
Malam telah berlalu, cukup lama mereka menikmati cuaca malam di halaman belakang.
Dengan kuatnya Gara kembali menggendong Divine saat kembali ke kamar, berjalan cukup jauh dan menaiki anak tangga untuk sampai ke kamar mereka, namun Gara sangat bersemangat saat menggendong Divine, ia tau akan ada hadiah setelah ini, melakukan hal yang harusnya sudah terjadi dari kemarin.
Kini pagi hari, Gara baru saja turun dan berjalan ke meja makan, dari kejauhan tampak Ben sudah memperhatikan Gara.
“Ceria sekali wajahnya hari ini, sangat berbeda pada hari kemaren,” gumam Ben saat melihat Gara berjalan mendekat ke arahnya, tampak wajah Gara yang begitu segar dengan aura kebahagiaan.
“Pagi Ben, pagi sekali kau disini,” ucap Gara, rasanya ini kali pertama ia menyapa terlebih dahulu.
Bahkan dia menyapa ku terlebih dahulu, pasti ini karena Divine, benar-benar hebat. celoteh Ben dalam hatinya.
“Ini sudah jam 10, bahagia sekali kau hari ini Bos,” ucap Ben.
“Jomblo ga bakal ngerti,” ucap Gara dan duduk di di kursinya. “Sudah jam 10 ya, oh biasa lah kalau kesiangan,” tambah Gara lagi dengan santainya.
Ben yang mendengar ucapan Gara, jiwanya seakan meronta-ronta merenungi status jomblo yang melekat padanya, sudah setua ini ia belum pernah merasakan bagaimana menjalani hubungan.
__ADS_1
“Apa hubungannya wajah bahagia mu sama kejombloan ku?” ketus Ben.
“Yaitu jomblo sih, jadi ga ngerti.”
Aaaarrrghhh Ben semakin ingin teriak rasanya, ucapan Gara menusuk hatinya.
Pikiran-pikiran nakal memasuki pikirannya, terlintas sebuah kencan buta yang membuat tubuhnya bergidik.
“Oh pagi sayangku, kau selalu cantik,” ucap Gara saat Divine tiba di meja makan.
“Ya sayang selamat pagi, selamat pagi Ben.” Divine menjawab sapaan suaminya dan beralih menyapa Ben yang juga duduk di meja makan.
Gara dan Divine pun mulai menikmati sarapan mereka yang baru saja di hidangkan oleh pelayan, sedangkan Ben sudah sarapan jam 8 tadi saat pelayan sudah menghidangkan sarapan namun Tuan dan Nyonya mereka belum turun juga.
Baru saja Divine meletakkan gelas susunya, ponsel Gara berdering, sebuah panggilan masuk ke telponnya, Seketika Gara pun menerima panggilan itu. Gara hanya berkata ya ya selama berbicara di dalam telpon. Ben dan Divine bergantian saling memandang, seolah berkata ada apa, karena raut wajah ceria Gara seketika berubah saat menjawab panggilan tersebut.
Sebentar saja Gara menerima panggilan itu namun Ben dan Divine seolah merasa sesuatu yang tak baik telah terjadi.
__ADS_1
Gara pun meletakkan ponselnya setelah panggilan berakhir. Ben dan Divine pun hanya menatap ke arah Gara, tak bertanya, mereka hanya diam namun pandangan Ben dan Divine sangat terbaca oleh Gara bahwa mereka ingin tahu.
“Nenek Yan telah kembali,” ucap Gara.
Divine dan Ben semakin tidak mengerti, namun pikiran mereka berkata lain.
"Maksudnya apa, aku tidak mengerti?” tanya Divine untuk memastikan.
Ben mengangguk-angguk saat Divine bertanya pada Gara menunjukkan bahwa dirinya juga tidak mengerti.
“Ya, Nenek Yan tidur semalam namun tidak bangun lagi saat pagi,” ucap Gara menjelaskan.
Divine dan Ben hanya bisa terdiam saat mendengar ucapan Gara. Divine mengingat saat dirinya berkunjung ke rumah Nenek Yan, kebaikan nenek Yan, dan kondisi Nenek yang masih sehat walau sudah tua renta. Divine tau Gara sangat terpukul, bagaimana pun ia pernah hidup cukup lama bersama Nenek Yan.
Divine berdiri dari tempat duduknya beranjak menuju dimana Gara duduk. Divine memeluk pundak Gara dari belakang, seakan menguatkan suaminya itu.
“Pergilah sayang, ini kesempatan mu melihat Nenek untuk terakhir kalinya,” ucap Divine lembut.
__ADS_1
Walaupun tak terhindar pikiran Divine mengingat Shena yang suka bergelayut di lengan Gara, kini hanya akan seorang diri di tempat itu.
Akankah Gara membawanya ke sini?