Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 62


__ADS_3

Ben dan Eza kembali dan masuk ke ruangan presdir. Wajah Ben kesal tidak dengan Eza yang santai saja, dia seperti tak ada kerjaan mengekor saja pada Ben sepanjang hari ini. Entah ia senang berada di sini bersama teman-temannya atau karena Divine.


"Kamu masih di sini juga Za?" tanya Gara menatap dengan wajah cemburu yang tidak Eza sadari.


"Iya lagian aku masih sangat betah di sini." jawab Eza dengan senyum yang memamerkan seluruh giginya.


Gara dan Ben pun kembali bekerja sedangkan Eza berbincang-bincang dengan Divine.


Divine bercerita ia akan ke Singapura, Eza pun terkejut karena Divine akan ke luar negri tanpa ditemani oleh suaminya.


Divine pun bertanya soal kejadian malam itu pada Eza. Saat Gara dan Divine pergi untuk menemui Viona, Eza dan Ben pun menghampiri Jerry untuk mencari informasi tentang dalang kejadian di malam itu, dan cukup memakan beberapa jam akhirnya Jerry mengetahui bahwa orang itu bernama Nois. Eza pun langsung memberitahu Jerry dan Ben, Nois adalah adalah lawan bisnis Eza di negaranya.


Setelah Divine mengetahui cerita itu Divine pun langsung berkata pada Eza.


"Kau bilang saja pada Jerry apa yang mau kamu lakukan Jerry bisa diandalkan."


"Terima kasih Divi, aku akan membiarkan saja kalau dia tahu wanita malam itu adalah kamu dia tidak akan berani bergerak lagi, jika ia berani sama saja cari mati." jawab Eza dengan serius.


"Wah aku jadi merasa spesial." ucap Divine.


"Divi, kamu bukan hanya spesial tapi kaya nasi goreng yang karetnya 2 hahaha." Eza tertawa.


"Apa maksudnya itu Za?" Divine tak mengerti.


"Hahaha ketahuan nggak pernah beli nasi goreng pinggir jalan ya?"

__ADS_1


"Ya kan kalau nasi goreng aja aku bisa bikin sendiri, mudah jadi enggak pernah beli."


"hahaha ya ya aku lupa kamu hebat di semua bidang kamu nggak bakal beli kalau cuma nasi goreng, eh tapi Divine ada lho tempat nasi goreng yang enak, ayok kita cobain!"


"Nanti setelah aku kembali dari Singapura."


Gara sudah sedari tadi melirik kearah Eza dan Divine, yang terus berbincang-bincang. melihat Eza yang sebentar bentar tertawa, terlihat sangat bahagia bersama Divine.


"Sudah ngobrolnya?" ucap Gara yang baru saja menghampiri Eza dan Divine.


"Kamu sudah selesai kerjanya?" tanya Divine, tak terasa jam kantor telah usai.


"Gara kalau kamu nggak temenin Divi ke Singapura, aku aja yang temenin dia." ucap Eza dengan santainya, tidak melihat sedang ada bola kecemburuan yang besar pada diri Gara melihat keakraban Eza dengan Divine.


Gara mengabaikan Eza Ia hanya melihat istrinya.


"Lho Gara, kita gak jadi makan steak domba?" ucap Ben.


"Kalian saja!" jawab Gara lalu pergi meninggalkan dua orang temannya itu.


"Heh Playboy kamu ngapain lagi sama Divine, suaminya sampai jadi kesel begitu?" tanya Ben pada Eza saat Gara dan Divine sudah keluar dari ruangan mereka.


"Apa kita hanya ngobrol biasa saja." jawab Eza.


"Kamu pasti sudah bikin Gara cemburu lagi, cara mu ngobrol dengan orang lain itu beda.

__ADS_1


"Heh, Cemburu aja terus." decak Eza.


Eza memang cepat akrab di banding dengan Gara yang kaku, keakraban Gara dan Divine tidak ada apa-apanya di banding Eza dan Divine.


"Ya sudah ayo kita makan!" ucap Ben dengan binar-binar di matanya, ia juga pecinta makanan enak.


Gara dan Divine bertemu Syasa saat di luar.


Syasa pun memberikan amplop berisi tiket untuk Divine. Divine pun menerima dan membawa amplop itu pulang.


Sesampainya di mobil, dan baru saja mendudukkan bokongnya yang seperti buah semangka besar dan bundar itu ia langsung membuka amplop yang Syasa berikan padanya.


Divine terkejut, melihat di dalam amplop itu hanya ada 1 lembar kertas dan atas namanya.


"Kau benar-benar tidak menemaniku?" ucap Divine, tadinya ia berpikir Gara akan menemaninya walaupun sebelumnya Gara sudah mengatakan tidak bisa menemaninya.


"Sepertinya istriku ini sudah terbiasa memanggil suaminya, kau-kau ya?"


Divine diam saja malas berdebat dengan suaminya itu, ia hanya fokus ia benar-benar akan pergi sendirian.


"Aku tidak mau mendengar itu lagi, panggil aku seperti dulu." ucap Gara lagi.


"Baik sayang, lalu mengapa membiarkan istri mu ini pergi sendiri?"


"Ini terlalu mendadak, ada banyak pekerjaan yang belum selesai." ucap Gara sambil membelai wajah halus Divine. "Akan ada 2 orang pengawal wanita yang ikut bersama mu, kamu tidak perlu takut." Gara mencium kening Divine.

__ADS_1


Bukan itu, tapi jika pergi bersamamu pasti akan lebih baik, dan aku tidak perlu takut atas sesuatu yang kau sembunyikan dariku semakin menjadi.


__ADS_2