
Makan malam sudah berlalu. Gio tidak pernah mencela atau merendahkan Inah. Dia tampak lebih baik dari ayahnya dulu. Walau selama makan malam dia juga tidak mengajak bicara istrinya. Dia cenderung diam saja. Menyadari keberadaan Inah namun tidak merasa terusik olehnya. Mungkin karena memang Gio benar-benar menerima pernikahannya ini.
Gio sudah pergi terlebih dahulu. Sementara Inah dengan lancar membersihkan meja makan tanpa suara berisik gesekan piring atau sendok sedikitpun. Entah karena dia berhati-hati atau karena dia terbiasa.
Gara tersenyum melihat Inah dan melirik ke arah istrinya. Sudah tau apa yang sedang Gara sombongkan pada Divine. Pilihannya adalah yang terbaik.
"Sayang, kau tampak sangat mahir, apa kau terbiasa mengerjakannya?" tanya Divine melihat hasil yang Inah kerjakan.
Inah hanya tersenyum, dan sedikit menganggukkan kepalanya.
Mungkin di dalam hati Inah kini sedang mengoceh seperti ini "Karena itu aku lebih cocok jadi pelayan di rumah ini, bukan menjadi istri dari putra kalian yang tak habis jika hendak di lukiskan dengan kata-kata. Apa belum cukup dongeng Si cantik dan si buruk rupa hingga harus membuat cerita baru si tampan dan si buruk rupa" Emot nangis.
"Mbak Anni, tolong ya." ucap Divine. Setelah Inah berlalu ke dapur. Anni sudah tau apa maksud dari Nona Divinya itu yang sampai saat ini masih stay dengan panggilan yang sama.
Membiarkan apa yang ingin Inah lakukan namun tetap dalam pengawasan mbak Anni menjauhkan dari semua pekerjaan berat. Itu maksud ibu mertua Inah.
"Emm bentar, aku mau lihat Inah ke belakang dulu." ucap Divine sembari menepuk pelan pundak Gara.
"Kenapa, menantumu gak akan hilang di rumah ini, sudah sini aja."
Brukk, Divine terduduk di pangkuan Gara. Tubuh Divine rasanya masih tetap kecil di tangan Gara. Dengan satu tarikan saja dia bisa menarik Divine yang tengah berdiri di sampingnya seketika masuk dalam pangkuannya.
"Err, kita ke kamar aja dah kalau begini." Ajak Divine yang masih sering malu dengan seluruh penghuni rumah.
Padahal seluruh mata di rumah ini sudah terbiasa. Walau terus merasa iri dengan keromantisan pasangan tua itu. Dan menepuk jidat mereka jika mendengar dan melihat pertengkaran ayah dan anak hanya perkara kalimat "ibuku".
"Ini baru selesai makan lho, sayang gak sakit perut kalau langsung diatas." lantur Gara.
Pakkkk.... Divine menepuk paha Gara dengan lima jari dimekarkan.
"Sebentar lagi sudah mau punya cucu, ingat umur. Dah ah." Divine beranjak meninggalkan Gara. Ia sedikit berteriak memanggil Inah memberitahunya untuk istirahat.
__ADS_1
Gara menyusul istrinya meletakkan tangan di pundak Divine bak merangkul seorang teman.
"Ngomong-ngomong, sudah lama rasanya gak dengar kamu marahin anak-anak." cakap Gara.
Divine diam tidak menimpali ucapan Gara.
"Mungkin juga Gio.mau punya adik."
"Gak usah ngada-ngada sayang. Ini dah waktunya Gio punya anak bukannya punya adik." jelas Divine. Cape rasanya kalau terus ladenin ocehan suaminya itu.
Gara diam. Ia memikirkan betapa ramainya nanti jika Gio punya anak, sementara dia tidak memiliki anak yang bisa di timang dan diajak bermain seperti Gio bermain dengan anaknya nanti.
Emm gak gitu bapak Gara. Nanti kakek bisa main sama cucu. Gak usah ngadi-ngadi alasannya. Sudah ya bapak Gara, sampai sini paham ya.
