Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2- Flashback


__ADS_3

Di dalam mobil hitam yang berhenti di pinggir jalan. Gara Bersandar setelah menarik napas panjang. Telah menceritakan semuanya pada Jerry.


Flashback 5 tahun lalu.


Gara pulang ke rumah sudah malam hari dan tidak ada 1 pun pelayan dan pengawal yang terlihat. Dia mengelilingi seluruh rumah dengan pandangannya.


Soraya datang menghampirinya.


"Kamu baru pulang nak?" Soraya menyentuh lengan Gara.


"Kemana semua orang Bu, Divine dimana?" Walau Gara terus-terusan membuat Divine kesal. Ia sangat peduli pada istrinya itu semarah apapun dia karena terabaikan.


"Tidak usah mencarinya, Dia sudah tidak menginginkan mu." provokasi Soraya yang setiap hari tidak ada kata-kata bagus tentang Divine yang keluar dari mulutnya. Dia selalu membuat Gara semakin cemburu dengan perlakuan Divine kepada Gio.


Selagi Soraya bersama Divine. Dia berkata Gara tidak bisa menjadi ayah yang baik tidak mengerti perasaan Divine. Membuat Divine semakin tenggelam pada kenyataan Gara tidak bisa mengertinya hingga perdebatan terus terjadi diantara mereka.


Soraya pun menyarankan untuk berbagi suami, agar ada wanita lain yang memanjakan Gara dan Divine tetap bisa memanjakan Gio. Nama Vely pun di sebut-sebut sebagai orang yang sangat cocok menjadi istri Gara sebagai orang yang sudah menyelamatkan hidupnya di masalalu.


Gara menatap Soraya membaca apa maksud dari ucapan ibunya. Merogoh kantong jasnya mengambil ponsel.


"Astaga." Gara memejamkan matanya sejenak. Ia mematikan ponselnya beberapa saat lalu karena baru saja melakukan perjalanan dinas dengan transportasi udara bersama Ben selama 2 jam.


Seketika ponselnya berdering tertulis nama pak Ann dan melaporkan apa yang terjadi. Gara kembali keluar dan meminta bantuan polisi yang tidak bisa di tolak walau baru beberapa jam membuka seluruh CCTV jalan sempat terlihat beberapa kali Divine naik turun taksi yang Gara ketahui itu adalah caranya menyulitkan pencarian hingga akhirnya tidak tertangkap CCTV dimana pun.


Divine pun tidak di temukan sejak malam itu.


menyisahkan Gara yang kebingungan hampir depresi. Setiap harinya mencari Divine bersama Ben meninggalkan kantor dan membebankan tanggung jawabnya pada ayah Brav.


Begitulah Gara jika sesuatu menimpa Divine, ia akan mendahulukan istrinya itu selama ini, mengabaikan bisnisnya yang karena memang berada di atas angin. Ia tidak sadar orang yang di percaya adalah orang yang paling mungkin mengkhianati dan menghancurkan bisnisnya.


Hingga suatu ketika Gara datang ke kantor telah duduk seorang wanita di kursinya.


"Gara, apa kau sudah lupa dengan ku? Hah wajar aku merubah semuanya." Dora dengan nada suara mengejek.


Tidak makan waktu lama 1 bulan saham milik Gara telah berpindah menjadi 49% milik Brav dan Dora 51% dengan mudahnya mendapatkan persetujuan Gara yang di selipkan di beberapa dokumen yang harus di tanda tangani.


"Siapa kamu? berdiri dari sana!" tegas Gara dan Ben yang menyaksikan adegan itu.


β€œAku. haha." Dora menjawabnya berbelit-belit.

__ADS_1


Suara email penting masuk terdengar dari ponsel Gara. Menyerahkan ponselnya kepada Ben untuk melihatnya. Gara tidak tertarik untuk memeriksa email saat ini.


"Aku Vely tapi sekarang aku adalah Dora sesuai nama lahir ku." tutur Dora melihat Ben tengah membaca email di ponsel Gara. dengan raut wajah tak percaya.


"Sedang apa kau disini, bukannya kau sudah tidak bisa kemana pun?"


"Mungkin asisten di belakang mu bisa menjawabnya."


Ben menunjukkan laporan perpindahan saham yang baru saja ia baca di email Gara.


Gara melihat sekilas. Matanya bulat sempurna pada 2 nama akun penerima.


"Ayah." keras rahang Gara menyebut sebutan itu. Melangkahkan kakinya menuju ruangan Jerry sebelumnya yang kini menjadi ruangan Brav. Namun ia tidak menemukan ayah Bravijna di sana.


