Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 45


__ADS_3

"Terimakasih Tuan Jerry." ucap Eza.


Eza pun sudah selesai mengerjakan urusan bisnisnya di Andava grup bersama Tuan Jerry.


Setelah selesai makan siang Divine dan Eza langsung menuju Andava grup, di perjalanan suasananya cukup berbeda dengan perjalanan mereka menuju restoran tadi. Eza yang banyak bicara mendadak sedikit diam, ia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan Divine. Jantung Eza tidak berhenti berdebar-debar sedari tadi saat di restoran, ia minum air mineral berkali-kali namun tidak meredakan debaran jantungnya.


Divine yang terus mengoceh tidak menyadari bahwa lawan bicaranya itu sedang menenangkan diri, ia hanya merasa Eza sedikit diam namun tidak membuatnya ikut diam. Ada saja yang ia bahas, melihat Divine yang begitu ceria membuat Eza kehilangan konsentrasinya ia seperti larut dalam wajah Divine yang terus memancarkan kebahagiaan, saat menyetir tadi hingga hampir menabrak mobil di depannya, membuat Eza mendadak menginjak rem mobilnya dan membuat Divine tersungkur ke depan dengan sigap Eza meninggalkan setirnya dan memeluk Divine, tangan kirinya melingkar di belakang kepala Divine, telapak tangannya memegang dahi Divine untuk melindungi dahi Divine berbenturan dengan dashboard mobil.


Divine baik-baik saja namun tangan Eza sedikit sakit karna terbentur dashboard mobilnya. Divine memegang tangan Eza mengelus dan meniupnya, sama seperti Ibu Divine saat Divine terjatuh, ibunya akan mengelus dan meniup bagian yang sakit.


Divine merasa tak enak, karena dia tangan Eza jadi sakit. Ia pun meminta maaf pada Eza sambil meniup dan mengelus tangan Eza. Namun Eza mengatakan ini semua kesalahannya bukan salah Divine. Tangannya yang tadi sakit seketika berasa sudah baik-baik saja karena sentuhan Divine.


Divine pun melepas tangan Eza. Eza meminta maaf karena sudah memeluknya dan menyentuh dahinya, Divine pun menjawab ya, mungkin akan lebih buruk jika kau tak menahan tubuhku tadi.


Eza pun memasang seat belt terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalannya, Ia pun meminta Divine juga memakainya dan berpesan mulai sekarang jangan lupa pakai seat belt walaupun jarak tempuh perjalanan pendek saja.


Setelah sampai di Andava Grup Divine mengantar Eza menemui Jerry lalu pergi menuju ruangannya yang kini menjadi ruangan Gara juga.


___________


"Aku langsung pulang atau lihat Divine dulu ya?" Eza bergumam sendiri berdiri di depan ruangan Jerry. "Tapi alasan apa?" tambahnya.


Syasa menghampiri Eza.


"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Oh saya mau bertemu Nona Divine?"


"Mari saya antar!" Syasa mengajak Eza menuju ruangan Divine dan meminta menunggu sebentar setelah menanyakan nama Eza, Syasa masuk terlebih dahulu dan berkata pada Divine bahwa ada seseorang bernama Tuan Eza ingin bertemu dengannya. Divine pun mengiyakan, lalu Syasa kembali keluar dan mempersilahkan Eza masuk.


"Halo Div, gimana keadaan mu?"


"Aku baik-baik saja, tapi ini," Divine menunjukan tumpukan kertas yang begitu banyak di mejanya.

__ADS_1


"Wah, kenapa bisa begitu banyak Div?"


Divine mengangkat bahunya menunjukkan ia tak tau.


Eza melihat berkas-berkas yang tertumpuk itu dan melihat kop surat kertas-kertas itu.


"Ini berkas Gara Div." sambil menunjuk kop surat pada tumpukan berkas di meja Divine.


"Hah ! apa iya? aku tidak memperhatikannya aku sudah malas melihat berkas yang tertumpuk begitu banyak."


Saat Divine masuk ke ruangannya dan melihat begitu banyak tumpukan kertas membuatnya merasa sangat malas dan memilih bersandar saja di kursinya sedari tadi. Karena Divine adalah orang yang tak suka menunda pekerjaan hingga mejanya tak akan pernah tertumpuk banyak berkas.


"Iya Div, mungkin Gara sudah memindahkan semua pekerjaannya kesini."


