Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 40


__ADS_3

Ben masih menyandarkan tubuhnya masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.


ia menyalakan musik untuk menenangkan diri, ia tidak peduli dengan tirai yang tertutup di belakangnya.terdengar lagu dari salah satu band indonesia.


🎵


Saat bahagiaku duduk berdua denganmu


Hanyalah bersamamu


Mungkin aku terlanjur


Tak sanggup jauh dari dirimu


Ku ingin engkau selalu


Tuk jadi milikku


Ku ingin engkau mampu


Ku ingin engkau selalu bisa


Temani diriku sampai akhir hayatmu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu uuu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku hingga ujung waktuku


Selalu


Seribu jalanpun ku nanti


Bila berdua dengan dirimu


Melangkah bersamamu


Ku yakin tak ada satupun


Yang mampu merubah rasaku untukmu


Ku ingin engkau selalu


Tuk jadi milikku


Ku ingin engkau mampu


Ku ingin engkau selalu bisa


Temani diriku sampai akhir hayatmu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu uuu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku hingga ujung waktuku


Selalu


Mungkin aku terlajur


Tak sanggup jauh dari dirimu


Ku ingin engkau selalu

__ADS_1


🎵


Divine mencari sesuatu di dekat tempat duduk Gara, dan dia menemukan tombol untuk membuka tirai.


"Kenapa, kamu sedang mencari apa?" tanya Gara.


Divine mendekatkan wajahnya ke depan wajah Gara. Gara pun menutup mata karena melihat Divine ingin menciumnya.


Sreettt... tirai terbuka. Divine menekan tombol di samping Gara.


Mendegar suara tirai Gara membuka mata dan melihat Divine sedang mendekat ke arah dimana Ben duduk.


"Huh, memang sangat berani mempermainkan ku, lihat apa yang akan aku lakukan nanti."


Sedangkan Divine tidak tahu sedang ada yang menatap tajam ke arahnya.


"Ben lagunya bagus, naikkan volumenya!" ucap Divine pada Ben.


Ben pun menaikkan volume.


Divine mulai ikut bernyanyi terdengar suara merdu dari mulut Divine seraya kembali ke tempat duduknya dan melihat Gara tersenyum padanya.


"Kenapa aku jadi takut melihat Gara tersenyum seperti ini, ah tapi sudahlah pura - pura saja."


Divine terus bernyanyi berpura - pura tidak takut saat melihat Gara tersenyum padanya.


"Ben jalan!" perintah Gara.


Ben langsung mengikuti perintah Gara.


rasa shock mereka sudah menghilang perasaan sudah kembali tenang setelah minum, bersandar dan ditambah lagu yang di putar Ben.


Gara masih diam saja sedangkan Divine masih bernyanyi, ia tampak sangat bahagia berpura - pura santai.


"Sayang ayo nyanyi bersama!" ajak Divine.


"Aku tidak ingin bernyanyi sayang." Gara mendekatkan wajahnya di depan wajah Divine.


Namun Gara terus mendekatkan wajahnya semakin dekat terus semakin dekat hingga Divine bergerak cepat merapat ke pintu mobil.


aaarrrrgghhh... pintu mobil terbuka.


"Diviiiiiiiiiiii." teriak Gara.


Ben langsung menghentikan jalannya mobil. saat mendengar teriakan dari Divine dan juga Gara, menoleh dan melihat pintu mobil terbuka. "Divi!" ucap Ben semakin terkejut melihat tidak ada Divine duduk di tempat duduknya dengan keadaan pintu terbuka.


Ben turun dari mobil, melihat ke belakang dan mencari Divi, namun tidak menemukannya.


Ben menghampiri pintu mobil yang terbuka melihat ke arah tempat duduk Gara.


Betapa leganya Ben melihat Divine ada dalam pelukan Gara tanpa suara dari keduanya.


Ben kembali masuk setelah menutup pintu yang terbuka tadi, ke tempat duduknya dan kembali bersandar sambil mengelus dadanya.


"Aku disini." terdengar suara Gara menenangkan Divine di dalam pelukannya "minum ini dulu!" Gara menyodorkan botol air mineral miliknya yang sudah ia bukakan untuk Divine.


Divine pun meneguk air mineral yang Gara berikan.


