
Divine seolah santai saja, ia pun mengajak Gara untuk makan siang.
Tibalah Gara dan Divine di sebuah restoran bergaya klasik sedikit jauh dari kota mirip dengan rumah Nenek Yan seluruh bagian terbuat dari kayu ulin kecuali lantai dan atapnya. Terdapat pemanggangan besar di depan restoran itu, saat mereka turun dari mobil aroma wangi rempah yang sangat menggoda langsung memanjakan hidung Gara dan Divine.
Gara pun sangat penasaran, sepertinya lidahnya akan sangat cocok dengan makanan disini, tanpa menunggu waktu lama Gara langsung menarik tangan istrinya untuk segera berjalan mendekat dan masuk ke dalam restoran yang bergaya klasik ini.
"Wah Nona Divine, selamat datang Nona." ucap seorang wanita yang sudah mulai menua.
"Terimakasih Bi." jawab Divine dengan sangat ramah dan senyum yang begitu tulus di bibirnya.
Gara yang masih kebingungan karena melihat wanita yang sudah tidak muda itu lagi mengenali istrinya, ia lanjut memilih meja yang akan ia tempati untuk makan tanpa bertanya apapun pada Divine. Gara dan Divine jatuh pada meja bundar satu-satunya di restoran itu yang berada di tengah restoran ini, restoran ini cukup luas, ada lumayan banyak pengunjung restoran saat ini yang sedang menikmati hidangan mereka.
Divine permisi meninggalkan suaminya itu untuk duduk sendiri dan meminta Gara ntuk tetap diam di kursinya. Divine mengatakan, ia akan kembali dan membawa makan siang untuknya.
Gara pun menuruti pinta Divine, ia hanya melihat Divine dari jauh tanpa bisa berkomentar di depan Divine.
Lima belas menit berlalu, Divine datang membawa nampan berisi steak dan pelayan lain menghidangkan makanan pelengkap steak yang di bawa oleh Divine.
"Divine kau luar biasa sekali, memanggang steak dengan cara yang kuno dan kau melakukannya sendiri, apa kau tidak lelah?"
Gara sudah sangat tidak sadar untuk segera mencicipinya, sedari tadi ia memperhatikan istrinya, ia terkagum-kagum, mungkin baru kali ini Gara benar-benar melihat Divine membuat makanan, memberi rempah-rempah dan berbagai minyak ke dalam masakannya.
Terlintas di pikirannya, dirinya benar-benar salah dulu berpikir wanita keturunan bukan orang biasa ini hanyalah anak manja, Gara pun mengingat pernah berkata pada Ben, mau memberikan istrinya ini kepada asisten pribadinya itu. Gara bergidik saat mengingat apa yang telah ia ucapkan pada Ben.
Untung saja tidak terjadi, Gara pasti akan sangat menyesal bila itu telah terjadi.
"Sudah, kagumnya nanti saja, cepat cicipi ini adalah steak daging domba muda yang aku panggang sendiri,"
Belum selesai Divine berbicara, Gara sudah mencicipi dan melahap irisan pertama steak daging domba itu dengan mata berbinar-binar.
"Wow Divine, ini steak yamg terenak yang pernah aku makan." ucap Gara setelah menelan irisan daging pertama sambil memotong steak daging domba itu lagi.
Dagingnya yang lembut, rasa rempah-rempah terpadu dengan sangat pas, dengan tingkat kematangan yang luar biasa membuat steak daging domba ini sangat berbeda.
"Kalau begitu, nikmati sampai kamu puas, aku yang traktir." ucap Divine seraya meletakkan tangan di dagunya, ia menopang dagu melihat Gara makan dengan sangat lahap.
__ADS_1
Setelah melahap beberapa irisan steak, Gara memotong lagi dan menyodorkan steak itu di depan bibir Divine.
"Ayo makan, kau hanya melihat ku, aku jadi seperti orang yang tidak pernah makan saja."
Gara tertawa cukup besar, sangat berbeda dari tawa yang pernah Divine lihat.
Jika seperti ini, dia terlihat tidak sedang menyembunyikan sesuatu, tapi aku tahu ada yang kau sembunyikan dari ku.
Divine membuka mulutnya dan menerima Gara menyuapinya. Gara terus menikmati makan siangnya dan menyuapi Divine hingga menghabiskan 3 steak.
"Sepulang nanti aku akan memberi tahu Ben ada steak yang rasanya seenak ini."
