Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 54


__ADS_3

Tak lama datang seorang pelayan ke kamar Ben untuk membereskan peralatan makan Gara dan Ben, Saat itu Gara baru saja masuk ke dalam kamar mandi hingga tidak bertemu dengan pelayan yang datang. Gara pun keluar dari kamar mandi, ia hanya melihat punggung pelayan itu di depan pintu saat pelayan itu keluar.


"Apa pelayan itu mengatakan sesuatu?" tanya Gara.


"Tidak." jawab Ben tanpa beralih dari layar ponselnya.


Ben sedang duduk di sofa, sejak tadi menatap layar ponselnya, membaca email yang tertuju padanya dan membuat catatan-catatan di ponsel untuk memudahkan dirinya mengingat apa saja yang harus ia kerjakan nanti. Karena tak ingin kehilangan fokusnya dia pun menjawab pertanyaan Gara tanpa melihat ke arah bossnya itu.


Sejak Gara menjadi presdir Andava Grup, semakin banyak hal yang harus ia ketahui, pekerjaannya bertambah 2 kali lipat, Namun karena adanya Jerry, ada banyak hal yang dia cukup tau dan Jerry lah yang mengerjakan. Karena itu Ben selalu berkomunikasi dengan Jerry.


Jerry lebih dekat pada Ben, sebenarnya Jerry juga selalu berlaku baik pada Gara. Namun Gara seolah tak begitu suka dengan Jerry, karena itu Jerry lebih sering menyampaikan semua pekerjaannya atau ide-idenya pada Divine dan Ben.


Ben masih terfokus pada layar ponselnya. namun raut wajahnya terlihat santai tidak seperti tadi saat membaca email dahinya mengkerut-kerut tidak jelas.


"Ayo mabar?" ucap Ben. Suaranya semakin pelan di akhir kalimat karena melihat tidak ada orang lain di kamar itu.

__ADS_1


kemana dia, ke toilet lagi, apa dia diare? Ben menyengir seraya berjalan ke arah kamar mandi, namun Ben menemukan pintu yang tak terkunci ia pun menengok ke dalam, pintu toilet pun terbuka.


Pufft, pasti sedang menghampiri Divi. Ben menahan tawanya. Apa yang sedang dia lakukan ya, memang dia bisa merayu?


"Hahaha." tawa Ben keras di dalam kamarnya.


Pikir Ben Gara akan merayu Divine untuk makan, sedangkan Divine sudah makan. Ditambah Gara yang sedang marah pada Divine membuat Ben tak mampu membayangkan apa yang sedang Gara lakukan.


"Aku tidur disini saja malam ini, biar saja Vely di sana, cewe manja itu pasti sudah menelpon ku sejak tadi jika ada sesuatu." Ben bergumam sendiri seraya berjalan ke arah tempat tidur.


Gara ternyata masih berdiri di depan pintu kamar Divine dengan nampan di tangannya berisi seporsi makan malam dan air minum.


Gara berpikir apa yang harus ia katakan, beberapa kali ide muncul di kepalanya namun lagi-lagi gengsinya itu mengalahkan keinginannya.


Ternyata Ben sangat penasaran dengan apa yang akan Gara lakukan. Kini Ben tengah berdiri memperhatikan Gara dari kejauhan.

__ADS_1


"Puftt, sampai kapan mau disitu terus?, cepat masuk, lihat apa yang akan aku lakukan nanti." Ben menahan tawanya melihat tingkah Gara yang begitu gengsi namun juga begitu peduli terhadap Divine.


Ucapan Ben seolah sampai pada Gara, seketika Gara masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Divine duduk bersandar di tempat tidur sambil menatap layar ponselnya.


Divine melihat Gara masuk membawa sebuah nampan yang terus berjalan ke arahnya, Divine pun langsung berdiri, berjalan ke arah Gara mengambil nampan di tangan Gara.


"Ada apa? apa kamu mau makan disini?" ucap Divine, ia berpikir Gara yang ingin makan makanan yang Gara bawa.


"Makan itu!" jawab Gara dengan serius, menyuruh Divine makan.


"Tapi," jawab Divine, namun Gara langsung menyelanya.


"Makan! kalau kau menolak, aku akan keluar dari rumah ini." sela Gara, ia mengancam Divine dengan ia akan pergi dari rumah ini.


"Dengarin aku dulu," ucap Divine seraya menaruh nampan di atas meja di dekat tempat tidur.

__ADS_1


"Aku tidak akan menarik ucapan ku." ucap Gara dengan tegas yang sangat berbeda dengan ucapan di hatinya. Beraninya *masih membantah, apa dia ga perduli, apa dia memang mau aku pergi, oh tidak Divine, jangan biarkan aku pergi, cepat bilang iya aku mau makan sekarang*.


Bersambung......


__ADS_2