
“Kenapa bisa begitu ya jeng?”
“Sudah sering jeng hal seperti itu, jadi kalau kita merasa ga yakin, tunggu saja beberapa hari, lalu periksa lagi.”
“Iya jeng bener, menantu saya kemarin periksa di 2 dokter di hari yang sama, hasilnya sama rahimnya kosong, karena menantu saya terus mengalami mual muntah saya bawa periksa lagi dan hasilnya benar menantu saya sedang hamil.”
“Wah iya jeng?”
Saat Ben keluar dari ruangan Divine, ia bertemu dengan 3 orang ibu-ibu yang sedang mengobrol sambil berjalan melewati koridor rumah sakit.
Seketika Ben merasa semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Divine. Walau Ben tahu, apapun yang akan ia dapatkan, faktanya janin itu sudah tiada.
Setidaknya aku bisa tau sesuatu, yang mungkin bisa membantu Gara dan Divine.
Ben pun mengambil ponselnya dan mencari 1 kontak teman yang mungkin bisa memberi jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya.
“Halo Ryo.” ucap Ben.
“Hay Ben, lama tak berjumpa.” suara seorang pria bernama Ryo di balik telpon.
“Apa kau ada waktu, aku ingin bertemu dengan mu, ada sedikit yang mau aku tanyakan?”
“Aku baru selesai melakukan operasi, aku masih di rumah sakit untuk bersiap pulang.” ucap Ryo.
“Kalau begitu aku langsung, ke ruangan mu saja.”
“Owh kau di rumah sakit ini juga, baiklah aku tunggu.” jawab Ryo lalu memutus sambungan telpon mereka.
Tak begitu lama, Ben sudah menemukan ruangan Ryo.
Ben pun masuk setelah Ryo membukakan pintu untuknya.
“Bagaimana kabar mu Ryo, apa kau sudah memiliki pacar?” tanya Ben.
“Hah, pertanyaan macam apa itu?” jawab Ryo, dan mereka pun tertawa kecil bersama.
Ben pun mengutarakan cerita yang sedang Divine alami kepada Ryo.
Ryo seorang spesialis kandungan sudah tak kaget lagi dengan cerita yang ia dengar dari Ben.
Ryo mengatakan hal itu sudah biasa terjadi dan meminta Ben untuk tidak menyalahkan dokter yang memeriksa kehamilan sebelumnya.
Ryo pun bercerita memiliki beberapa pasien yang sebelumnya memeriksakan kehamilan mereka pada dokter lain dengan hasil negatif, namun hanya jarak beberapa hari mereka datang menemuinya dan mendapatkan hasil yang berbeda. Selain itu Ryo juga menceritakan beberapa pasiennya pun berawal dengan hasil negatif saat melakukan pemeriksaan padanya, namun setelah beberapa hari memeriksakan pada dokter lain dan mendapatkan hasil positif.
“Hasil tespect tidak bisa begitu membuat orang percaya, padahal tespect juga sangat akurat, karena itu banyak sekali dari mereka setelah melihat hasil positif,mereka akan mendatangi SPOG atau spesialis kandungan untuk memastikan kembali.” ucap Ryo.
“Aku sudah menduga-duga dokter itu melakukan kesalahan, dan mungkin Gara akan membuat hidupnya tak mudah.” ucap Ben.
__ADS_1
“Cepatlah kau jelaskan pada teman mu itu, hal ini sudah biasa terjadi.” ucap Ryo.
“Pasti dokter itu sudah berpesan untuk datang kembali , mengulang pemeriksaannya.” tambah Ryo dengan sangat yakin.
“Terimakasih Ryo, kau sangat membantuku.”
“Ya Ben, tidak perlu sungkan seperti itu.”
“Juga katakan padanya, jika kegugurannya terjadi dengan sangat alami, tanpa tindakan medis untuk membersihkan sisa-sisa yang ada di rahim, kemungkinan untuk hamil kembali itu bisa sangat mudah dan cepat.” jelas Ryo lagi.
“Wah, kau sangat detail Yo, pasti banyak wanita hamil yang suka dengan mu.” ucap Ben.
“Ahh kau bisa saja Ben.”
“Kalau begitu aku pergi dulu, terimakasih sekali lagi.”
“Tunggu, kita bisa bersama, aku juga ingin membesuk teman mu itu.”
“Ah ya, aku merasa beruntung memiliki teman seperti mu.” ucap Ben.