Ternyata selain berbagi pekerjaan, Gara dan Ben juga saling berbagi informasi makanan enak, hampir saja juga berbagi istri, untungnya Tuan Gara yang rada “Geser” ini masih ada bagian yang waras.
"Kenapa resto ini tidak terkenal, sepertinya tidak pernah ada yang mengendorse tempat ini." Gara mengingat rasanya tak pernah membaca atau melihat informasi tentang tempat ini. "Siapa pemiliknya, apa kamu tahu, aku ingin membelinya?" ucap Gara lagi.
"Kenapa ingin membelinya?" tanya Divine penasaran.
"Aku akan membuka cabang di kota-kota besar, pasti resto ini akan sangat ramai dan menjadi pemasukan yang sangat bagus." Gara mengambil dan meminum lemon tea miliknya.
Gara tersedak mendengar ucapan Bibi Wen. Divine langsung memberikan segelas air putih pada Gara agar ia berhenti tersedak.
"Terimakasih bi Wen." ucap Divine. Bibi Wen pun berlalu pergi meninggalkan Divine dan Gara di meja makan bundar itu.
"Ini milik mu Divi?" tanya Gara lagi penasaran ia menerima banyak surprise dari Divine hari ini.
"Ya begitulah," jawab Divine sambil melihat dan memperhatikan laporan keuangan di tangannya.
"Tapi seingat ku ini tidak ada di data asset milik Andava grup."
"Karena ini milik ku pribadi, aku membagunnya saat aku lulus SMA, bahkan ayah dan ibu ku tidak sempat melihatku telah memiliki dan menjalankan sebuah bisnis resto dari nol." seketika suasana menjadi haru.
Tak ingin terbawa suasana dan membuat Divine menjadi sedih Gara melewatkan perihal ayah ibu Divine yang tak sempat melihat jerih payah Divine yang membanggakan.
"Kenapa kamu harus bersusah payah lagi, kamu sudah memiliki segalanya? tanya Gara.
__ADS_1
"Itu milik ayah ibu ku, bahkan sekarang sudah ku serahkan padamu, jika nanti kau membuang ku, aku bisa hidup dari resto yang ingin kau beli ini, aku tidak akan menjualnya haha." Divine tertawa karena ucapannya.
"Sebaliknya, aku yang takut kau yang akan meninggalkan ku nanti." ucap Gara serius sambil mencium tangan Divine.
"Dan aku menjadi janda miskin yang tidak memiliki apa pun, jika di buat sinetron akan berjudul, gadis kaya berujung menjadi janda miskin akibat di tipu sang suami haha." Divine tertawa lagi, obrolan mereka di selingi canda tawa, Gara berhasil membuat Divine tidak jadi bersedih.
"Itu tidak akan terjadi pada mu sayang." ucap Gara yang masih memegang tangan Divine.
"Apa iya? apa aku bisa mempercayaimu, saat ini saja kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?" ucap Divine dengan senyum penuh ejekan.
"Tidak, jika memang ada, kau pasti akan tahu nanti."
"Semoga saat itu belum terlambat."
"Jika itu terlambat, kau akan jadi janda miskin, haha." Gara tertawa mengejek balik istrinya itu.
Percakapan penuh canda dan terdapat keseriusan di dalamnya.
"Lalu, kemana aliran omset resto ini, apa kamu juga punya rekening pribadi?"
"Aku tidak akan memberitahu mu, nanti kamu akan mengurasnya juga, dan aku akan menjadi janda miskin beneran."
"Ssstt jangan berkata seperti itu lagi." Gara menempelkan jarinya telunjuknya di bibir Divine agar Divine berhenti bicara.
Divine menarik tangan Gara turun dari bibirnya.
"Tidak, semua keuntungan setiap bulannya semua di sumbangkan ke panti asuhan,panti jompo dan pembangunan-pembangunan tempat ibadah." ucap Divine.
"Kau menyumbangkan semuanya?" tanya Gara lagi.
"Ya, setelah menggaji seluruh karyawan, kebutuhan untuk bahan makanan selama sebulan ke depan, semua sisanya akan di sumbangkan, lagian aku masih sangat cukup dengan Andava grup, ya selama kau masih mau menanggung ku." jawab Divine.
"Aku akan menanggung mu selamanya termasuk dosa-dosa yang telah kamu lakukan." seketika Gara memeluk Divine sangat erat menempelkan pipinya pada pipi Divine di tengah ramainya pengunjung resto, ia benar-benar kagum pada istrinya itu.
Bersambung...
__ADS_1