Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Baby Giodava


__ADS_3

“Sayang coba sini.” Divine memanggil Gara untuk mendekat padanya.


Gara pun mengikuti instruksi Divine yang seperti ingin berbisik padanya. Mendekatkan telinga.


“Sebaiknya kau diam saja, daripada perut ku semakin sakit karena tertawa.” bisik Divine.


“Kenapa?”


“Sudahlah pokoknya kamu diam saja!”


Jangankan bangun dari posisi baring ke duduk, tertawa saja sudah sangat menderita bagi ibu pasca Cesar. Apalagi di tambah menyusui. Doublle kill. Bekas sayatan di perut sakit begitu juga payudara terasa sakit dan geli-geli gimana gitu.


Tampak wajah Gara yang sedang bingung. Istrinya memintanya untuk diam.


Kenapa?


Apa dia merasa aku mengganggunya?


Apa dia sangat menikmati gerakan bayi mesum itu?


Tidak, ini tidak bisa di biarkan!


Gara berdiri dan mulai mencari bukit kembar Divine yang menganggur.


“Gara apa yang kamu lakukan?”


Gara diam saja mengikuti perintah Divine agar diam saja tidak berbicara. Namun tangannya meraih baju Divine hingga bukit yang sedang menganggur itu tampak begitu jelas.


Sedangkan bayi tampan itu masih asik menyesap susu ibunya.


Tanpa basa-basi Gara langsung mengulum ****** Divine. Ia ikut menyusu seperti anaknya. Karena tidak terima Divine menikmati gerakan bayi mesum itu hingga menahan desahnya. Ia ingin, hanya dia lah yang membuat Divine menahan desahnya.


“Garaaaaaaaa...” teriak Divine semampunya saja.


Pek.. Gara melepeh atau mengeluarkan sesuatu yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


“Rasanya tidak enak.”


“Kau pikir anak ini sedang apa hah?”


“Menyusu dan itu membuat mu terangsang hingga menggigit bibir bawah mu agar tidak mendesah.”


“Kalau kamu yang melakukannya itu benar.” Divine memutar kedua bola matanya ke atas. Jengah. Tobat dengan pikiran suaminya itu. Sambil merapikan bajunya.


“Lalu?” Gara ingin sebuah penjelasan.


“Rasanya sakit sayang. Ini kali pertama. Aku menggigit bibir ku karena menahan tawa, perut ku sakit jika tertawa.” jelas Divine sebelum suaminya itu semakin tidak beres.


“Pertama gimana ? aku yang pertama. Aku sudah sering menyesapnya.” sanggah Gara.


Tak rela Divine mengatakan kali pertama. Dialah yang pertama menyentuh dan menyesapnya. Hanya dia Tuan Gara.


“Aaarghhh... sudahlah terserah padamu. sebaiknya kau diam saja lagi, ingat diam. Jangan bicara, kecuali aku mengajak mu berbicara.” tukas Divine dan kembali melihat wajah bayi mungil di dalam gendongannya.


“Siapa nama mu nak, ayah dan ibu bahkan belum menyiapkannya, karena kau lahir sangat cepat.” Divine berbincang sembari menatap bayi itu yang matanya tertutup namun gerakan menyusunya sangat kuat.

__ADS_1


“Sayang, apa kau punya nama untuknya?” Divine beralih pada Gara yang duduk di meja kerja Ben.


“Giodava.”


“Giodava, nama yang bagus, sejak kapan kau memikirkannya sayang?”


“Baru saja.”


“Hei-hei, kenapa kau jadi berbicara seperti itu lagi padaku singkat padat dan jelas?”


“Kau memintaku untuk diam.”


Divine tertawa kecil menutup mulutnya. Belum apa-apa sudah cemburu.


Tanpa sadar Divine sudah beberapa kali menggendong anak itu dengan 1 tangannya. Sepertinya ia sudah cukup lihai tidak terlalu kaku lagi.


“Giodava, nama yang bagus bukan Nak? ayah dan ibu memberimu nama "Giodava" mulai sekarang ayah dan ibu akan memanggil mu Gio.”


Gara masih memandangi wajah Divine yang terus menunjukkan perasaan bahagianya. Setelah penderitaan yang ia alami. Tak sedikitpun ada rasa benci pada anaknya itu. Pikir Gara.


“Apa aku sudah bisa bicara?” tanya Gara sebelum menyampaikan apa yang akan ia bicarakan.


“Iya sayang bisa, jangan membuat lelucon receh!”


“Apa dia masih meminumnya, rasanya tidak enak lho.” Gara bertanya dan menegaskan lagi bahwa air susu Divine tidak enak.


“Sudah berhenti, tapi ia masih menekan ****** ku, nanti akan terlepas sendiri jika ia sudah terlelap.”


