
Setelah Gio berangkat kerja. Divine pun beranjak ke kamar Gio. Mengetuk pintu sebelum masuk. Inah mulai terbangun dan saat membuka matanya.
"Aaa.." kaget. Divine berdiri di hadapannya dengan wajah berada tepat di depan wajah Inah. Menganga. Divine melongo dengan tangan di keningnya melihat wajah Inah dengan riasan yang sudah hampir habis merata.
Inah akhirnya sadar bahwa wanita yang masih tampak muda di depannya ini adalah ibu mertuanya. Divine masih terdiam. Dia benar-benar memikirkan Gio. Apakah Gio sudah mengetahui fakta di balik riasan Inah.
Inah yang melihat ekspresi wajah Divine. Menyadari sesuatu, ia bergerak pelan untuk mencari keberadaan Gio.
Raut wajahnya berubah drastis. Seakan ia telah melakukan kesalahan besar. Menarik ingus.
"Sudahlah tidak mengapa, kau tidak perlu menangis." ucap Divine mendengar suara tarikan ingus Inah.
"Ahh tidak, sepertinya aku tidak terbiasa dengan ruangan dingin." sangkal Inah.
Divine terkekeh. karena salah menduga. Mengira Inah mendadak menangis karena wajah aslinya telah ketahuan oleh Gio. "Kupikir kau menangis karena Gio, kalau begitu kau bisa menaikkan suhu ruangannya, sekarang mandilah, setelah itu sarapan dan kita akan menemui dokter." Divine berlalu meninggalkan Inah.
Sementara Inah menebak-nebak keadaan saat ini. Benarkah suaminya sudah mengetahui wajah aslinya. Bertanya-tanya kenapa Gio diam saja tidak menendangnya keluar dari kamar. Pikir Inah berlarian.
"Hah sepertinya dia hanya anak orang kaya yang menikah, sebagai syarat untuk menggunakan warisannya." tebak Inah sesuai kisah sinetron yang sering ia tonton.
Setelah selesai dengan pikiran anehnya. Inah pun langsung bergegas mengikuti perkataan Divine. Dia masuk ke dalam walk in closet matanya terbuka lebar. Melihat pakaian Gio dan juga pakaian wanita yang tertata rapi di dalam sana. Inah menyentuh pakaian-pakaian teregantung. Mini, midi dan longdress yang sangat indah. Dia memegang lengannya. Mengingat warna kulitnya. Gaun-gaun itu tidak diciptakan untuk dirinya. Itu pikir Inah.
Inah berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi ia terpanah. Kamar mandi yang begitu luas dan nyaman bahkan ada bathtub yang pernah kakaknya pamerkan padanya saat kakak Inah berada di hotel.
__ADS_1
Inah berhenti menyentuh bathub itu. Takut penyakitnya akan menular pada pemilik semua ini. Ia berhenti menganggumi apa-apa yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mandi di bawah shower setelah beberapa kali mencoba untuk mengeluarkan air yang dia inginkan. Dia bukan hanya tidak cantik tapi dia juga tidak pintar.
Setelah selesai mandi Inah menunggu semua air telah terbuang sembari menunggu tubuhnya kering. Dia memiliki badan yang bagus. Inah kembali memakai pakaian yang sebelumnya ia kenakan. Keluar dan melihat-melihat pakaian-pakaian cantik itul lagi. Dengan melihatnya saja membuat Inah merasa senang.
"In.... kamu masih mandi?" suara Divine terdengar dari depan.
Inah bergegas keluar dan menghampiri Divine. "Ya, maaf." tutur Inah terbata tampak takut-takut.
"Kenapa kau masih canggung, kamu bisa memanggilku Mama seperti Gio. Apa kamu belum mandi kenapa kau masih memakai pakaian yang sama?" celoteh Divine. Rasanya dia tidak bisa berbicara sedikit pada menantunya itu. Setiap melihat Inah ada banyak pertanyaan muncul dibenaknya.
"Inah sudah mandi Ma, tapi ya begini. Inah sudah mandi atau belum tetap sama saja, jelek."