Inah telah selesai dan dia pun berjalan kembali menuju kamarnya. Berhenti di depan pintu kamar Gio dengan raut wajah cemas.
Padahal Gio tidak pernah memarahi atau menyakitinya. Hanya perasaannya saja yang membuatnya terus takut.
Suara langkah kaki membuat Inah menoleh. Gio tiba dengan buku di tangannya. Melewati Inah dan masuk ke dalam kamar.
"Emm." Gumam Inah melihat pintu yang masih terbuka seakan membiarkan Inah untuk masuk. Dia pun memberanikan diri melangkahkan kaki mungilnya untuk masuk.
Inah yang tidak merasakan kehadiran Gio di sekitarnya. Mengangkat wajahnya dan melihat keseluruh penjuru mencari keberadaan pria yang terlebih dulu masuk ke dalam kamar ini sebelumnya tadi.
Apa dia sedang mandi, kenapa begitu rajin?
Gumam Inah. Dia memandangi tempat tidur Gio yang tidak begitu besar. Queen size.
Ingin merebahkan tubuhnya disana. Inah bergidik. Dia tidak memiliki keberanian itu.
Rasanya dia benar-benar berada di tempat yang salah. Inah pun berjalan menuju sofa. Dia berpikir untuk tidur disana. Langkahnya mencepat ketika mendengar suara pintu tertutup dari dalam walk in closet.
__ADS_1
Inah berbaring di atas sofa hingga tidak terlihat. Ia mematung dengan tangan bersedekap di dadanya.
Pikirannya berlarian pada masa-masa terakhir sebelum dirinya berakhir di rumah ini. Mengingat Kakak perempuannya yang juga belum menikah dengan wajah yang jauh lebih cantik darinya. Bertanya-tanya, kenapa bukan kakaknya yang terpilih. Pikir Inah kakaknya lebih cocok untuk menjadi menantu di rumah ini. Istri dari pria tampan dan kaya seperti orang itu. Gio.
Pasti ada yang salah. Kakak sangat ingin menikah dengan pria tampan dan kaya terlebih ibu. Batin Inah.
Sepanjang malam Inah asik dengan pikirannya. Menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya yang tidak ada bagus-bagusnya secara tiba-tiba menjadi istri dari pria yang bisa dikatakan idaman semua wanita.
Tak sadar waktu terus bergulir. Hingga pukul 4 pagi. Inah masih saja berpikir. Sementara Gio sudah tenang di atas tempat tidurnya. Inah pun tidak berpikir untuk menghapus riasannya. Dia benar-benar tidak memiliki keberanian itu. Hingga kantuk membawa matanya terpejam di saat hari sudah hampir pagi.
Pagi hari di meja makan.
"Sayang, Inah kenapa tidak turun?" tanya Divine.
"Ehemm..." Gara berdehem. Tidak suka dengan kalimat istrinya.
"Hah, mau sampai kapan seperti itu terus suamiku, Gio sudah menikah sekarang." sanggah Divine dengan raut wajah malas.
Namun Gara diam saja. Dia tidak peduli. Sayangnya Divine hanya untuk dirinya saja dan juga anak-anak perempuannya. Tidak berlaku untuk Gio dan anak lelaki lainnya.
"Masih tidur Ma."
Jawaban Gio membuat Gara tersenyum, sementara Divine mengulum bibir menahan dirinya agar tidak tersenyum.
"Sejak kemarin dia pakai make up ya Ma, Mama gak kasih tau dia kalau sebelum tidur sebaiknya membersihkan wajahnya." Sepertinya sebelum keluar dari kamar. Gio menyempatkan diri untuk melihat Inah yang sedang tidur di sofa.
"Ahh anak Mama perhatian sekali. Baiklah nanti akan Mama beritahu Inah." sahut Divine sepertinya dia lupa apa yang mungkin Gio ketahui saat ini.
"Tapi kenapa Mama, kamu sendiri kan bisa." tambah Divine. Dia benar-benar melupakannya.
Gio diam saja. Divine mulai memahami. Rasanya terlalu cepat jika Divine berpikir hubungan Inah dan putranya sudah sampai sejauh yang dia dan suaminya pikirkan.
__ADS_1