Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 48


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Divine.


Divine sedang membuat sarapan untuk suaminya.


"Pak, semalam waktunya pemadaman listrik di rumah ini kan?" tanya Divine kepada kepala pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Iya Nona benar." jawab kepala pelayan.


"Tapi semalam tidak kan, apa aku yang tidur terlalu pulas hingga tidak mengetahuinya?"


"Tuan Ben memberitahu kami bahwa Tuan Gara tidak suka gelap, sejak saat itu Genset saya sambungkan ke semua penerang di rumah ini Nona termasuk kamar Nona."


"Oh begitu."


Sebenarnya bisa saja kepala pelayan meminta langsung pada yang berwenang atas pemadaman listrik di kediaman Divine agar tidak memberlakukan pemadaman di rumah ini. Namun sudah sedari dulu kediaman ini mengikuti kebijakan Perusahaan Listrik Negara, keluarga ini tetap merasakan bagaimana rasanya menjadi orang biasa.


Dari Keluarga seperti inilah Divine tumbuh, hingga menghasilkan Divine yang sekarang ramah, tidak sombong dan mandiri.


Gara datang dan langsung memeluk Divine dari belakang dan mencium pipi istrinya itu.


"Selamat pagi istriku, kenapa meninggalkan ku?" ucap Gara setelah mencium pipi Divine.


Dia tidak peduli ada siapa saja di dapur saat ini, para pelayan yang melihat tingkah Gara langsung membubarkan diri mencari pekerjaan di tempat lain.


Gara masih memakai piyama tidur, ia merasa ada yang kurang saat membuka mata tidak melihat Divine ada di sisinya, hingga ia langsung turun mencari Divine untuk mengobati rasa yang hilang saat terbangun tadi.


"Aku hanya membuat sarapan, tidak kemana-mana." jawab Divine yang tidak menolak pelukan suaminya itu.


"Besok dan seterusnya tidak boleh, aku mau saat aku membuka mata yang pertama kali aku lihat adalah dirimu." Gara semakin menjadi, ia benar-benar merasa takut kehilangan Divine.


"Lalu siapa yang membuat sarapan untukmu?" jawab Divine santai, ia tidak mengerti bagaimana ketakutan Gara saat ini.


"Biar pelayan saja, yang penting kau selalu di samping ku."


"Hmm..." Divine sudah menyelesaikan masakannya ia ingin melepaskan pelukan Gara. Namun gara membalikkan badan Divine, kini mereka saling berhadapan.


"Sayang, apa kau bisa berjanji dengan ku?" ucap Gara sambil menggenggam kedua tangan Divine di depan dadanya.


"Berjanji apa?"


"Kau tidak akan meninggalkan ku, apapun yang terjadi." ucap Gara dengan sepenuh hati berharap pernikahannya akan baik-baik saja selamanya.

__ADS_1


Kenapa dia jadi aneh begini sih, ini berlebihan, aku senang dia memperlakukan ku dengan baik, tapi rasanya begitu tiba-tiba.


"Hmm, apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Divine.


"Tidak." jawab Gara.


"Kalau memang tidak, kenapa kamu terlalu berlebihan sekarang tidak seperti dirimu yang biasanya?"


"Karena aku baru menyadarinya, ayo sarapan bisakah kau menyuapi suami mu ini?" Gara tak ingin Divine bertanya terus, ia tahu akan semakin banyak kebohongan yang tercipta demi menutupi kebohongan lain.


Gara pun duduk di kursinya, Divine menyeret kursinya agar lebih dekat dengan Gara karena suaminya ini ingin di suapi olehnya.


"Sedang apa kau?" tanya Gara melihat Divine mulai menyeret kursi.


"Jika aku tetap duduk di sini, bagaimana caraku menyuapi mu sayang?"


"Kenapa repot-repot sayang kamu bisa duduk di pangkuan ku, aku mampu menahan berat tubuh mu itu bahkan jika bertambah 2kali lipat." seraya berjalan mendekat pada Divine lalu menggendong Divine.


"Hm, begini sayang, besok dan terusnya tetap di posisi seperti ini saja." ucap Gara yang sudah duduk di kursinya serta Divine di pangkuannya. Divine mengikuti saja keinginan suaminya itu dan mulai menyuapi Gara.


