Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 93


__ADS_3

Gara menarik Divine untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Divine hanya diam begitu pun Gara, membuat suasana menjadi mencekam seolah jika ada yang bersuara sedikit saja akan tertembak mati.


Ketika sampai di rumah, suasana ceria yang biasa seisi rumah rasakan saat kedatangan mereka yang di penuhi suara canda tawa tak terdengar lagi, kedatangan mereka kali ini mampu mengubah suasana hangat di dalam rumah menjadi sangat dingin seolah akan membeku karena raut wajah mereka yang sangat tampak di mata semua orang.


"Pak Ann, kumpulkan semua pelayan!" ucap Gara tegas tanpa melepas tangan Divine. Jelas sekali bahwa itu bukan gandengan tangan kemesraan mereka di tambah suara Gara yang terdengar sangat serius.


Gara berdiri tegak sejajar dengan Divine.


Divine hanya diam dengan wajah datar.


Dalam beberapa detik semua pelayan telah berkumpul di depan Gara dan Divine dengan berbaris rapi.


"Apa kah saya pernah mengkhianati Nona Divine di rumah ini?" tanya Gara dengan suara keras tanpa basa-basi kepada semua pelayan rumah.


Namun tak ada jawaban, tak ada sedikit pun suara terdengar, bahkan mungkin para pelayan sedang menahan napas mereka karena ketakutan.


"Siapa saja yang bisa menjawab saya, akan saya beri hadiah berupa libur selama 1 bulan penuh dan membayar Gaji kalian 2 kali lipat." Gara tenang mengucapkan perkara hadiah.


Menurut Gara beberapa orang bahkan rela berbohong demi sebuah hadiah.


Namun ternyata seluruh pelayan tetap tidak bersuara apalagi menjawabnya.


"Wah wah, kalian sungguh orang terpilih, sangat bisa di andalkan untuk menyembunyikan rahasia." ucap Gara dengan tujuan memprovokasi Divine seolah Gara telah meminta para pelayan tutup mulut.


Namun Divine bukannya berbicara karena ucapan Gara, ia malah pergi meninggalkan Gara dan semua pelayan yang tengah berkumpul.


Gara mengejar Divine menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar mereka.


Sebelum masuk ke kamar mereka, Gara berhenti sejenak dan melihat ke bawah dari lantai 2, ia memberi perintah bahwa para pelayan boleh di bubarkan.


"Apa yang ingin kamu dengar dari mereka, kau mempermalukan kehidupan mu sendiri." ucap Divine setelah Gara masuk ke dalam kamar.


"Aku tidak merasa bersalah apalagi malu, dan aku tidak akan malu untuk hal apa pun menyangkut dirimu." ucap Gara dengan sangat percaya diri bahwa dirinya memang tidak melakukan kesalahan apalagi pengkhianatan.


"Baiklah, aku akan bertanya." suara Divine pelan.


"Aku menunggu mu bicara sejak tadi."


"Dimana Shena?" tanya Divine.


"Kau malah bertanya tentang Shena, saat ini pasti ia sedang di kantor." Jawab Gara pikirnya hal yang sama sekali tidak ada hubungannya. Jika ia bertanya Vely mungkin saja seseorang telah melihat dirinya bersama Vely hingga menimbulkan dugaan-dugaan yang salah.

__ADS_1


Kau pun tau, dimana Shena saat ini.


Divine kembali diam, ia sangat kesal melihat Gara yang pura-pura tidak tau. Karena Shena bekerja di Andava, sudah pasti hari kerja begini ia berada di kantor.


Cemburu berlebihan membuat semua hal di depan mata menjadi salah.


"Tunggu," ucap Gara setelah menelaah sejak kapan sikap Divine berubah dan pertanyaan Divine tentang Shena.


"Apa kau berpikir aku bersama Shena malam itu?" tanya Gara pelan, sungguh malu ia mengucapkan hal menjijikan itu.


"Lalu?" Divine menjawab dengan cepat.


Tok...tok..tok... terdengar suara ketukan di balik pintu kamar mereka. Gara dan Divine pun menengok ke asal suara. Mereka memikirkan hal yang sama, siapa yang mengganggu mereka di saat yang sangat tidak tepat begini.


Pelayan yang melihat kejadian malam itu tengah menunggu di depan pintu kamar dengan seluruh tubuh yang bergetar ketakutan.


"Pergi!" ucap Gara dan Divine bersamaan.


Pelayan itu semakin ketakutan mendengar ucapan dari orang yang selama ini menggajinya dan tidak pernah bermasalah dengan para pelayan, di pecat adalah hal yang mungkin saja terjadi. Ia tak berani menjawab suara dari dalam kamar itu, ia mundur dan kembali tanpa menjawab terlebih dahulu.


Gara menarik tubuh Divine ke dalam pelukannya, kini ia tahu apa yang membuat istri yang sangat ia cintai itu bersikap seperti bukan istri yang ia cintai selama ini.


Hati Divine seketika mencair merasakan pelukan Gara yang begitu tiba-tiba memeluknya.