"Aku takut sekali, angin kencang sudah menyapa rambut ku." lirih Divine.


"Selama ada aku, aku tidak akan mengijinkan kamu terluka." jawab Gara seraya mencium kening Divine.


"Terimakasih."


Gara meletakkan jari telunjuknya dibibir Divine "sssstt Jangan katakan itu!"


Gara memeluk Divine semakin dalam, dan Divine menyandarkan kepalanya di dada Gara.


"Sudah ku katakan jangan jauh - jauh dari ku."

__ADS_1


"Kamu menekan ku tadi."


"Kalau kamu hanya diam tidak akan terjadi hal seperti itu."


"Kamu tidak tau malu."


"Kamu yang sengaja membuka tirainya."


"Sudahlah aku tidak akan menang berdebat dengannya."


"Aku akan melanjutkan perjalanan." ucap Ben.


"Periksa semua pintu dan kunci, aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi!" jawab Gara dengan tegas.


Ben pun mengiyakan dan mengunci semua pintu. Mereka semua sedang shock saat masuk ke mobil, setelah turun dari keranjang gantung, hingga hanya fokus melegakan diri bahkan Divine tidak memiliki tenaga menutup pintu hingga mudah terbuka, ditambah Ben yang juga lupa mengunci pintu.


Belum lama mereka jalan, hari sudah gelap.


Tak sengaja tangan Divine menyentuh tombol tirai sehingga tirai tertutup.


Gara melihat Divine yang masih berada di pelukannya.


"Hei apa sekarang kau menginginkan ku?" Gara mengangkat dagu Divine ke depan wajahnya.


"Gak, aku gak sengaja menyentuhnya,akan ku buka kembali."


Namun Gara menghentikan Divine untuk membuka tirai.


"Kenapa?" ucap Divine.


"Aku mau menghukum mu."


"Apa salahku?"


Belum selesai Divine berbicara, Gara sudah mencium bibirnya, ******* lembut bibir Divine. "Ah." suara Divine saat Gara melepaskan ciumannya.


"Kenapa, kau tak suka aku melepasnya?"


Divine diam kembali duduk dengan posisi yang benar di samping Gara jauh dari tempat duduknya semula.


Gara menjatuhkan tubuh Divine kesamping hingga Divine terbaring, memasukkan tangan nya ke dalam baju Divine meletakkan tangannya di daerah kesukaannya.


"Hentikan, ada Ben disini!" ucap Divine.


"Aku akan berhenti setelah kau tahu kesalahan mu."


Gara terus bermain main di sana, menciumi perut Divine, dan naik ke leher Divine.


"Ah, aku gak bisa menahannya nanti." ucap Divine.


Gara mengabaikan ucapan Divine.


ia terus saja bermain dan kini menatap wajah Divine, bibir Divine seolah memanggil, ingin di cium lagi, tanpa waktu lama Gara kembali mencium Divine dengan penuh gairah, semakin lama,semakin tak terkontrol hormon yang ada dalam diri, segera ingin melepaskannya.


"aargghhh." teriak Divine tak sengaja kakinya menyentuh tombol tirai hingga tirai terbuka. dengan cepat Gara menekan nya kembali hingga tirai tertutup.


"Mata ku ternoda" ucap Ben.


Gara menghentikan permainannya. kembali duduk begitu pun dengan Divine sambil merapikan pakaiannya yang porak poranda terkena serangan Gara.


Kini Divine duduk dengan tenang.


"Divi, aku mau bilang sesuatu sini dekatkan wajah mu!"


Divi mendekatkan wajah nya dan Gara mengecup bibir nya.


"auw, dasar kau."


Divine memikirkan sesuatu lalu ia berpindah duduk di pangkuan gara menghadap Gara, membuka kakinya berada di sebelah kanan dan kiri Gara.

__ADS_1


Gara terkejut dengan apa yang dilakukan Divine namun ia menikmatinya dengan diam saja tanpa protes.


Divine menyentuh wajah Gara dengan jari-jari halusnya, turun ke bibir Gara dan terus turun hingga ke jas Gara dan dengan pelan membuka kancing Jas Gara satu per satu hingga terlihat Dada Gara, Divine pun merabanya dengan lembut.


__ADS_2