
“Selamat pagi Div,” ucap Ben yang baru saja tiba.
“Ya Ben, selamat pagi, duduklah dan sarapan.” ucap Divine.
Gara dengan wajah tak senang melihat ke arah Ben, ia kesal pada Ben yang baru saja datang bukannya menyapa dirinya terlebih dahulu, malah menyapa istri dari bosnya itu. Mungkin Ben akan di pecat jika ben saat itu sedang bekerja dengan orang lain.
“Hei, apa aku seperti udara, yang tidak terlihat,” ucap Gara kesal.
Divine dan Ben tertawa kecil.
“Tidak Bos, dini hari tadi kan, aku sudah mengucapkan selamat pagi pada mu, walau itu masih dini hari.” ucap Ben menjelaskan agar Divine mendengar ucapannya.
“Terimakasih Divi, aku sudah sarapan, Bagaimana keadaan mu hari ini?” Ben beralih pada Divine.
“Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat?” jawab Divine.
“Apa kau tidak mengalami mual pagi ini?” jawab Ben penasaran dengan wanita cantik ini yang mungkin sebentar lagi badannya akan melar.
“Sudahlah ayo berangkat,” Gara sudah tidak sabar untuk membawa istrinya itu ke dokter.
__ADS_1
Gara, Ben dan Divine pun beranjak dari tempat duduk mereka. Gara mengambil tas kecil milik Divine lalu menaruh di bahunya, sama seperti saat Divine membawa tas kecil itu.
“Hei, kemarikan tas ku!” ucap Divine saat melihat Gara sudah membawa tas Divine di bahu Gara.
“Biar aku saja yang membawanya,” ucap Gara seraya menggandeng tangan Divine.
“Apa kau tidak merasa malu?” tanya Divine.
“Tidak, dirimu saat ini lebih dari segalanya, aku tidak akan membuat mu lelah,” jawab Gara.
Ben yang melihat dan mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, hanya karena perihal tas kecil yang jika di lihat hanya cukup di isi 1 buah handphone membuat pasangan suami istri itu berdebat.
“Hei sayang, perhatikan langkah mu,” dengan cepat Gara mengejar Divine dan menggenggam kedua tangan Divine lalu mencium kening Divine dengan sangat lembut.
“Aku hanya tak ingin kau merasa lelah sayang, mengertilah,” ucap Gara lembut sesaat setelah mencium kening Divine.
Ap**a aku akan kelelahan hanya membawa tas kecil yang hanya berisi 1 ponsel.
Divine bergumam di hatinya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menjaga diriku dan berjalan dengan pelan,” ucap Divine.
Hmm, sekalian saja aku mengerjainya.
Terbesit pikiran nakal di kepala Divine.
“Bisa kah aku berkata sesuatu?” tanya Divine.
“Tentu sayang, katakan saja,”
“Aku ingin di gendong Ben,” jawab Divine pelan dengan menundukkan kepalanya.
Ben terbelalak mendengar ucapan Divine, baginya itu hal yang tidak mungkin.
Gara pun tidak kalah terkejutnya, ia terdiam dengan apa yang baru saja ia dengar.
Beberapa hari yang lalu, Divine melihat sebuah iklan jasa yang mengatakan, “Anda sedang hamil dan banyak menginginkan sesuatu yang aneh, jangan ragu hubungi kami,”. Inilah yang menjadi dasar Divine untuk mengerjai suaminya itu. Karena Divine benar-benar tidak tau apapun tentang kehamilan. Bahkan pengetahuan soal pernikahan pun baru ia dapat melalui buku-buku yang di belikan oleh Jerry.
“Sayang bisa kah kau pastikan kembali,mungkin yang kau inginkan, aku yang menggendong mu.” Gara memastikan kembali ucapan Divine.
__ADS_1
Tadinya Divine ingin segera menyudahi ini, namun Divine menjadi penasaran, tindakan apa yang akan Gara pilih. Sedangkan Ben sudah tidak ada di tempatnya berdiri, ia pergi dengan mengendap-ngendap, tak ingin membuat teman dan juga bosnya itu akan membuatnya kehilangan Gaji yang mungkin sampai anaknya lahir, pikir Ben.