Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 92


__ADS_3

Gara dan Divine kembali ke kamar hotel Divine.


Gara mulai memilah-milah pertanyaan dan pernyataan di kepalanya jangan sampai berakhir membuat Divine kesal dan pergi lagi meninggalkannya di kamar ini.


Gara mendudukkan Divine di tempat tidur dan Gara pun bersimpuh di depan Divine dengan memegang tangan istrinya itu di pangkuan Divine.


"Bagaimana keadaan mu?" ucapan pertama yang keluar dari mulut Gara.


Saat Divine hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Gara, Gara menutup mulut Divine dengan jari telunjuknya.


"Sssttt... aku tau akhir-akhir ini berat buat mu begitupun dengan ku."


Divine menatap Gara sinis seakan ingin bertanya sambil menarik kerah baju Gara, namun ia memilih diam mendengarkan alasan apa yang akan Gara katakan karena baginya itu sudah berlalu.


"Aku juga tau saat ini pasti kau ingin bertanya pada ku, kemana saja suami mu ini di saat tersulit mu, di saat kau merasa bersalah, karena menghilangkan janin yang baru saja ingin tumbuh."


Kau tau, tapi kau tidak di sampingku.


Divine bergumam kesel di hatinya.


"Ini juga berat untukku dan ini kesalahan ku karena tidak dapat menjaga mu dengan baik." ucap Gara dengan nada lembut penuh kasih kepada Divine.


Divine diam sejenak, menunggu Gara mungkin masih ingin menjelaskan suatu hal lagi.


"Maafkan aku sayang." Gara bangun dan memeluk istrinya itu.


"Apa itu saja?" ucap Divine dengan nada tinggi seraya mendorong tubuh Gara menjauh darinya.

__ADS_1


Emosi Divine memuncak, yang sangat ingin ia dengar saat ini adalah alasan Gara berada di kamar Shena.


Penjelasan mengapa suaminya itu meninggalkannya kemarin sudah sedikit terlambat bagi Divine ia lebih merasa sakit saat melihat sesuatu yang harusnya tidak ia lihat.


Divine telah menerima kejadian beberapa waktu lalu yang menimpa dirinya hingga hari ini ia mendapatkan keyakinan bahwa dirinya bisa memiliki anak lagi, namun kenyataan bahwa Gara mengkhianatinya adalah hal terpahit untuknya.


"Aku bisa membuktikannya sayang." ucap Gara cepat dan mengambil ponsel dan mulai mencari kontak di ponselnya.


"Jerry aku tau saat ini kau mengetahui apa yang aku lakukan beberapa waktu lalu, tolong kirim sekarang ke padaku." Gara berbicara di telpon lalu langsung menutupnya lagi.


Namun Divine sudah sangat tidak tahan, ia ingin segera pergi meninggalkan kamar hotel, namun Gara selalu menghentikannya, meminta Divine menunggu sebentar.


Gara telah menerima email dari Jerry.


"Div lihat ini, setelah melihat ini dan kau tetap ingin pergi, maka pergi lah." ucap Gara yakin, bukti yang ia tunjukkan akan menghentikan Divine.


Terlihat pada pukul 10 malam Gara masuk ke kamar rawat Divine, memandangi wajah Divine yang sedang tertidur, Gara tak menyentuh Divine sedikit pun. Karena Divine sangat peka terhadap sentuhan sedikit saja mampu membangunkannya, bahkan Gara tak menyentuh ranjang Divine karena ia benar-benar tak ingin membuat Divine terbangun dan melihat dirinya yang sedang tidak baik. Sepanjang malam Gara menemani Divine di rumah sakit itu tanpa seorang pun mengetahuinya, kecuali pengawal-pengawal yang Gara tempatkan di sana untuk menjaga Divine di saat dirinya tak ada. Sampai pukul 4 pagi, barulah Gara kembali ke rumah dengan bantuan pengawal untuk membangunkannya, karena tak mungkin ia menyalakan alarm di kamar rawat Divine.


