Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Mengajak Divine Periksa


__ADS_3

Cahaya terang sudah menembus kaca-kaca di rumah ku memasuki seluruh ruangan. Menerpa ku penuh dengan rasa hangat yang sedang berdiri di balkon memandangi hijaunya halaman rumah dan menghirup udara segar.


“Yang...” suara pelan sedang memanggil ku.


“Sayaaaaang.” suara itu semakin keras. Suara yang sudah sering kali ku dengar bahkan hampir setiap hari.


“Hemm.” sahut ku dari balkon dengan suara yang bisa di dengar olehnya.


Tak lama seseorang yang memanggil ku tiba menghampiri ku. Memeluk ku. Melingkarkan tangannya di pinggang ku dan menaruh wajahnya di pundak ku. Dia Gara, suamiku.


“Aku tau kamu tidak bisa jauh dari ku, karena itu aku memeluk mu sekarang.” ujarnya setelah beberapa saat memeluk ku lalu menarik ku duduk di kursi yang ada di balkon di atas pangkuannya.


Bukankah seharusnya dia berkata, dia lah yang tidak bisa jauh dari ku.


Sudah dua tahun menikah dengan ku, dia belum juga turun dari takhtanya sebagai Raja Gengsi.


“Ya aku yang tidak bisa jauh dari mu." jawab ku dengan memutar kedua mata ku ke atas.


Cup...


Ciuman pagi hari mendarat di bibir ku.


“Kalau begitu,” mencium hidung ku.


“Jangan," mencium pipi kanan dan kiri ku.


“Ke mana-mana lagi,” mencium mata kanan dan kiri ku.


“Saat kau bangun terlebih dahulu.” mencium kening ku. Dengan tangan yang masih melingkar di pinggang ku.


Itulah hukuman yang selalu aku terima, jika aku tidak ada di dalam matanya saat ia terbangun.


“Sepertinya kau sangat menyukai hukuman mu ini, karena itu kau berulang kali melanggarnya." tutur Gara dengan mengatupkan kedua tangannya di pipiku.


Aku menciumnya sekilas namun dengan sangat lembut, hingga saat melepas ciuman itu hampir mengeluarkan suara desah.


Gara membuka mulutnya, terlihat aku sedang membangkitkan gairahnya.

__ADS_1


Seketika Dia menggendong ku di depan dadanya, membawa ku dan merebahkan tubuh ku di tempat tidur.


Aku menyentuh dadanya yang sedari tadi terbuka. Napasnya semakin menderu dan Dia tidak melepaskan ku lagi hingga ia merasa puas.


“Itu hukuman karena sudah menggoda ku.” ucap Gara setelah terlentang di samping ku. Lelah namun terlihat sangat puas.


Kalau hukumannya seperti ini, ya aku akan selalu menggoda mu.


Hueek.. Aku berlari ke kamar mandi dengan tubuh polos. Aku tidak dapat menahan rasa mual ku yang tiba-tiba datang lagi.


Gara pun langsung mengikuti ku untuk melihat ke adaan ku. Setelah muntah aku merasa lebih baik dan Gara mengajak ku untuk berendam dengan campuran essential oil lavender bersamanya.


Ini adalah kesukaan ku, namun entah sejak kapan suamiku juga mulai menyukainya.


Aku duduk membelakanginya, tangannya membelai perut ku yang rata.


“Sayang, ruang USG di lantai bawah sudah siap di gunakan dari 2 Minggu yang lalu, ayo kita lihat dia.” ajak Gara padaku yang sudah sangat ingin melihat juniornya.


Gara sudah dari 2 Minggu lalu mengajak ku untuk melakukan pemeriksaan. Tapi Aku belum memiliki keberanian. Takut. Untuk melakukan pemeriksaan setelah apa yang terjadi pada tahun lalu.


“Apa kau yakin sayang?” tanyaku padanya dengan menunjukkan wajah cemas ku.


Gara yang tidak suka berada di tengah orang banyak yang menatapnya dengan pandangan mesum terlebih setelah memiliki istri, ia semakin tak suka jika ada mata pria yang tidak ia kenal menatap ke arah istrinya, aku Divine Nona Bos.