Ben dan Ryo pun berjalan bersama menuju ruangan Divine.
Sesekali Ben melihat ponselnya namun panggilan dari kantor atau pun Gara tidak terlihat di ponselnya, bahkan pesan teks pun tidak ada dari bosnya hari ini, padahal selama ini rasanya chat WhatsApp di ponsel Ben sudah seperti kertas catatan bosnya itu.
Ben dan Ryo pun sampai dan masuk ke ruang rawat Divine.
“Hm Ben, setelah Jerry mendengarkan semuanya.” jawab Divine.
“Baguslah, kenalkan Div ini teman ku Ryo, dia ingin menjenguk mu.”
Ryo muncul dari balik badan Ben saat Ben sudah memperkenalkan dirinya.
“Halo, Divine.” Divine menjulurkan tangannya.
“Halo, Ryo.”
Mereka pun bersalaman dengan mata saling bertatapan.
“Ohh kau Ryo.” jawab Jerry.
“Ya benar Jerry, dia dokter muda yang sangat di gemari, apa kau mengenalnya?” ucap Ben.
Jerry tiada henti tertawa, Divine hanya menutup mulutnya, ini cukup menghibur hatinya yang sedang terluka. Karena kisah masa lalu yang tiba-tiba hadir di saat seperti ini.
“Ah ya aku mengenalnya, kau harus tau cerita ini Ben.” ucap Jerry sambil menahan tawanya.
“Hei Jerry, sudahlah, aku menyesal datang kesini.” ucap Ryo.
__ADS_1
“Ah kau, semakin membuat ku penasaran saja.” ucap Ben.
“Lama tidak bertemu Div, sangat di sayangkan pertemuan pertama kita setelah sekian lama,malah di tempat seperti ini, aku ikut sedih atas yang kau alami.” ucap Ryo memutus canda tawa Jerry dan mengabaikan Ben.
“Hmm Terimakasih Yo, bagaimana kabar mu?”
“Baik saja, namun belum menikah sampai saat ini.” jawab Ryo.
“Biar ku perjelas Divine sudah menikah, ia berstatus istri sekarang.” Jerry memperjelas status Divine hanya untuk mengejek Ryo.
“Hah ya, kau tidak perlu memperjelas itu.” ucap Ryo menahan rasa malunya.
“Ryo, ceritakan pada ku, aku sungguh sangat penasaran.” ucap Ben seraya mendorong pelan bahu Ryo, berharap Ryo akan menceritakan sesuatu padanya.
Namun Ryo diam saja, ia sangat enggan berbicara cerita masa lalu yang cukup memalukan itu.
“Ben apa kau tidak kembali ke kantor, tidak mungkin kita berdua meninggalkan kantor di saat bersamaan, terlebih dengan kondisi Gara saat ini.” ucap Jerry bertanya pada Ben saat ia melihat jam istirahat sudah berlalu.
“Kau saja, kau bisa menangani semuanya.” ucap Ben.
“Kau saja, mungkin juga Gara sedang membutuhkan mu sekarang.” ucap Jerry.
Ben dan Jerry pun terus berdebat tidak ada yang mau mengalah.
“Kalian pergilah, aku tidak mengapa di sini.”
Jerry dan Ben pun langsung diam dan menuruti permintaan wakil Presdir itu.
“Ayo Ryo, kau juga ikut pulang bersama kami.” Ben menarik tangan Ryo.
“Bagaimana bisa, aku saja belum berbicara pada Divine?” ucap Ryo.
“Ah ya kau benar.” ucap Ben. lalu pergi bersama Jerry meninggalkan Divine bersama Ryo.
Ryo pun memberi penjelasan kepada Divine seperti yang ia jelaskan pada Ben.
“Semua salah ku, aku terlalu gegabah dan tidak percaya pada suami ku.” ucap Divine setelah mendengar penjelasan Ryo.
“Tidak Div, kau masih muda dan wajar kau tidak banyak tau soal kehamilan.” Ryo menenangkan Divine agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.
“Seharusnya aku mendengarkannya.” ucap Divine lagi.
Ryo menepuk pundak Divine, tanpa berkata apa pun.
Ia mengerti perasaan Divine yang saat ini.
Divine merasakan sakit hati yang begitu dalam karena telah membunuh anaknya sendiri di tambah suami yang tidak mendampingi di saat seperti ini, perasaan depresi sudah menghampirinya.
__ADS_1