Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 38


__ADS_3

Gara menghampiri Divine yang terbaring di tempat tidur.


"Apa, kenapa kamu berbohong?" ucap Divine.


Gara hanya menaik turunkan alisnya


"Apa maksudnya itu?" ucap Divine.


"Apa kau ingin bermain sekarang?" Jawab Gara.


"Bermain, bermain apa? kan kamu bilang aku habis terpeleset sudah pasti aku tidak bisa main." jawab Divine.


Gara tiba-tiba melonggarkan ikat pinggang.


"Hei kamu mau apa?"


"Ayo kamu berpikir ke mana, Aku hanya merasa sesak, hanya mau melonggarkan aja."


Divine memalingkan wajahnya karena malu dengan pikirannya yang tidak-tidak.


Gara beranjak dan menutup pintu kamar dan berdiri di balik pintu ia memandangi Divine yang juga sedang melihat ke arahnya.


Divine semakin bingung apa sih yang sedang dipikirkan oleh suaminya ini. Gara pun menghampiri Divine kembali dan berbaring disamping Divine dia merogoh saku celananya dan mengambil handphone memilih menu game dan mulai bermain pubg kesukaannya itu.


"Apa dia hanya ingin bermain game, kenapa dia harus membohongi yang lain kalau aku sedang terjatuh Apa maksud dia sih."


"Gara kamu bawa aku ke sini cuma untuk lihat kamu main game?" tanya Divine.


Gara hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Divine. sebenarnya itu hanya alasan Gara biar bisa berduaan dengan Divine saja, membalas sikap manja Divine yang minta gendong tadi.


Divine semakin kesal dan ingin turun dari tempat tidur namun Gara menariknya.


"kau mau ke mana?"


"Aku lapar aku mau makan."


"Baiklah tunggu disini akan ku ambilkan."


Gara berjalan dengan handphone tetap dalam pandangannya, berjalan menuju meja makan di mana Nenek Yan, Sena dan Ben sedang makan siang. sesampainya di meja makan Gara tetap tidak melepaskan handphonenya ia masih melanjutkan gamenya.


"Ben tolong ambilkan1 porsi, Divine ingin makan!" ucap Gara.


"Oke baik." Ben pun langsung mengambil sebuah piring dan mengisi nasi dan lauk pauk lalu memberikan kepada Gara.


"Bagaimana keadaan Dia, apa dia baik-baik saja?" Tanya nenek Yan.


"Oh iya Nek dia baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat sebentar aku juga sudah memijat kakinya." jawab Gara.

__ADS_1


Nenek pun mengangguk.


"Kalau begitu aku kembali dulu." ucap Gara.


Shena menghentikan Gara, "Apa kau tidak makan juga kak Gara? makan dulu bersama kami baru antarkan makan Divine." ucap Shena.


"Aku akan mengambilkan untukmu duduklah dulu." tambah Shena.


"Oh tidak perlu Shena, aku akan mengantarkan ini dulu karena dia sudah lapar."


Gara pun meninggalkan meja makan dengan langkah yang cepat karena sebelah tangan nya harus memegang piring dan ia masih bermain di handphonenya.


Gara sampai di kamar tamu, Divine sudah duduk bersandar di tempat tidur. Gara memberikan piring yang berisi nasi dan lauk pauk pada Divine " ini makanlah." ucap Gara seraya duduk di samping Divine kembali fokus pada layar handphone nya.


Rumah Nenek Yan sudah jauh berbeda dibanding saat dulu Gara masih tinggal disini.


sekarang Rumah ini sudah berubah bergaya klasik dengan bahan kayu Ulin untuk lantai dan dindingnya, meja makan, sofa, dan ranjang berbahan kayu jati. Gara lah yang merenovasi rumah Nenek Yan ini setelah ia meraih kesuksesannya beberapa tahun yang lalu.


Divine sudah mulai menikmati makan siang nya. "kamu gak makan?" tanya Divine.


Namun Gara tidak mendengarnya ia hanya diam terlalu fokus dengan game di handphone nya itu.


Beberapa kali Divine memanggil Gara namun hasilnya sama.