Divine ingin melepaskan dirinya namun ia juga merasa sangat nyaman dalam pelukan suaminya itu, terlebih Gara memeluknya sangat erat sehingga Divine tidak bisa melepaskan diri hanya untuk mengikuti egonya itu.


Beruntunglah Divine karena Gara memeluknya dengan erat, ia menjadi memiliki alasan untuk tidak melepaskan dirinya, bagaimana pun ia sangat merindukan suaminya itu seakan sudah sangat lama ia terpisah dengan Gara. Berada di dalam pelukan Gara membuat Divine semakin merasakan rindu yang sangat dalam, tanpa di sadari air mata Divine mengalir dengan sendirinya.


Gara terus memeluk Divine dan membelai lembut kepala Divine hingga cukup lama. Divine hanya diam namun wajah Gara tampak sangat senang. Gara merasa Divine sangat lucu kali ini karena diam-diam cemburu padanya dan bersikap di luar dugaan.


"Hey sayangku," ucap Gara melihat ke wajah wanita di depannya, seraya mencubit hidung Divine.


Namun Divine diam saja pipi dan hidungnya memerah karena menangis.


Gara kembali memeluk Divine, ia tersenyum melihat wajah cantik itu menjadi sangat menggemaskan.


Rasa kangen dan cemburu datang di saat bersamaan begitu pikir Gara hingga ia tersenyum.


Entah bagaimana kalau sampai saat ini aku belum mengerti, inilah mengapa aku tidak berhubungan dengan wanita sejak dulu.


Gara bergumam sendiri di dalam hatinya, ia bersyukur karena tidak pernah pacaran sebelumnya, mungkin dirinya tidak akan sempat meraih kesuksesan hanya untuk mengerti seorang wanita setiap hari, pikir Gara.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar lagi, kali ini di iringi suara dari pak Ann " Tuan, ada sesuatu, sepertinya ini penting."


"Masuklah!" ucap Gara setelah menggendong Divine ke tempat tidur dan menyelimuti kaki Divine.


Pelayan wanita itu masuk di antar oleh pak Ann, lalu kembali keluar setelah sedikit membungkuk ke arah Gara bertujuan untuk pamit meninggalkan pelayan wanita itu sendiri, dan menutup pintu kamar.


Gara diam saja menunggu pelayan itu berbicara.


"Maaf mengganggu Tuan, Nona tadi saya tidak hadir." pelayan itu berbicara dengan menunduk ia tidak berani melihat ke arah Gara dan Divine.


Para pelayan masih memanggil Divine dengan sebutan Nona karena Divine masih sangat muda dan Divine pun tak pernah mempermasalahkan hal itu.


Pelayan tersebut sedang diare hingga saat seluruh pelayan di kumpulkan ia tidak hadir karena berada di dalam toilet saat hendak hadir pun perutnya kembali mules.


"Tuan, Nona Divine melihat Tuan duduk di tempat tidur kamar Shena pada malam Nona Divine kembali dari rumah sakit." sambung pelayan itu dengan cepat dari ucapan pertamanya, ia takut ia akan di usir sebelum memberitahu maksud kedatangannya.


Gara hanya mengangguk, seolah meminta pelayan itu terus melanjutkan ucapannya. Gara masih belum tau di titik mana hingga menimbulkan kecemburuan pada Divine.


Divine diam mendengarkan ucapan pelayan itu, karena Divine ingat ia bertemu dengan seorang pelayan malam itu.


"Waktu itu pun saya berpikir, Tuan melakukan suatu hal yang buruk, namun saat saya kembali, pintu kamar itu masih terbuka dengan suara air yang masih terdengar." ucap pelayan itu masih dengan menunduk.


Gara tersenyum tipis, ia menemukan titik utamanya.


"Oke sudah cukup." ucap Gara.


"Tidak, lanjutkan lagi." ucap Divine.


Mereka tidak tau rasanya jadi pelayan yang berdiri di antara ke 2 Bos itu, yang sewaktu-waktu bisa pingsan karena tekanan dari aura mereka.


"Nona, kamar mandinya kosong, shower di kamar mandi terbuka, dan Nona Shena juga sudah tidak kembali ke rumah ini sejak Nona di rawat." pelayan itu mengucapkan inti dari keseluruhan sebagai wanita ia mengerti apa yang ingin Bosnya itu dengar.


"Terimakasih." ucap Gara, ia sudah tak tahan ingin pelayan itu cepat keluar.


Pelayan itu pun membungkuk ke arah Divine dan Gara untuk pamit undur diri.


Setelah pelayan itu keluar. Gara melompat ke tempat tidur lalu tengkurap dengan menopang dagu di depan Divine yang setengah duduk di tempat tidur.


Gara tersenyum lebar hingga tertawa. Ia menertawakan istri pecemburunya itu.


"Hahaha, sayang jangan marah-marah lagi ya." ucap Gara seraya mencolek hidung Divine.

__ADS_1


Divine memukulnya dengan bantal, lalu Gara berbaring berbantalkan paha istrinya itu menatap wajah Divine yang juga sedang menatapnya.


__ADS_2