Divine terdiam mencerna kata-kata Eza.


Gara sudah memindahkan semua pekerjaannya kesini, lalu pekerjaan apa yang mau ia lakukan bersama Ben tadi?


"Ngomong-ngomong ruangan Gara ini berbeda dari ruangan presdir lain." Eza tertawa mengejek.


"Haha, ini ruangan ku sebelumnya, pasti nanti Gara akan mengubahnya." Divine masih tertawa. "Za aku merasa sedikit mengantuk, apa masih ada yang bisa ku bantu?" tambah Divine berharap Eza mengerti maksud kata-katanya.


"Oh ya, tidak ada lagi Div, kalau begitu kamu istirahat aja dulu, kalau ada apa-apa telpon aku ya, maaf sudah mengganggu mu Div." ucap Eza dan Divine pun mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya, Eza pun melambaikan tangan dan keluar dari ruangan Divine.


Pekerjaan apa? sedangkan pekerjaannya sudah disini, apa masih ada yang belum dibawa kesini?


Divine terus memikirkan suaminya itu hingga pikirannya terhenti pada sebuah nama. Tak pikir lama lagi Divine langsung mengambil tas dan keluar dari ruangannya.


"Siapkan mobil,aku ingin pakai saat sampai dibawah aku mau mobil sudah siap." Divine berkata pada Syasa dan berlalu meninggalkan Syasa. Dengan cepat Syasa menelpon dan meminta siapkan mobil untuk Divine jangan sampai terlambat, Nona sekarang sudah berada di koridor bawah begitu infonya agar mobil yang di minta Bosnya itu tidak terlambat. Syasa bingung dengan Bosnya, baru kali ini Divine bersikap seperti itu.


Mobil yang di minta Divine pun sudah siap lengkap dengan supir yang berdiri di samping mobil saat Divine keluar dari pintu utama gedung Andava grup.


"Terimakasih pak, saya ingin pergi sendiri." ucap Divine. Supir itu pun mengangguk dan langsung membukakan pintu mobil untuk Divine.

__ADS_1


Divine mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dimana Vely di rawat.


Eza yang masih berada di parkiran terkejut melihat Divine keluar dari Andava grup.


"Katanya mengantuk, kenapa malah keluar dan membawa mobil sendiri?" gumam Eza, ia pun berniat mengikuti Divine.


Di sisi lain.


Gara, Ben dan juga Vely sudah tiba di apartemen yang akan di tinggali Vely.


Gara mengatakan pada Vely, ini adalah tempat tinggal Vely sebelumnya padahal apartemen ini baru saja di beli untuk di tinggali Vely. Pakaian, alas kaki dan semua kebutuhan Vely sudah tersedia disini, seolah ini memanglah tempat tinggal Vely sebelumnya.


Karena Gara tidak mengetahui dimana Vely tinggal selama setengah tahun ini, ia memilih membeli apartemen yang satu gedung dengan Ben agar ia mudah merawat dan mengawasi Vely. Tadinya Gara ingin Vely tinggal dengan Ben agar lebih mudah lagi, namun Ben menolak.


Kini Divine sudah memasuki rumah sakit dan berjalan menuju ruang rawat Vely, namun saat Divine membuka pintu ruang rawat dimana Vely dirawat tadi, ia tidak melihat siapa pun, ruangan ini sudah bersih tampak tak ada penghuni. Ia kembali menutup pintu dan seorang perawat lewat di depannya.


"Maaf, dimana Nona yang di rawat disini?"


"Oh tadi sudah pulang Nona."


"Apa bersama orang yang biasa bersamanya disini?"


"Bukan Nona." jawab perawat itu dan permisi untuk meninggalkan Divine.


Perawat itu tak tau bahwa Gara lah yang di maksud Divine yang biasa bersama Vely disini, perawat itu tak pernah melihat Gara sebelumnya, karena yang ia tau adalah dua orang pengawal wanita yang menjaga Vely.


Bukan, apa benar pekerjaan yang dia maksud tidak berhubungan dengan Vely?


Tak puas Divine dengan apa yang dia dapat. Entah kenapa ia sangat yakin suaminya itu sedang melakukan sesuatu di belakangnya.


Semenjak kehadiran Vely, rasa cemburu Divine mencuat ke permukaan lagi.


Divine pun berniat ke bagian pendaftaran ingin memastikan sekali lagi siapa yang bertanggung jawab untuk Vely saat keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2