Pantas saja Gara pernah mengatakan pada Ben, ia ingin istri yang mandiri bisa mengerjakan semuanya sendiri tanpa pelayan, jadi ia bebas ingin melakukan apa saja di dalam rumahnya tanpa siapapun yang melihat. Ternyata tingkahnya sangat memalukan, kasihan pelayan-pelayan di rumah ini harus melihat adegan-adegan tidak tau malu Gara.


Sedangkan Gara sangat menikmati saat-saat bersama Divine ia tidak merasakan keberadaan orang lain di rumah ini kecuali mereka berdua.


"Oh sayang, ini masih pagi kau sudah menggoda ku." ucap Gara.


"Ah tidak." Divine tersadar dan menarik tangannya dari dada Gara.


___________________


____________


Hari-hari berlalu Gara yang selalu ingin bersama Divine membuat Divine tak punya waktu sendiri.


Setiap hari Gara selalu mengajak Divine ikut bersamanya. Mereka menjalankan Andava bersama membuat Andava grup semakin maju, semakin banyak menjalin kerja sama dengan perusahaan di luar Asia.


Bercinta pun tidak lepas dari keseharian Gara.


Ia memiliki istri yang cantik dengan body sexy membuat Gara tidak tahan jika sedang memandang istrinya itu apalagi jika Divine sedang mendekat padanya ia akan meluapkan hasratnya, bukan hanya ruang istirahat yang menjadi saksi aksi bercinta mereka namun setiap sudut ruang Presdir ini juga telah menjadi saksi, meja rias Divine pun tak luput dari serangan mereka.


Hingga Ben pun merasa bosan, setiap kali menerima telpon dari bosnya hanya berisi kalimat jangan biarkan siapa pun masuk.

__ADS_1


Sore hari jam kerja pun akan berakhir.


"Sayang apa kau sudah selesai?" Gara mendekat pada Divine dan melingkarkan tangannya dari belakang dan mencium kepala Divine."


Divine masih mengetikkan sebuah email di laptopnya.


"Oke sudah selesai, apa kau ingin pergi dengan Ben?" ucap Divine setelah melihat icon email terkirim di layar laptopnya.


"Ya sayang, tapi aku akan mengantar mu dulu." ucap Gara.


"Tidak perlu sayang, aku ada janji dengan Viona, sudah lama kami tidak bertemu." jawab Divine.


"Kalau begitu aku antar ke tempat kalian bertemu."


Akhirnya Gara pun mengantar Divine ke sebuah restoran dimana Divine akan bertemu dengan Viona.


"Jaga dirimu." ucap Gara setelah mencium kening istrinya. Divine pun turun dari mobil dan melambaikan tangan saat mobil Gara bergerak meninggalkannya.


"Tumben kau membiarkan istri mu jauh dari pandangan mu." ucap Ben meledek Gara.


"Aku rasa dia membutuhkannya, sudah terlalu lama dia hanya terus bersamaku." jawab Gara.


"Baguslah, kalau kau mengerti." ucap Ben.


Mereka pergi ke apartemen Vely, karena sore tadi Vely mengatakan ia mulai mengingat sesuatu.


Cukup lama Divine menunggu Viona, namun Viona tak kunjung datang, Divine sudah menghabiskan satu gelas jus alpukat yang ia pesan. Handphone Viona pun tidak bisa di hubungi hingga Divine memutuskan untuk pulang. Divine berjalan keluar ke halaman restoran.


*A*arrgghhh.. Teriak Divine yang tidak sempat terdengar. Seorang pria membius Divine dan membawanya masuk ke dalam mobil jeep hitam.


"Ya bos, kita sudah mendapatkan seorang wanita,ia pasti dari keluarga terpandang." ucap seorang pria yang membius Divine berbicara di telpon.


"Bawa dia ke Hotel blue kamar 555." Suara seorang pria di balik telpon.


Dua orang penculik itu pun mengikuti perintah orang itu.


Hotel Blue kamar 555.


Seorang pria muda sedang kehilangan kendali ia telah meminum obat perangsang.


Bruukk, Divine ambruk di lantai kamar 555 di dorong oleh dua orang penculik.

__ADS_1


Gara yang sedang bersama Vely dan Ben mulai tak tenang, ia merasa cemas karena sudah mengirim pesan pada Divine namun lagi-lagi Divine tidak membalasnya, ia sudah terbiasa dengan Divine yang seperti itu, namun kali ini Divine tidak membacanya membuat kekhwatiran Gara semakin menjadi.


__ADS_2