
Gara mengajak Ben ikut ke ruang kerjanya. Divine masih duduk di kursi meja makan sambil makan buah apel pikirannya terus berlarian memikirkan apa yang Gara lakukan dengan Ben di ruang kerja, benarkah untuk bekerja atau hanya alasan agar tidak ada yang mengganggu mereka bercumbu, Divine bergidik tak tahan dengan pikirannya.
"Aku harus melihat mereka." gumam Divine.
Divine memikirkan bagaimana menangkap basah mereka. Tak lama ia berpikir raut wajahnya sudah berubah sepertinya sudah mendapatkan sebuah ide cemerlang.
"Ana kemari." Divine memanggil seorang pelayan. pelayan itu pun langsung mendekat pada Divine " Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" kata Ana.
"Tolong buatkan dua gelas teh, siapkan satu toples biskuit dan satu toples kripik ya, toplesnya pakai yang agak besar."
"Baik Nona." ucap pelayannya itu. tak lama yang Divine minta sudah siap.
"Nona ini sudah siap, akan saya antar ke ruang kerja Tuan." kata Ana.
"Oh terimakasih ya Ana, biar aku yang mengantarnya."
Divine mengambil nampan yang berisi dua gelas teh, biskuit dan kripik dari tangan Ana Divine pun berlalu meninggalkan Ana.
Ana bergumam sendiri "Nona Divine sangat baik, dari masih ada Tuan dan Nyonya, dia tetap memperlakukan kami dengan baik, tidak berubah sedikitpun sampai saat ini, walaupun pasti sulit untuknya menerima kenyataan Nyonya dan Tuan sudah tiada, tapi kami tidak pernah melihat kesedihan Nona kecuali dihari kepergian Nyonya dan Tuan, Nona melewati hari berikutnya seperti biasa dia sangat Tegar. hanya rumah ini yang menjadi hening setelah hari itu bahkan sampai hari ini.
__ADS_1
Divine sudah sampai di depan ruang kerja Gara, ia berhenti sebentar dan menarik napas siap melancarkan idenya.
Divine masuk mendorong pintu dengan bahunya, matanya terbelalak terkejut dengan yang ia lihat, Ben sedang menunduk di depan Gara di bawah meja kerja di ruangan itu, Divine segera menaruh nampan yang ia bawa ke meja tersebut dan langsung ingin meninggalkan ruangan itu namun suara Gara menghentikannya.
"Apa kau tidak tau sopan santun?"
"Maaf, tangan ku tidak bisa melepas nampan itu cukup berat untuk di pegang satu tangan." Divine menjawab tanpa berbalik badan ia membelakangi Gara tak sanggup dengan adegan yang baru saja ia lihat.
*A*pa aku bisa melihat adegan ini,kalau aku ketuk pintu terlebih dahulu.
"Ahh ketemu." suara Ben.
Melihat reaksi Divine Gara membaca sesuatu di pikiran Divine.
"Apa kau memikirkan sesuatu yang buruk?"
"Ah tidak, kalau begitu aku pergi dulu maaf menggangu." Divine sangat malu, dan tak ingin wajahnya terlihat, dia pun keluar
dari ruangan Gara.
__ADS_1
Di dalam ruang kerja Gara.
"Kau bilang tidak suka padanya, tapi kenapa tadi waktu Divine baru pulang, kamu bisa meninggalkan permainan mu?" ucap Ben
"Kenapa ?"
"Bagi seorang gamer, hanya sesuatu yang dianggap sangat penting yang bisa membuat seorang gamer meninggalkan permainan di tengah-tengah permainan, hingga tidak bisa menahan dirinya untuk tetap melanjutkan permainan."
"Aku bukan seorang gamer, aku pengusaha."
"Aku tau kamu Gara, sudah bertahun tahun aku bersama mu, ini pertama kali kamu meninggalkan permainan mu karena sesuatu." Ben menyeringai.
"Hah, kau terlalu banyak berpikir."
Ben menaikkan bahunya "Ayo main saja, rencana besok sudah beres."
"Oke. " Gara mengambil handphonenya yang sudah ia bawa saat masuk keruangan kerjanya tadi.
Mereka bermain cukup lama, sering terdengar suara tawa Ben dan Gara di ruangan itu.
__ADS_1