Begitu pun malam berikutnya, Gara kembali datang pada pukul 10 malam saat jam besuk sudah berakhir sejak 2 jam lalu. Gara hanya datang untuk melihat Divine dan menemani istrinya di sana, walau ia tahu itu bukan hal yang Divine inginkan, bagaimana ia bisa menunjukkan wajah keterpurukannya di depan Divine dan seolah kuat di depan Divine untuk menguatkan Divine. Trauma kehilangan adiknya saja belum sirna di tambah kehilangan anak yang belum sempat ia lihat sungguh menggegerkan hati Gara.


"Mungkin kau bertanya pada Pak Ann, apakah aku selalu seperti kemarin malam, pulang dengan keadaan bau alkohol?" tanya Gara setelah melihat rekaman CCTV itu hingga selesai.


Divine hanya diam, karena waktu itu Divine benar mempertanyakannya, dan kejadian setelah itu lah yang sangat ingin Divine dengar.


"Setelah jam kerja berakhir, aku menghabiskan waktu di bar sembari menunggu pukul 10 malam." ucap Gara.


Sebenarnya Gara ingin mengatakan Shena dan Vely juga di sana, namun karena tidak ingin memperkeruh keadaan Gara memilih untuk tidak mengatakannya.

__ADS_1


Gara pergi dengan pengawal untuk berjaga-jaga jika ia mabuk danenghindari hal-hal yang tidak di inginkan mungkin saja terjadi.


Di saat itu Gara mengetahui Vely masih memiliki perasaan dengannya. Jarak yang selalu Vely jaga saat bertemu Gara, sirna pada hari-hari itu, ia benar-benar menempel pada Gara karena mengira Gara memiliki perasaan yang sama padanya dengan memandangi photo dirinya, yang hanyalah bualan Shena semata.


Shena yang selama ini tidak Divine sukai benar-benar menunjukkan wajah aslinya.


Mencoba memberi harapan kepada Vely dengan tujuan meretakkan rumah tangga Gara dan Divine lalu ia bisa masuk dengan aman tanpa pandangan orang ke tiga atau perusak hubungan orang lain. Walau Shena tidak melakukan apa pun di bar itu, seharusnya ia bisa menjauhkan Vely dari Gara dengan alasan menghargai Divine istri Gara, namun Shena diam saja entah apa yang ada di pikirannya.


Divine mengangguk karena apa yang Gara katakan dan rekaman CCTV itu sangat sejalan dan Gara pun tampak tidak berbohong.


"Aku sangat khawatir melihat mu semalam, untunglah aku belum membubarkan pengawal hingga mereka tetap mengikuti kemana pun kau pergi." ucap Gara.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku." ucap Divine yang tetap ingin melangkah keluar, ia belum mendapat penjelasan yang ia inginkan.


"Sayang, maafkan aku mengabaikan mu saat kau menunggu ku kemaren." ucap Gara, baru saja terlintas di pikirannya, mungkin bagian itu yang membuat Divine masih tetap ingin keluar dari kamar tanpa memeluknya terlebih dahulu.


"Aku hanya ingin membuat mu bertingkah seperti dulu, memeluk ku sesuka hati mu, tanpa ku minta, tapi sepertinya aku salah." sambung Gara lagi.


"Masihkah kau ingat saat pertama kali aku datang ke kamar mu?" tanya Gara, sebuah pelukan Divine saat itu menghentikan keinginan Gara yang ingin tidur di kamar lain.


"Ya aku ingat, betapa tidak tau malu dan bodohnya diriku." jawab Divine dengan senyum kecut.


"Tidak sayang, kau tidak bodoh atau tidak tau malu, kau wanita satu-satunya yang bisa membuatku jatuh cinta?" jawab Gara.


"Lalu kenapa kau mengkhianati ku?" tanya Divine dengan suara keras dan lantang, akhirnya mengatakan apa yang saat ini sedang ia ragukan.


Seketika Gara terdiam, ucapan Divine lagi membingungkan dirinya, setelah mengungkap semuanya, Divine masih meragukannya.

__ADS_1


Pada malam itu, Gara tidak melihat Divine datang ke kamar Shena, sehingga ia benar-benar tidak memiliki gambaran apa yang sedang membuat Divine sangat kecewa.


__ADS_2