Divine jadi banyak tahu ya, bagaimana tidak. Ia menghabiskan waktunya di tempat tidur dengan membaca buku dan melihat tanya jawab di situs ibu dan anak.


“Bohong, dia terlihat sangat menikmati payudara mu hingga tertidur.”


Astaga, apasih sebenarnya yang ada di dalam otaknya.


“Itu karena dia kenyang.” Divine mulai malas meladeni segala macam ucapan suaminya. Rasanya sedari tadi tidak ada yang beres.


“Nah sudah terlepas, ayo bantu aku tidurkan dia di tempat tidurnya.”


Gara bersiap untuk menggendong anaknya itu untuk pertama kali.


“Cepat sayang.”


“Sebentar..sebentar.” Gara membolak-balikan tangannya namun rasanya tetap tidak siap.


“Perhatikan tangan ku.”


“Ya Seperti ini kan.”


Lalu Divine mengangguk membenarkan.


“Lalu bagaimana mengambilnya dari mu?”


“Rendahkan tangan mu, biar aku meletakkannya.” Divine tidak terlalu bisa bergerak, jadi ia meminta Gara untuk merendahkan tangan di depannya.


“Sebentar...sebentar.” Gara memperbaiki tangannya lagi, dan saat Divine sudah ingin meletakkan di tangannya. Lagi-lagi Gara berkata sebentar.

__ADS_1


“Sebentar sayang, rasanya aku belum bisa.” ucap Gara. Ia menyerah. takut jika ia akan menjatuhkannya nanti.


“Beeeeeen......” Gara memanggil Ben.


Ben yang berada di depan pintu yang tidak tertutup rapat itu langsung masuk mendengar Gara memanggilnya.


Semoga saja Ben tadi tidak lihat waktu Gara ikutan nyusu. Kan kasihan jika ia melihat Lagi-lagi Ben hanya bisa meronta tidak bisa meluapkan.


“Ya, ada apa?” tanya Ben. Setibanya di depan Gara.


“Apa kau bisa menggendongnya kembali ke dalam box bayi?” tanya Gara.


“Tentu.” Ben langsung mendekat pada Divine dan mengambil Giodava dari gendongan sang ibu dan membawanya ke box bayi dengan 1 tangan sudah menopang seluruh tubuh bayi mungil itu. Meletakkannya di dalam box bayi yang serba putih hingga bantal dan selimutnya berbulu pendek dan lembut.


Gara hanya bisa membesarkan matanya melihat Ben yang terampil.


“Apa kau sudah punya seorang anak Ben, kenapa kau sangat mudah melakukannya.” Heran Gara.


Bagaimana tidak, beberapa hari ia berada di ruangan ini bersama perawat bayi, sedikit banyak ia sudah belajar. Bahkan beberapa kali melakukan metode kangguru bersama Ben. Seolah ia adalah ayahnya.


“Ya ada ini yang barusan aku letakkan di dalam boxnya.” ucap Ben santai.


Rasanya aura sang ayah dari Ben memang telah keluar sejak Divine ngidam dan menjaga baby Gio beberapa hari ini, ia merasa seakan sedang bersama anaknya sendiri.


Tok...tok..tok... suara ketukan berasal dari depan pintu. Ben membuka pintu dan ternyata Viona bersama Eza.


Seketika Ben di penuhi barang-barang bawaan dari Eza dan Viona. Sedangkan Viona langsung berhambur kearah Divine.


“Aaahhhh selamat ya sayangku, akhirnya kau memiliki baby dengan perjuangan yang sangat luarbiasa.” Viona memeluk Divine dengan sangat gembira.


“Selamat Gara kau telah menjadi seorang ayah.” ucapan datang dari Eza yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah juga namun tanpa ia ketahui.


“Dimana istri mu? pasti dia sudah hamil kan, karena itu kau tidak membawanya bersama mu?” ucap Gara yang tidak tahu informasi terkini.


Ben melihat saja percakapan itu, namun ia pura-pura tidak mendengar.


.


.


.


Anak Divine punya 2 ayah. Satunya Ben yang seolah-olah bak ayah dari baby Gio. Anak Nilo pun punya 2 ayah. Ayah kandung Eza dan ayah tiri Jerry. Ternyata hidup ini terlalu sempit.


.


.


.


Author sedih lihat jumlah vote.


vote itu tidak harus koin ya. Vote juga bisa pakai poin yang teman-teman dapat gratis hadiah dari mangatoon karena telah menyelesaikan misi membaca.


Sejak author rajin update, votenya malah dikit. apa artinya author di suruh update seminggu sekali kaya dulu yaa (╥﹏╥)

__ADS_1


__ADS_2