Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 56


__ADS_3

Setelah melewati malam yang panjang. Pagi hari pun tiba. Rumah ini kembali ramai para pelayan mengerjakan pekerjaannya masing-masing.


Ben baru saja turun dan duduk di kursi meja makan, menatap tangga dari kejauhan berharap Gara terlihat di sana. Namun setelah satu jam baru lah Gara dan Divine terlihat menuruni anak tangga.


Para pelayan pun dengan cepat menata sarapan di meja makan dan selesai sebelum Tuan dan Nyonya mereka sampai di meja makan.


"Kenapa wajah mu seperti itu, belum puas mengerjai ku semalam?" ucap Gara saat tiba di meja makan sambil menarik kursi untuk Divine.


"Apa itu membuat mu tidak senang?" jawab Ben.


Wajah Divine dan Gara memerah, karena mengingat sesuatu yang telah terjadi. Divine mengalihkan wajah dengan mengambil segelas susu di dekatnya dan meminum setengah isi gelas itu.


"Lihat saja, kau akan menerima akibatnya?" jawab Gara, lalu mulai sarapan.


Mereka pun memulai hari ini dengan sarapan bersama. Jam kantor sudah lewat 30 menit, mereka datang lebih siang hari ini.


Setelah menyelesaikan sarapan, Gara dan Ben akan pergi bekerja.


"Tunggu, kalian tidak memberi aku tumpangan." ucap Divine karena merasa akan di tinggal, Gara tidak mengatakan apa pun ketika sampai di teras luar.

__ADS_1


"Kamu di rumah saja, tapi jangan kemana-mana?" ucap Gara dengan berat hati, namun ia telah memanggil Eza ke kantornya, Gara tidak akan tahan melihat Divi dan Eza bertemu lagi.


"Kenapa! apa biar kamu leluasa memeriksa Eza?" jawab Divine yang memikirkan Gara akan melakukan hal yang sama pada Eza.


"Itu menjijikan Gara, aku tidak bisa membayangkannya." tambah Divine, terlintas bayangan Gara dan Eza bersama di kepalanya.


Ben kebingungan dengan ucapan Divine, yang mengatakan itu adalah hal menjijikan jika Gara memeriksa Eza. Sedangkan Gara tersenyum karena ia bisa membaca kemana arah pikiran istrinya itu.


"Jadi kamu mau apa sekarang?" tanya Gara.


Divine berjalan masuk ke dalam mobil menandakan ia ingin ikut ke kantor.


Aku yang bodoh atau mereka yang gila, Heh biarlah, sebaiknya aku diam saja dan jangan pernah kembali tidur di rumah ini.


Ben sudah masuk ke dalam mobil dan juga Gara yang sudah duduk di samping Divine di kursi penumpang.


Ben pun mengemudikan mobil berjalan menuju gedung tertinggi di kota ini. Selama perjalanan semua tampak normal. Tak lama pun mereka telah sampai di Andava grup memasuki gedung dan memakai lift khusus presdir yang mengantar mereka langsung di lantai teratas. Saat pintu lift terbuka Ben keluar terlebih dahulu dan berjalan dengan cepat lalu menghampiri seorang Pria yang sedang berdiri di depan meja Syasa.


"Tundukan pandangan mu sampai aku bilang kau boleh mengangkat kepala mu dan memandang kemana saja." ucap Ben pada Eza, pria yang sedang berdiri di depan meja Syasa.

__ADS_1


Baru saja Eza ingin membantah, Ben langsung menyelanya. "Ini perintah Gara."


Eza pun menundukkan kepalanya karena sadar kesalahan yang telah ia perbuat.


Gara dan Divine pun berlalu di depan Eza, dan masuk ke ruang Presdir yang di ikuti oleh Ben.


"Masuk ke dalam!" ucap Gara kepada Divine.


"Gak, ada apa?"


"Eza berada di luar dia akan masuk,"


Ben sudah memegang pintu


bersiap membuka pintu ruang Presdir ini, namun suara Gara menghentikannya.


"Tutup matanya." ucap Gara.


"Untuk apa, kau tidak menutup mata ku semalam?" ucap Divine.

__ADS_1


Rasanya Gara ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Divine.


__ADS_2