Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 18


__ADS_3

Inah sontak turun dari tempatnya duduk ketika piring-piring itu berubah menjadi beling di lantai. Tangannya seakan reflek untuk segera membersihkan pecahan piring itu.


“Stop!” pekik Bian langsung menangkap tangan Inah yang sudah hampir menyentuh benda tajam itu yang bisa saja akan melukai jari-jemarinya yang panjang.


Inah tertegun begitupun Jovana saudarinya dan Sarah ibunya yang juga tidak kalah terkejut karena apa yang Bian lakukan.


Sarah dan Jovana saling bertatapan. Mereka ragu akan ucapan Inah sebelumnya melihat sikap Bian yang terlihat begitu peduli.


“Jangan sentuh itu, kamu bisa terluka.” ucap Bian lagi masih memegang tangan Inah lalu mengangkat telponnya yang sudah berdering beberapa saat.


Tidak sampai satu menit Bian sudah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan menunduk pamit pada semua orang disana serta menarik Inah ikut bersamanya.


“Bapak,Ibu kakak, maafkan aku sepertinya ada sesuatu yang mendesak.” ucap Inah hanya sempat mencium tangan ayahnya, lalu pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Ayah Inah, Joan, hanya bisa tersenyum sembari menyematkan doa untuk putrinya itu ketika Inah pergi. Sementara Jovana dan Sarah mengekor dan bersembunyi di balik jendela untuk melihat mobil yang Inah gunakan.


“Astaga Ibu, apa yang sudah kita lakukan, aku tidak rela Bu!” Jovana menyayangkan bukan dirinya yang dibukakan pintu dan masuk ke dalam mobil mewah nan mengkilap yang ada di depan matanya.


“Tapi tadi Inah bilang pria itu bukan suaminya.” Sarah masih terus memandang keluar hingga mobil Bian sudah tidak terlihat lagi.


Jovana meroboh ke lantai bersandar pada bilik rumahnya, tidak bersemangat. “Apa ibu tidak melihat reaksi pria itu!”


Sarah pun terdiam. Dia tidak bisa memungkiri sikap Bian yang begitu cepat untuk melindungi Inah layaknya seorang suami yang ingin melindungi istrinya.


“Apanya yang lebih baik Bu! kesempatan itu tidak datang dua kali, dan aku memberikan kesempatan pertama ku pada Inah si jelek itu.”


Lagi Sarah tidak bisa membantah kalimat putrinya itu, dia hanya memegang pundak Jovana seakan memberi kekuatan untuk bersabar.

__ADS_1


“Aku tidak mau seperti ini, aku akan mengambil yang memang seharusnya milikku.” Jovana bangun dari lantai. Dia bertekad untuk mengambil miliknya kembali. Melangkah besar masuk ke dalam kamarnya. Teringat bagaimana dia membantu Inah untuk berada di posisinya saat ini.


“Bodoh-bodoh, kenapa aku sangat bodoh.” Jovana mengetuk-ngetuk dahinya dengan dua jari, di benaknya terlintas bagaimana dia memberi pelayanan terbaik, merias wajah Inah dengan semua peralatan makeupnya yang tidak murah hanya untuk mengantar minuman untuk tamu yang datang.


Kala itu, Gara tengah bertamu untuk pertama kalinya setelah berbicara pada Joan sebelumnya di telpon. Gara mengatakan untuk mempersunting seorang putrinya untuk putranya yang tidak biasa.


“Arrgghhh.” Jovana berteriak. Terngiang kalimat ibunya. “Sayang, kau ingin menikahi pria mapan bukan, seorang keluarga konglomerat akan datang besok untuk mencari seorang menantu untuk putranya, tapi putranya tidak biasa, autis.” Sarah berkata pelan pada kata autis. Bahkan Jovana sangat ingat bagaiman ibunya itu berbicara.


Hingga akhirnya Jovana berbohong pada Inah, dengan mengatakan seseorang dari keluarga kaya memilih dirinya. Menangis tersedu-sedu untuk dirinya yang tidak terpilih sebagai menantu keluarga kaya seperti yang Jovana inginkan. Nyatanya Jovana-lah  yang tidak ingin dinikahkan dengan pria tidak biasa yang tidak sama dengan pria normal lainnya.


“Arrghhh” Jovana berteriak lagi, rasa sesalnya semakin menjadi. Dia keluar dari kamarnya menghampiri Sarah yang baru saja selesai membersihkan pecahan piring karena ulahnya.


“Ibu, ibu tau kan! dimana Inah tinggal?” Jovana mau tinggal bersama Inah, aku kakaknya bukan, dia tidak akan menolakku. Aku punya banyak alasan dan akan punya banyak cara jika tinggal serumah dengan mereka.” Jovana mengguncang pundak ibunya, begitu yakin dengan apa yang akan ia lakukan.

__ADS_1


“Rasanya tidak mungkin sayang, mereka tinggal bersama kedua mertua Inah.”


“Aku akan membuat diriku terlihat menyedihkan, hingga ibu mertua atau ayah mertua Inah akan iba melihatku.” melipat kedua tangannya melihat kearah lain, seakan telah melihat gambaran dirinya berada di tengah keluarga baru Inah dengan tersenyum lebar.


__ADS_2