divine.
"Entah, mungkin nanti aku mau mandi dulu dan istirahat sebentar."
"Oh ya baiklah."
__ADS_1
"Pasti wanita itu bukan rekan kerja, Ben saja tidak terlalu peduli, aku kenapa disuruh pulang, ah kenapa?"
Divine seraya berjalan masuk ke rumah dan menuju kamarnya terus memikirkan Gara yang entah sedang bersama siapa yang tidak ia kenal.
Kini Divine memilih mandi dengan berendam dengan campuran sedikit esential oil untuk menenangkan tubuh dan pikirannya.
Di Rumah Sakit. Gara sedang menunggu di depan ruang IGD.
Tak lama keluar seorang Dokter dari ruang IGD dimana Vely berada, Gara pun bertanya-tanya seputar keadaan Vely, namun Dokter belum bisa memastikan bagaimana keadaan Vely selanjutnya sebelum Pasien sadar, Dokter hanya mengatakan kemungkinan yang terburuk adalah pasien bisa saja mengalami kebutaan permanen.
Mendengar itu Gara sangat terkejut dan mulai memikirkan donor mata untuk Vely, belum lama ia berpikir Vely sudah keluar dari ruang IGD dibawa oleh para perawat menuju kamar rawat, Gara pun dengan cepat mengikuti para perawat dari belakang sambil memikirkan Vely jika benar-benar ia akan buta selamanya.
Masuklah para perawat di sebuah ruang VVIP untuk memindahkan Vely ke tempat tidurnya lalu berpesan pada Gara untuk menghubungi mereka setelah pasien sadar.
Mendengar ucapan para perawat, Gara berpikir ia harus menunggu Vely sadar. Gara pun mengambil ponselnya mengetikkan sebuah pesan.
Divine yang baru saja selesai mandi dan memakai pakaiannya lengkap mengambil ponsel dan juga mahkota yang ia dapat dari kepala suku di desa Murni lalu duduk di sofa kamar, ia memperhatikan Mahkota belukar yang sangat unik itu.
Saat terdengar nada pesan masuk ia pun beralih ke ponselnya terlihat sebuah pesan baru masuk dari Gara.
"Divi aku tidak pulang malam ini, kamu tidak perlu menungguku." isi pesan dari Gara.
Divine merasa sangat sedih membaca pesan dari suaminya. Suaminya akan bermalam dengan wanita lain begitu pikirnya. Divine memilih untuk tidak membalasnya. lalu ia kembali memutar-mutar mahkota miliknya mengingat ucapan-ucapan orang-orang penjaga tangga di desa Murni.
"Semoga benar, dan kebahagian itu tidak mudah di dapatkan, tapi bagiku bahagia itu jika kamu ada bersamaku."
Divine tersenyum sambil memandangi mahkota miliknya, lalu meletakkan mahkota itu di rak dinding didekat pintu agar ia selalu melihatnya dari segala arah, baginya mahkota ini adalah sebuah hasil perjuangan Gara untuk tetap bersamanya.
Sementara Gara memutar-mutar ponselnya menunggu jawaban pesan Divine. Namun tak kunjung datang, sebenarnya ia berharap Divine membalas pesannya dan berkata aku merindukanmu.
"Air." suara pelan nan lirih Vely terdengar ia mulai sadar. Dengan cepat Gara membantunya minum dengan pipet.
Gara diam saja menunggu respon Vely, akan kah Vely mengenalinya, jika tidak berarti benar dia buta, begitu pikir Gara.
"Gara itu kamu kan." Vely sudah mau bangun untuk memeluk Gara. melihat ini, Gara langsung mendekat agar Vely tidak bangun.
"Tetap berbaring saja,dokter akan datang melihatmu sebentar lagi." ucap Gara.
Dokter dan perawat pun datang dan memeriksa keadaan Vely. memeriksa mata dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada vely.
setelah selesai, Dokter mengajak Gara untuk ke ruangannya.
"Tuan, syukur pasien tidak mengalami kebutaan, tapi tuan lihat sendiri tadi," ucap Dokter.
"Iya Dokter, bagaimana bisa seperti ini?"
"Ini sering terjadi dan bisa sembuh, saran saya, setelah keluar dari sini rawatlah dia dengan baik atau jika perlu kalian bisa tinggal bersama."
Setelah bertemu dokter, Gara memikirkan saran dokter tersebut.
__ADS_1
"Apa nanti aku bawa tinggal bersama Divine, atau tinggal di apartemen ku saja, lalu aku bisa menengok ia saat aku senggang."