Akhirnya Divine merebut handphone gara dengan cepat Gara mengambilnya kembali.


"Apa kamu tidak makan?" tanya Divine.


"Ya nanti!"


Divine menyodorkan sendok di depan mulut Gara, Gara melihat Divine sebentar dan Divine menaikkan alis nya, lalu Gara membuka mulut, Divine menyuapi Gara berulang kali sampai nasi di piring nya habis.


Gara yang begitu fokus di layar handphone nya hanya membuka mulut menguyah dan menelan makanan tidak memperhatikan apa yang di suap kan oleh Divine bahkan dia tak sadar kini makanan nya sudah habis.


Divine meletakkan piring di meja samping tempat tidur nya dan meminum air puti yang sudah tersedia sambil memperhatikan Gara.


Dia menyodorkan jari telunjuk nya di depan mulut Gara dengan jari yang lain menggenggam seperti sedang menyuapi menggunakan tangan dan Gara membuka mulutnya dan mengemut jari telunjuk Divine, seketika Gara sadar dan menangkap tangan Divine hingga Divine tidak bisa menarik tangan nya, Gara terus ngemut jari Divine dengan lembut hingga ia melepaskan handphone nya dan lanjut mencium tangan Divine.


"Kau senang sekali menggoda ku, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Gara yang sudah mendekatkan wajah nya di depan wajah Divine, dan berulang kali menciumi punggung tangan Divine.


"Ah tidak, aku hanya suka mengganggu mu saat bermain."


"Kalau begitu aku akan bilang, aku juga senang bersama mu semalam, bolehkah aku mengulang nya sekarang?"


Wajah Divine mendadak merona mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gara.


"Kenapa wajah mu jadi memerah begitu?" tanya Gara.

__ADS_1


"Ah apa iya?" Divine meraba wajahnya.


"Sudahlah lanjutkan saja PUBG mu tadi." sambung Divine.


"Sudah ga mau,aku mau kamu sekarang."


"Hah, kita bukan sedang di rumah."


"Apa itu, artinya kalau di rumah boleh, kapan pun aku mau?"


"Kenapa semua kata-kata ku jadi salah sih, ada aja jawabannya."


"Kecoa !" teriak Divine. hingga Gara mengangkat kaki nya dari lantai dan Divine masuk dalam selimut.


Divine selalu saja mengalihkan pembicaraan saat dia tidak bisa menjawab suaminya itu.


"Hei kamu berbohong, ayo perlihatkan wajah mu!"


"Gak mau." ucap divine dibawah selimut.


"Buka gak, sebelum kau menyesal?"


"Apa? dia mau melakukan apa, pasti hanya menggeretak ku saja."


"Gak, aku gak mau!"


Divine tetap tidak mau menunjukkan wajahnya.


"Aku akan hitung sampai 3, jika kamu tidak membukanya jangan salahkan aku." ucap Gara. seraya meraba kaki Divine.


"Ah dia mau apa sih kenapa sekarang meraba kaki ku, mungkin sebaiknya aku buka saja, mungkin saja dia benar-benar akan membuatku menyesal jika tidak menurut kali ini."


Gara sudah mau mulai menghitung namun Divine langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.


Gara menangkap Divine dan menggulingkan Dirinya, hingga Gara terbaring di tempat tidur dan meletakkan Divine di atas tubuhnya melingkarkan tangan di pinggang Divine dan tangan Divine berada di depan Dadanya.


Divine tak mampu bertatapan dengan Gara, hingga ia memilih membenamkan wajahnya di dada Gara. Gara mengusap - ngusap punggung Divine sesekali memainkan rambut Divine.


"Apa kau mau buat aku tertidur?" ucap Divine.


Dasar Divine tidak bisa diam ada saja yang ia ucapkan.


"Apa! kau mau “tidur“ dengan ku?" jawab Gara.


"Ya ampun, kalau tau aku akan diam saja tadi."


"Maksudku, sewaktu kecil ayah dan ibu sering mengusap punggung ku agar aku tertidur." jawab Divine yang sudah mengangkat kepalanya menatap Gara.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan mengusap dan meraba yang lain saja" jawab Gara.


__ADS_2