Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 49


__ADS_3

"Beres Bos, wanita itu sudah berada di kamar 555." penculik berbicara di telpon.


Vely yang terus-terusan mengerang karena sakit kepalanya yang sebentar hilang dan sebentar sakit membuat Gara tidak bisa meninggalkan Vely.


Cuplikan-cuplikan masa lalu Vely terlintas di ingatannya. menurut Ben keadaan seperti ini biasanya penderita amnesia sedang mengingat masa lalunya hingga membuat kepalanya sangat sakit. Karena ucapan Ben itu Gara menjadi penasaran, ia ingin tahu apa yang sedang Vely ingat namun tidak bisa bertanya sekarang. Gara hanya bisa menunggu Vely tenang dan tidak merasakan sakit lagi barulah ia bisa bertanya pada Vely.


Sedangkan di kamar 555. Pria muda yang sudah hilang kendali sudah berada di samping Divine menyentuh kaki Divine menatap wajah Divine yang tidak bisa dia kenali,pandangannya buram, karena tingginya dosis yang ia konsumsi hingga tidak bisa mengenali wajah orang lagi.


Seperti sudah di rencanakan obat dengan dosis tinggi dan dibawakan seorang wanita.


Divine tersadar saat lengan bajunya di robek. Ia terkejut melihat orang di depannya. Sedangkan Pria itu sudah ingin menciumi Divine yang berada di lantai.


Seketika Divine mengangkat tangannya dan menampar keras pria itu. Namun tamparan Divine seolah perlawanan manis dari Divine, Pria ini benar-benar hilang kendali.


Gara masih menunggu Vely tenang yang baru saja berhenti berteriak karena kepalanya kembali sakit.


"Ben, aku sangat khawatir pada Divine, tidak biasanya dia tidak membaca pesan ku." ucap Gara yang sangat tidak tenang, ia terus berpindah tempat dari sofa berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam apartement Vely.


"Kau seperti tidak tau saja Bos, bagaimana kalau wanita sudah berkumpul." jawab Ben dengan tenang, yang ia tahu jika wanita sudah berkumpul semua hal akan di bahas dari hal yang penting sampai yang tidak penting dan akan tertawa terbahak-bahak lupa dengan di sekitarnya.


"Untung lah kau tidak ikut," tambah Ben.


"Kenapa?"


"Kalau kamu ikut, bisa-bisa kamu jadi tukang foto, atau kamu langsung ngajak pulang karena merasa terabaikan haha." Ben tertawa membayangkan itu terjadi pada Gara.


"Hmm, apa kau tau Ben siapa teman Divine yang sedang bertemu Divine malam ini?"


"Ya Viona, nama yang tadi siang kau sebut, ia juga dari kalangan atas, memiliki banyak salon yang tersebar di indonesia, bahkan di hari pernikahan kalian pun, Divine memakai jasa Viona.


Ben sudah seperti mesin pencarian data, apa saja yang Gara inginkan, Ben akan mendapatkan semua informasinya, termasuk Divine mungkin secara teori Ben lebih mengenal Divine daripada Gara. Ben selalu menyiapkan semuanya sebelum di minta, ia begitu detail dalam menjalankan pekerjaannya tidak akan membuat Bosnya itu menunggu.


Gara kembali menghempaskan bokongnya di sofa tanpa sengaja ia menduduki remote tv yang membuat Televisi di apartemen Vely menyala yang bersamaan dengan erangan Vely karena kepalanya kembali sakit.


Gara dan Ben pun beranjak dari Sofa untuk menghampiri Vely.


"Sebuah kecelakaan terjadi yang mengakibatkan pengusaha salon Nona Viona mengalami luka berat." suara terdengar dari televisi, yang membuat Gara dan Ben menoleh ke arah televisi. Tanpa berpikir panjang Gara dan Ben meninggalkan Vely, bergegas secepat mungkin menuju mobil yang mereka sendiri tidak tau akan berjalan ke arah mana.

__ADS_1


Vely yang sedang kesakitan tak sadar telah di tinggal oleh Gara dan Ben.


"Divi, kumohon jangan biarkan apapun terjadi padamu." ucap Gara penuh penyesalan telah membiarkan Divine pergi seorang diri.


Mereka berjalan dengan sangat cepat bahkan menunggu pintu lift terbuka pun rasanya membuat emosi Gara memuncak karena terasa sangat lama.