Divine tersenyum mendengar perkataan Inah. Divine merasakan ada jiwa ceria pada Inah. Namun dia tidak bisa mengekpresikannya.
Divine menghampiri Gara di dalam kamar mereka.
"Oh sayang, aku sudah tidak bisa mengelak. Aku benar-benar semakin tua. Aku semakin sering lupa." keluh Divine pada suaminya.
"Tidak masalah sayang, selagi kamu masih terus mengingatku adalah suamimu yang paling kamu sayangi melebihi siapapun. Yang lain tidak akan jadi masalah." ungkap Gara yang langsung menempel di tubuh Divine.
Semakin tua semakin banyak yang Divine pikirkan. Itu yang Divine rasakan. Dia meraih ponselnya hendak menghubungi anak-anaknya lain.
"Vanni dan Vanno ini kalau bukan ibu mereka yang menghubungi terlebih dulu, Ibunya tidak akan melihat dan mendengar suaranya." gerutu Divine.
__ADS_1
"Jangan marah-marah sayang, nanti kamu bingung kalau kerutan di sudut matamu muncul." Gara mengingatkan. Bahkan ritual senyum sebelum tidur Divine masih terus ia jalani hingga sekarang. Meninggalkan segala kekesalan saat hendak memejamkan mata.
Sementara itu. Inah sudah membuka kotak pemberian Divine yang ternyata isinya adalah beberapa gaun panjang dan juga peralatan makeup untuknya. Kini Inah sudah mengganti bajunya dan sudah selesai merias wajah. Melihat dirinya di dalam cermin.
"Kenapa tampak lebih buruk ya?" ucap Inah. Melihat alisnya yang besar dan warna wajahnya yang bak memakai topeng di tambah rona pipi yang sangat terang.
Inah menghapus makeupnya lagi. Kembali mengulang setiap tahapan sesuai ingatannya pada hari kemarin saat dirinya dirias. Namun sama saja hasilnya tetap tidak membuatnya senang. Hingga Divine kembali tiba, dia juga belum berhasil menghasilkan makeup yang bagus untuknya.
"Hahahhaahh." Divine terpingkal melihat wajah menantunya. Sedangkan Inah hanya bisa diam. Divine pun membantu Inah merias wajahnya lagi.
"Apa kau ingin berdandan tiap hari?" tanya Divine dengan penekanan naik turun menyampaikan maksud tersirat. Walau mungkin sebenarnya Gio sudah mengetahuinya.
Inah mengangguk. Dengan wajah dirias saja dia tidak punya kekuatan untuk mendongakkan kepalanya. Apalagi tanpa riasan.
Setelah Inah sarapan. Divine pun membawa Inah untuk menemui dokter. Inah menjalani perawatan chemical peeling untuk sesi pertamanya. Awalnya Divine meminta untuk perawatan microneedling yaitu perawatan yang mengatasi masalah jerawat,bekas, bopeng dan masih banyak lainnya. Namun dikarenakan adanya jerawat di wajah Inah. Inah harus menunggu kulitnya tenang terlebih dulu baru ia bisa mendapatkan perawatan itu.
Setelah menyelesaikan semua jadwal yang dibuat mertuanya.Kini dia bisa kembali, Inah menghabiskan waktu 5 jam hanya untuk ilmu make up. Hingga dia kembali ke rumah saat hari sudah gelap.
Divine yang tadi bersamanya sudah pulang terlebih dulu karena Gara menjemputnya dengan alasan Divine sudah sangat merindukannya. Jadi dia berinisiatif untuk menjemput Divine agar kerinduan Divine tidak semakin menjadi. :D
"Kamu siapa?" Gio menodongkan pertanyaan pada Inah yang baru saja melepas maskernya setelah menutup pintu kamar.
Inah tersentak bukan kepalang. Dia benar-benar tidak berpikir dulu sebelum masuk kamar. Dia hanya ingin cepat menghindar dari semua orang.
__ADS_1
"A-aku I-nah, tidak aku pembantu." Inah terbata dan dengan cepat mengganti kalimatnya yang sudah sangat jelas terdengar oleh Gio.