Dora masuk menyusul Gara. "Tidak perlu khawatir seperti itu, kau masih bisa berada di sini jika kau mau menikah dengan ku."


Gara menarik kerah baju wanita yang ia kenal sebagai Vely selama ini. Namun tidak ada gunanya jika ia memukul bahkan membunuh Dora saat itu. Melepaskan tangannya dan pulang.


Gara masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Langsung berjalan menuju kamar ayah Brav dan ibu Soraya. Ia hanya menemukan ibunya dengan mata sembab.


"Gara, ayah mu meninggalkan ibu." belum sempat Gara bertanya. Soraya telah lebih dulu bergelayut pada Gara sambil menangis.


Flashback off disini dulu.


"Apa rencana mu sekarang?" tanya Jerry pada Gara yang sudah kembali melajukan mobilnya.


"Aku sedang mencoba mendapatkan seluruh saham dari Dora dengan memanfaatkan cintanya kepada ku." tutur Gara yang terus melihat ke jalan yang ramai di hari yang sudah tidak begitu panas. Sore hari.


"Aku harap kau tidak melakukan hal yang membuat Divine terluka." timpal Jerry.


Gara diam saja tidak menanggapi ucapan Jerry. Sementara Ben melihat kearahnya.


"Mengapa kau tidak menetap disini Jerry?" alih Ben bertanya pada teman lamanya.


Jerry tersenyum tipis. Mengingat kini ia sudah memiliki anak namun tidak memiliki istri bahkan belum menikah.


"Aku sudah punya kehidupan di sana." singkat jawaban Jerry. Kalau mau di ceritakan akan memakan banyak waktu.


"Bagaimana dengan Eza?" tanya Jerry, ia cukup merasa ingin tahu bagaimana kabar teman yang pernah jadi saingannya itu.

__ADS_1


Ben pun menceritakan. Terakhir kali yang ia tahu kini ia adalah penerus bisnis ayahnya karena kakak Eza yang merupakan pewaris utama sudah pergi mendahului mereka.


"Mungkin sekarang ia sedang sibuk membuat anak, untuk penerusnya nanti. Haha begitulah alur hidup orang kaya." Ben tergelak sementara Jerry tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Begitupun Gara ia tidak punya cukup alasan untuk tersenyum. Hari-harinya hanya di isi untuk bernapas dan menghela napas agar tetap sabar.


Ia berniat menghukum Divine nanti jika semuanya kembali normal. Di tambah ia sudah menemukannya lewat analisis Ben yang baru saja pintar sedikit menjadi hacker.


"Menurut ku, resto Divi tidak benar-benar di jual, ia hidup cukup baik dengan rumah sederhana di dalam gang." Gara kembali melontarkan isi pikirannya.


Ben menoleh kearah Gara begitupun Jerry mengangkat kepalanya yang sedang terpaku pada layar ponsel tadinya.


"Kau yakin? bukan karena sudah memiliki suami baru?" Ujar Ben dengan sengaja.


Gara melirik ke spion dan memutar mobilnya membuat penumpang di dalam nya terkejut lagi. Berjalan masuk ke dalam gang yang hanya cukup untuk di lewati 1 mobil.


Bertepatan dengan sampainya mereka. Ada seorang pria sedang membuka sepatunya masuk ke dalam rumah Divine.


β€œItu Divi." Ujar Ben dari dalam mobil sementara Jerry dan Gara hanya memperhatikan Divi yang sedang berdiri memegang gagang pintu.


"Tapi siapa pria itu?" tanya Jerry melihat pria yang baru saja berdiri dari melepas sepatunya masuk ke dalam rumah Divine.


Gara yang melihat itu sudah membesarkan matanya, tangannya menggenggam erat pada setir mobilnya. Cemburu menguasai dirinya.


"Hah, Divi bahkan menutup pintu." ujar Ben lagi.


Divine yang melihat kehadiran mobil hitam yang beberapa hari ia lihat sebelumnya merasa takut karena itu ia menutup pintunya.


"Om TV kabel ya Ma?" tanya Gio pada ibunya.


"Iya sayang, Mama baru saja meminta untuk menyambungkan TV kabel ke rumah kita." Divine mengelus kepala Gio yang baru saja keluar dari kamarnya.


Mueheheh Jangan cemburu Papa Gara cuma mamang TV kabel kok.


Terimakasih buat yang sudah vote, Gift , like dan koment.


Tapi ranking nya masih sangat jauh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Mungkin memang belum pantas..


yah jadi curhat..

__ADS_1


Oke sekian dan terimakasih sudah mau baca curhat author.πŸ₯°


__ADS_2