Akhirnya Gara dan Ben pun sampai di parkiran, Gara yang biasanya selalu di bukakan pintu oleh Ben, kini ia membuka pintu mobil itu sendiri dan duduk di depan di samping Ben dimana ia biasanya selalu duduk santai di belakang.


Ben mengemudikan mobil tanpa tau arah tujuannya. ia hanya berpikir berita tadi hanya menyebut Viona. Sedangkan Gara sudah menghidupkan televisi di mobil itu untuk melanjutkan mendengar berita, tangannya pun tak henti-hentinya menelpon Divine namun tetap tak ada jawaban.


"Halo pak, saya ingin bertanya kecelakaan yang melibatkan Nona Viona, apakah ada korban lain?" Ben berbicara di telpon.


"Ya seorang wanita sebaya dengan Nona Viona." jawab seorang kepala polisi di balik telpon.


"Terimakasih pak informasinya," jawab Ben dan mengakhiri telponnya.


Apa yang akan ku katakan pada Gara begitu pikir Ben ia sedang mencari sebuah berita yang tidak akan membuat Gara terkejut seraya mematikan televisi di mobil itu.


"Kenapa kau mematikannya, apa kata kepolisian, apa sudah ada berita selanjutnya?" Suara Gara bergetar penuh ketakutan. Dia tak sanggup jika harus kehilangan Divine apalagi untuk selamanya bahkan tidak dapat melihatnya lagi.


Ben diam belum menjawab pertanyaan Gara, ucapan Gara semakin membuatnya tak mampu berkata sebenarnya.


"Kenapa kau diam Ben?" tanya Gara.


"Tiga menit aku mau informasi, apakah Nona Divine ada di restoran xx?" Ben kembali berbicara di telpon.


Gara tidak bisa berpikir, di dalam pikirannya hanya Divine, Divine dan Divine.


Ben mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat dengan tempat terjadinya kecelakaan.


Mereka pun sampai di rumah sakit dan dengan cepat meninggalkan mobil mereka.


Ponsel Ben berdering.


"Katakan!" ucap Ben. Seorang pengawal menjawab di balik telpon "Nona tidak ada di restoran xx." Ben langsung memutus sambungan telpon dan bergegas menghampiri Gara yang sudah berada di area IGD.


Ben pun bertanya-tanya pada bagian IGD apakah korban kecelakaan ada yang beridentitas Divine, namun mendapati jawaban tidak ada dari para petugas jaga.

__ADS_1


"Tidak Ben, Divi tidak ada disini, aku bisa merasakannya." Gara berlari menghampiri Ben.


"Apa kau yakin Gara?"


"Ya aku sangat yakin, aku sudah terbiasa bersamanya."


Bahkan Gara tau jika Divine berada di balik pintu. Ia bisa merasakannya sejak kebersamaan mereka, saat Divine kembali dari pantry untuk membuat minum untuk mereka, pada hitungan ketiga Gara selalu benar, Divine masuk membuka pintu ruang presdir mereka.


"Tiga menit temukan dimana keberadaan Nona Divine!" Ben berbicara lagi dalam telpon. seraya berjalan kembali ke mobil mereka.


"Tuan, Nona dibawa oleh sebuah mobil jeep hitam." jawaban di balik telpon.


Ben terlalu buru-buru mematikan telpon dari pengawal rumah tadi, padahal belum selesai memberikan informasi.


"Hah apa!" Ben terkejut mendengar Divine dibawa oleh sebuah mobil. Pikirnya Divine di culik, lalu menghela napas merasa sedikit lega, ini lebih baik paling minta tebusan begitu pikir Ben.


"Gara tenang saja, Divine hanya di culik." ucap Ben santai.


"Apa kau bilang, santai, jika ia hanya di culik, penculiknya sudah sejak tadi menelpon ku!" Gara mengangkat kerah baju Ben dengan kedua tangannya.


Ben pun tersadar dan kembali pada telponnya "Dimana Nona sekarang?"


"Cctv menunjukan Jeep itu menuju hotel Blue." jawaban dibalik telpon yang di dengar langsung oleh Gara. Gara merebut ponsel Ben.


"Segera kirim lokasi tepat Divine saat ini." ucap Gara dengan keras.


"Apa yang terjadi pada mu Divine, maafkan aku." ucap Gara meratapi kegagalannya.


Bersambung...


__________________________________


Selamat hari Raya idul fitri 1441 H


minal aidzin walfaidzin


mohon maaf lahir & batin.

__ADS_1


__ADS_2