“Tak perlu takut sayang, aku selalu bersama mu.” Ujar Gara menggenggam tangan ku penuh keyakinan.


“Baiklah.” sahut ku mantap.


Setelah cukup lama berendam dan selesai, kami bersama-sama masuk ke ruang pakaian. Aku hanya menggelengkan kepala ku melihat suamiku melepaskan piyama handuknya begitu saja dan berjalan-jalan di dalam walk in closet atau ruang penyimpanan pakaian dan aksesoris dengan tubuh polos sembari menunggu ku memilih pakaian untuknya. Dia benar-benar sudah tidak punya malu di depan ku.


“Sayang.” ku tegur dia dengan wajah cemberut.


“Kenapa? kan sudah sering lihat.” ucapnya santai berdiri di depan ku.


Wajah ku memerah malu atau sesuatu yang lain entahlah.


“Kalau aku jadi mau lagi gimana?” ceplos ku begitu saja karena itulah rasa yang ingin keluar dari mulut ku.

__ADS_1


“Tentu saja, aku akan menyenangkan mu, aku sangat kuat sayang.” dengan tubuh polosnya ia sudah menyandarkan ku pada sofa di dalam ruang penyimpanan ini.


“Tidak-tidak sayang, aku hanya bercanda." aku bangun dari sofa mendorong lembut tubuh Gara dan menjauh darinya segera mengambil baju.


Bagaimana bisa, aku sudah sangat lelah dan ia masih ingin mengerjai ku.


Aku pun dengan cepat memakai pakaian ku.


Segera aku keluar dari ruang itu lalu mengeringkan rambut ku. Gara yang melihat ku mengeringkan rambut segera merebut hairdryer dari tanganku dan membantu ku.


“Kan sudah aku bilang ga usah." ujar ku pada Gara. Rambut ku menjadi kusut karena ulahnya.


“Tapi aku mau membantu mu sayang.” ucapnya dengan bertingkah manja, ia terlihat benar-benar ingin membantu ku.


“Iya-iya nanti tapi ya, kan kita mau bertemu dokter, kasihan jika ia menunggu lama.” aku, Divine selalu kalah pada Gara, suamiku saat ia bersikap manja.


“Kita sudah membayarnya mahal.” timpalnya.


“Sayang, tidak semua tentang uang.” aku pun menimpali tak setuju dengan Gara.


Kami pun keluar dari kamar. Mata yang tak asing sudah memperhatikan kami saat tiba di lantai bawah. Ben.


“Pagi Nona bos, apa stok mangga mu masih ada? Aku membawakan lagi untuk mu.” ucap Ben tersenyum dengan menunjukkan kantong plastik berisi mangga muda pada ku yang kata semua orang, aku adalah orang yang ramah dan memiliki hati yang lembut gampang tersentuh.


“Apa kau ingin membuat istri ku sakit perut?” sela Gara yang baru saja duduk di kursinya.


“Bukan untuk di makan sekarang bos, sudahlah kau tidak tau.” sanggah Ben dan ingin menyudahi percakapan terlihat dari gerakkan tangannya.


Aku menarik bibir ku lebar. Bosan dengan perdebatan-perdebatan mereka yang selalu saja terjadi.


“Aku memilih Dr. Stella yang akan bertanggung jawab untuk pemeriksaan Divine hingga melahirkan.” ucap Ben pada Gara.


“Kenapa kau yang memutuskan?” Dahi gara mengkerut ke arah Ben.


“Karena dia lah yang terbaik di kota ini.” Ben mengeluarkan senyum yang sama seperti ku. Ku tebak pasti dia juga bosan dengan Tuan bosnya itu.


Akhirnya Ben memberikan amplop coklat berisi data dokter kandungan kepada Tuan bosnya itu periksa.

__ADS_1


Ia terus memperlihatkan beragam ekspresi saat melihat file yang Ben berikan.


“Ini pilihanku, Dr.Stella.” ucap Gara seolah yang ia pilih berbeda dengan pilihan Ben sementara Ben menghela napas berdamai dengan dirinya.


__ADS_2